Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenang Eban Totonta Kaban, Aktivis HIV/AIDS Medan yang Tutup Usia
Eban Totonta Kaban (Dok. Pribadi)
  • Eban Totonta Kaban, pegiat sosial Medan Plus, wafat pada 14 Juli 2026 dan dikenang karena dedikasinya mendampingi pengguna narkoba serta ODHA selama lebih dari dua dekade.
  • Rekan-rekannya menggambarkan Eban sebagai sosok tulus, solutif, dan tangguh yang selalu membantu tanpa pamrih, bahkan di tengah kondisi kesehatannya yang menurun.
  • Warisan perjuangan Eban diteruskan melalui program pemberdayaan komunitas dan edukasi publik agar stigma terhadap ODHA berkurang serta semangat kebaikannya tetap hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mei 2005

Rika Loretta baru keluar dari rehabilitasi di Bogor dan dikirim ke Medan. Eban Totonta Kaban langsung merangkulnya dan membimbingnya dalam proses pemulihan.

2006

Erwin mulai bergabung sebagai rekan seperjuangan Eban Totonta Kaban dalam komunitas pengguna narkoba dan ODHA di Medan.

2014

Forum Peduli Anak dengan HIV AIDS (FP ADHA) dibentuk setelah anak asuh FJPI, Nanda, meninggal. Eban mendukung penuh pembentukan forum ini.

Natal tahun 2023

Eban Totonta Kaban menghubungi Rika Loretta yang berada di Bali dan memintanya kembali ke Medan untuk menjadi pribadi yang membawa terang bagi orang lain.

14 Juli 2026

Eban Totonta Kaban meninggal dunia pada Rabu, meninggalkan duka mendalam bagi komunitas sosial di Kota Medan.

kini

Rekan-rekan Eban bertekad melanjutkan perjuangannya melalui edukasi tentang HIV dan program pemberdayaan komunitas di Medan Plus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Eban Totonta Kaban, seorang pegiat sosial di Medan, meninggal dunia dan dikenang atas dedikasinya dalam memperjuangkan hak serta pendampingan bagi pengguna narkoba dan orang dengan HIV/AIDS melalui komunitas Medan Plus.
  • Who?
    Eban Totonta Kaban bersama rekan-rekannya seperti Khairiah Lubis, Rika Loretta, dan Erwin yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan komunitas ODHA serta pengguna napza di Kota Medan.
  • Where?
    Kegiatan dan perjuangan Eban berpusat di Kota Medan, Sumatera Utara, termasuk melalui komunitas Medan Plus serta berbagai forum peduli HIV/AIDS yang dibentuknya di wilayah tersebut.
  • When?
    Eban Totonta Kaban meninggal dunia pada Rabu, 14 Juli 2026. Kenangan tentang dirinya disampaikan oleh rekan-rekan seperjuangan setelah kabar kepergiannya tersebar di hari yang sama.
  • Why?
    Eban dikenang karena ketulusannya membantu masyarakat terdampak HIV/AIDS dan pengguna narkoba tanpa pamrih. Ia dianggap sebagai sosok motivator yang menginspirasi banyak orang untuk terus berbuat baik.
  • How?
    Selama lebih dari dua dekade, Eban menjalankan program pendampingan, membentuk kelompok dukungan sebaya, serta menginisiasi forum anak dengan HIV/AIDS untuk menghapus stigma dan meningkatkan kesadaran publik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Eban Totonta Kaban sudah meninggal dan banyak orang di Medan sedih sekali. Dia orang baik yang suka bantu teman-teman yang sakit dan butuh pertolongan. Teman-temannya bilang Eban selalu peduli, sabar, dan kuat. Sekarang mereka mau teruskan kebaikan Eban supaya orang lain juga bisa hidup lebih baik dan tidak takut saling menolong.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kisah tentang Eban Totonta Kaban menampilkan warisan ketulusan dan semangat kemanusiaan yang menginspirasi banyak orang di Medan. Melalui perhatian sederhana, kesabaran menghadapi tantangan, serta dedikasinya mendampingi komunitas ODHA dan pengguna narkoba, ia menumbuhkan rasa empati dan solidaritas yang kini diteruskan oleh rekan-rekannya dengan penuh hormat dan cinta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Kepergian Eban Totonta Kaban pada Rabu (14/7/2026) meninggalkan duka mendalam bagi sejumlah orang dan komunitas peduli sosial di Kota Medan. Selama puluhan tahun, almarhum dikenal sebagai pegiat yang tak lelah memperjuangkan nasib pengguna narkoba, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), dan Orang Hidup Dengan HIV/AIDS (OHIDHA) melalui Yayasan Medan Plus.

Bagi rekan-rekan seperjuangannya, Eban bukan hanya pemimpin, tapi juga guru, sahabat, dan keluarga.

1. Kesan pertama penuh kepedulian

Eban Totonta Kaban (Dok. Pribadi)

Khairiah Lubis, jurnalis TV, pertama kali mengenal Eban dari cerita Indah. "Kesan yang melekat adalah rasa peduli dan kelembutan hatinya. Pada satu pertemuan tentang HIV di Medan, saya pun bertemu dengan bang Eban, yang ternyata memang sebaik itu," kenang Khairiah, pada IDN Times.

Hal senada juga disampaikan Rika Loretta. Saat baru keluar dari rehabilitasi di Bogor pada Mei 2005 dan dikirim ke Medan, Eban langsung merangkulnya.

"Setiap pagi dia pasti bangunin untuk ajak sarapan. Agak canggung awalnya tetapi beliau selalu ajak ngobrol dan sharing pengalaman," ujarnya.

Sedangkan Erwin, yang juga rekan seperjuangan sejak 2006, menyebut Eban sebagai motivator yang sangat peduli. "Kepeduliannya kepada komunitas, khususnya komunitas pengguna narkoba dan ODHA pada masa itu sangat terlihat. Angka kasusnya terus meningkat dari bulan ke bulan," katanya.

2. Sifat kecil yang berkesan

Eban Totonta Kaban (Dok. Pribadi)

Ada sisi Eban yang jarang diketahui orang. Menurut Khairiah, Eban tidak pernah mau menunjukkan saat sakit. "Pernah suatu hari ketika saya ingin mewawancarainya, dia bilang 'ok', padahal sebenarnya dia sedang melakukan hemodialisa dan harus istirahat," tuturnya.

Cerita Rika yang juga mengingat kebaikan Eban saat dirinya kelaparan tengah malam. "Sekitar jam 10-11 malam saya nekad gedor jendela kamarnya. Beliau dan istrinya keluar tergesa-gesa dan membawa semua lauk yang tersisa di meja makan beserta magic comnya diberikan padaku. 'Harus habis ya Rika, jangan sampai tidak makan!' Tidak ada satu orang pun yang tahu hal ini," kenangnya.

Erwin mengingat Eban selalu berdoa sebelum melakukan aktivitas apa pun. Menurut mereka, ada tiga kata dari Eban yang baik masih dalam ingatan.

Khairiah menyebutkan Baik - Solutif - Tulus. "Dia selalu berusaha memberikan solusi, tidak pernah menolak orang. Sangat terkesan ketika dia membawa Nanda, anak asuh kami di FJPI, jalan-jalan ke Berastagi bersama keluarganya," ungkapnya.

Kemudian Erwin juga menyebutkan kata Peduli, Motivator dan Tangguh ada pada Eban. Sedangkan bagi Rika, Eban merupakan seseorang yang mudah marah, namun mudah mengakui kesalahan lalu minta maaf. "Beliau perfeksionis. Satu lagi, beliau tukang makan," ujarnya.

3. Tantangan dan cara menyikapinya

Eban Totonta Kaban (Dok. Pribadi)

Tantangan terbesar dalam komunitas adalah melihat anggota kembali jatuh atau meninggal, serta tim yang tidak konsisten. Eban menyikapinya dengan tenang. Kata Khairiah, Eban pernah bilang, jika mau berbuat, tanpa komunitas juga bisa, karena niat kita memang ingin menolong.

Sementarax Erwin menirukan pesan Eban bahwa, dalam sebuah gerakan pemberdayaan pastinya ada orang yang datang dan pergi.

"Yang penting hati kita dan semangat segelintir orang akan dapat mewujudkan mimpi bersama," tuturnya.

4. Program yang paling diingat

Eban Totonta Kaban (Dok. Pribadi)

Lanjut, Khairiah mengingat pembentukan Forum Peduli Anak dengan HIV AIDS (FP ADHA) pada 2014 setelah anak asuh FJPI, Nanda, meninggal. "Bang Eban sangat mendukung dan selalu mensupport setiap kegiatan untuk anak-anak dengan HIV AIDS," katanya.

Sementara Erwin menyebut fokus utama Eban adalah pemberdayaan pengguna napza dan pemberdayaan ODHA serta OHIDHA.

Rika mengingat Eban sebagai inisiator pembentukan KDS atau Kelompok Dukungan Sebaya untuk orang tua, perempuan, dan pecandu.

5. Pesan yang terus dikenang

Eban Totonta Kaban (Dok. Pribadi)

Khairiah menuturkan pesan yang terus dikenang dari Eban adalah meski puluhan tahun bersama orang dengan HIV AIDS, makan bersama, tidur bersama tapi tidak tertular. "Jangan takut dengan orang dengan HIV/Aids," tuturnya.

Erwin juga menyebutkan kenangan Eban adalah bekerja tanpa harus dilihat orang dan jangan pelit untuk mengucapkan terima kasih dan maaf. Sedangkan Rika mengenang kalimat Eban untuk bisa berani jujur dan berjalan bersama Tuhan semua akan baik-baik saja.

Pesan terakhir Eban kepada Erwin, adalah harus menjadi orang baik dan bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Masih dalam ingatan Rika saat Natal tahun 2023, Eban sempat memintanya untuk balik ke kota Medan yang saat ini sedang berada di Bali.

Dalam pesan Eban saat memintanya balik ke Medan, siap menjadi orang yang berbeda meskipun orang membenci dirinya akan menjadi terang bagi orang lain.

Kenangan-kenangan Eban banyak menjadi motivasi bagi banyak orang untuk selalu berbuat baik, dehingga, Khairiah bertekad melanjutkan kebaikan itu lewat media.

"Yang bisa saya lakukan adalah aktif membuat pemberitaan edukasi tentang HIV agar stigma dan diskriminasi terhadap ODHA menurun," ujarnya.

Sementara, Erwin berjanji meneruskan program Eban. “Tugas abang akan saya teruskan sampai napas sudah tidak ada di jasad ini," ungkapnya.

Kemudian, Rika berharap generasi selanjutnya bisa mengenal sejarah Medan Plus dengan baik. "Harapanku agar nama dan perjuangan Eban Totonta Kaban terus dikenang, jadilah pribadi yang takut akan Tuhan," pungkasnya.

Diketahui, Eban Totonta Kaban adalah pegiat sosial di Medan yang fokus pada pendampingan pengguna narkoba dan ODHA melalui komunitas Medan Plus. Ia dikenal luas karena ketulusan, semangat tanpa pamrih, dan kerja kerasnya menghapus stigma terhadap ODHA selama lebih dari 20 tahun.

Editorial Team

Related Article