Eban Totonta Kaban (Dok. Pribadi)
Khairiah menuturkan pesan yang terus dikenang dari Eban adalah meski puluhan tahun bersama orang dengan HIV AIDS, makan bersama, tidur bersama tapi tidak tertular. "Jangan takut dengan orang dengan HIV/Aids," tuturnya.
Erwin juga menyebutkan kenangan Eban adalah bekerja tanpa harus dilihat orang dan jangan pelit untuk mengucapkan terima kasih dan maaf. Sedangkan Rika mengenang kalimat Eban untuk bisa berani jujur dan berjalan bersama Tuhan semua akan baik-baik saja.
Pesan terakhir Eban kepada Erwin, adalah harus menjadi orang baik dan bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Masih dalam ingatan Rika saat Natal tahun 2023, Eban sempat memintanya untuk balik ke kota Medan yang saat ini sedang berada di Bali.
Dalam pesan Eban saat memintanya balik ke Medan, siap menjadi orang yang berbeda meskipun orang membenci dirinya akan menjadi terang bagi orang lain.
Kenangan-kenangan Eban banyak menjadi motivasi bagi banyak orang untuk selalu berbuat baik, dehingga, Khairiah bertekad melanjutkan kebaikan itu lewat media.
"Yang bisa saya lakukan adalah aktif membuat pemberitaan edukasi tentang HIV agar stigma dan diskriminasi terhadap ODHA menurun," ujarnya.
Sementara, Erwin berjanji meneruskan program Eban. “Tugas abang akan saya teruskan sampai napas sudah tidak ada di jasad ini," ungkapnya.
Kemudian, Rika berharap generasi selanjutnya bisa mengenal sejarah Medan Plus dengan baik. "Harapanku agar nama dan perjuangan Eban Totonta Kaban terus dikenang, jadilah pribadi yang takut akan Tuhan," pungkasnya.
Diketahui, Eban Totonta Kaban adalah pegiat sosial di Medan yang fokus pada pendampingan pengguna narkoba dan ODHA melalui komunitas Medan Plus. Ia dikenal luas karena ketulusan, semangat tanpa pamrih, dan kerja kerasnya menghapus stigma terhadap ODHA selama lebih dari 20 tahun.