Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Lisna Tambunan, Guru Kristen yang Mengajar di Madrasah Toba
Lisna Novelina Tambunan seorang guru Kristen yang mengajar Penjasorkes di MIN Toba Samosir (Dok. Kemenag Sumut)
  • Lisna Novelina Tambunan, guru muda asal Toba, berhasil jadi ASN termuda di satuannya setelah menempuh perjalanan pendidikan penuh perjuangan dan kerja keras sejak kuliah di Universitas Negeri Medan.
  • Dengan keterbatasan ekonomi, Lisna belajar mandiri lewat media sosial dan YouTube hingga lolos CPNS Kemenag RI sebagai Guru Penjasorkes di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Toba.
  • Penugasan Lisna sebagai guru Kristen di madrasah menunjukkan praktik nyata moderasi beragama, di mana toleransi dan saling menghormati tumbuh dalam lingkungan kerja yang harmonis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2002

Lisna Novelina Tambunan lahir di Toba dari keluarga sederhana yang menanamkan nilai kerja keras.

2020

Setelah gagal SNMPTN, Lisna lolos SBMPTN 2020 dan diterima di Universitas Negeri Medan pada Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi.

2024

Lisna lulus kuliah tepat waktu dengan IPK 3,65 dan berhasil lolos CPNS Kemenag RI sebagai Guru Ahli Pertama Penjasorkes di wilayah Toba.

kini

Lisna menjadi ASN termuda di satuan kerjanya dan mengajar Penjasorkes di MIN Toba Samosir sebagai guru Kristen yang menunjukkan moderasi beragama.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Seorang guru muda bernama Lisna Novelina Tambunan menjadi ASN termuda di lingkungan Kementerian Agama dan mengajar Penjasorkes di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Toba Samosir sebagai wujud moderasi beragama di sekolah tersebut.
  • Who?
    Lisna Novelina Tambunan, perempuan 23 tahun asal Toba, lulusan Universitas Negeri Medan, kini berstatus ASN Guru Ahli Pertama Penjasorkes di bawah Kementerian Agama Republik Indonesia.
  • Where?
    Kegiatan mengajar berlangsung di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Toba Samosir, wilayah Kabupaten Toba, Sumatera Utara.
  • When?
    Lisna lulus kuliah pada tahun 2024 dan mulai bertugas sebagai ASN setelah dinyatakan lolos seleksi CPNS Kementerian Agama pada periode rekrutmen terbaru.
  • Why?
    Pencapaian ini terjadi karena tekad Lisna untuk mewujudkan cita-cita menjadi guru olahraga meski menghadapi kesulitan ekonomi keluarga serta keinginannya berkontribusi dalam pendidikan dan toleransi antarumat beragama.
  • How?
    Lisna belajar mandiri melalui media daring seperti YouTube dan try out online, menabung dari gaji honorer untuk biaya ujian CPNS, hingga akhirnya diterima mengajar dengan dukungan lingkungan madrasah yang inklusif dan saling menghormati.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Lisna itu guru muda dari Toba. Dulu dia susah kuliah karena uangnya sedikit, tapi dia tetap belajar dan bisa lulus bagus. Sekarang dia jadi guru olahraga di madrasah, padahal dia Kristen. Teman-teman di sana baik dan saling hormat walau beda agama. Lisna senang bisa mengajar anak-anak dengan damai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Perjalanan Lisna menunjukkan bahwa ketulusan, kerja keras, dan saling menghormati dapat tumbuh di tengah keberagaman. Dari keluarga sederhana hingga menjadi ASN termuda di madrasahnya, ia membuktikan bahwa keyakinan berbeda tidak menghalangi semangat melayani dan belajar bersama. Kehangatan rekan kerja serta penerimaan lingkungan memperlihatkan harmoni yang nyata dalam keberagaman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Senyum ramah Lisna Novelina Tambunan menyembunyikan perjalanan panjang penuh perjuangan. Perempuan 23 tahun asal Toba ini kini jadi ASN termuda di satuan kerjanya, sekaligus guru Kristen yang mengajar Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan (Penjasorkes) di Madrasah Ibtidaiyah Neger (MIN) Kabupaten Toba.

Perempuan ini lahir pada tahun 2022 silam dari keluarga sederhana, Lisna dibesarkan dengan nilai kerja keras. Berikut kisah Lisna Novelina Tambnan.

1. Mimpi menjadi guru olahraga membawanya gagal SNMPTN

Lisna Novelina Tambunan seorang guru Kristen yang mengajar Penjasorkes di MIN Toba Samosir (Dok. Kemenag Sumut)

Ayahnya tukang lemari, ibunya ASN lulusan SMA yang percaya pendidikan bisa mengubah nasib anak. Mimpi menjadi guru olahraga membawanya gagal SNMPTN, lalu pandemi dan ekonomi keluarga makin berat. Orangtuanya sempat ragu sanggup biayai kuliah.

Lisna nggak nyerah. Lewat SBMPTN 2020 ia lolos ke Universitas Negeri Medan, Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi. Semester 3 hampir tumbang karena beratnya tugas dan fisik. Tapi nasihat ibunya terus terngiang. Kisah Lisna Tambunan, Guru Kristen yang Mengajar di Madrasah Toba. "Pilihan harus dipertanggungjawabkan sampai tuntas," ucapnya.

2. Lisna menguasai materi lainnya dari medsos dan YouTube

Lisna Novelina Tambunan seorang guru Kristen yang mengajar Penjasorkes di MIN Toba Samosir (Dok. Kemenag Sumut)

Kini, menjadi guru honorer sambil kejar CPNS menjadi jalan hidupnya. Tidak ada bimbel mahal, dan tidak banyak membeli buku. Sebab, gaji honorer dihemat buat beli paket try out daring. Materi lain dipelajarinya dari medsos dan YouTube. Doa dan usaha berbuah manis. Lisna lolos CPNS Kemenag RI formasi Guru Ahli Pertama Penjasorkes. Penempatannya di wilayah Toba, daerah yang selalu jadi doa keluarganya.

Sebagai umat Kristen, ia ditugaskan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Dia mengakui awalnya cemas. "Bisa diterima nggak ya? Anak-anak gimana?" pikirnya.

Namun, kekhawatiran tersebut cepat sirna.Rekan guru menyambut hangat. Madrasah ngasih ruang nyaman tanpa paksa ikut ritual keagamaan di luar keyakinannya. Lisna pun membalas dengan hormat dan ikut budaya serta tata krama madrasah. Hubungan baik terjalin dengan murid dan warga. Kalau ditanya agama, ia menjawab santai sambil senyum.

"Saya Kristen, mengajar Penjasorkes di sini," tuturnya.

3. Kisah Lisna menjadi bukti nyata moderasi beragama

Lisna Novelina Tambunan seorang guru Kristen yang mengajar Penjasorkes di MIN Toba Samosir (Dok. Kemenag Sumut)

Bagi Lisna, itu bukti nyata moderasi beragama. Bukan slogan di seminar, tapi hidup sehari-hari. Meskipun beda keyakinan, menurutnya membuat canggung kerja bareng, namun saling menghargai dan menberikan pelayanan terbaik ke murid.

Kisah Lisna menjadi pengingat mimpi agar dapat meraih keinginannya dengan berjuang. Serta doa orang tua yang luar biasa. Keberagaman juga menjadi kekuatan, jika diikat rasa hormat dan kasih sayang. Dari ruang kelas MIN di Toba, Lisna menghadirkan wajah moderasi beragama yang hidup dan menginspirasi.

Editorial Team

Related Article