Harimau Muncul Dekat Permukiman di Riau, Aktivitas Anak SD Dibatasi

IDN Times, Pelalawan - Harimau Sumatra kembali meneror warga di Provinsi Riau. Kali ini, kemunculan 'si belang' itu di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.
Atas kemunculan hewan buas itu, membuat warga khawatir, dikarenakan dekat dengan permukiman. Tidak hanya itu, lokasi temuan Harimau Sumatra tersebut, membuat cemas orang tua murid SDN 016 Teluk Naga, yang jaraknya hanya sekitaran 200 meter dari sekolah.
Kepala Desa Pulau Muda Andika Ing saat dikonfirmasi, membenarkan adanya Harimau Sumatra yang sedang berkeliaran didaerahnya. Dikatakannya, pihaknya telah membatasi aktivitas SDN 016, demi keselamatan 200 murid sekolah tersebut.
"Kami juga sudah melapor ke BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) Riau," ujarnya, Selasa (20/1/2026).
Kemunculan Harimau Sumatra di desa tersebut viral di media sosial. Dalam video itu, terlihat seekor harimau sedang berada di areal Hutan Tanaman Industri (HTI).
Menurut pengunggah video di akun Tiktok @putra mm, kemunculan harimau berjarak sekitar 200 meter dari permukiman warga. Selain itu, lokasi kemunculan harimau juga merupakan jalan yang sering dilewati anak-anak pergi dan pulang sekolah.
Kemunculan hewan buas itu membuat warga resah. Mereka takut terjadi serangan kepada manusia.
1. Berdekatan dengan kawasan hutan, harimau yang muncul ada 2 ekor

Terkait dengan hal tersebut, BBKSDA Provinsi Riau mengaku telah mendapat laporan tersebut. Kepala BBKSDA Provinsi Riau Supartono menerangkan, berdasarkan hasil identifikasi tim di lapangan, lokasi kemunculan harimau tersebut, terdeteksi berada di perbatasan kawasan hutan, yang merupakan bagian dari kantong atau habitat pergerakan alaminya.
"Lokasi kemunculan harimau berjarak cukup dekat dengan permukiman warga, sekitar 200 hingga 300 meter," terang Supartono.
Lebih lanjut dikatakannya, tim dilapangan menemukan indikasi, bahwa terdapat lebih dari satu individu harimau. Yang mana, harimau yang muncul tersebut, berjumlah 2 ekor dan diduga induk dan anaknya.
"Diduga kuat satu keluarga, yang terdiri dari satu induk dan anakan yang diperkirakan berusia 4 hingga 5 bulan," kata Supartono.
Diketahui, pada usia tersebut, anak harimau masih berada dalam masa transisi penyapihan dan memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap induknya.
2. Ini fokus tim lapangan

Untuk mencegah konflik, tim lapangan yang terdiri dari unsur TNI, Polri dan pihak Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) terdekat serta warga setempat, saat ini terus melakukan pemantauan intensif secara berkala.
"Fokus utama tim adalah melakukan upaya penggiringan agar kawanan harimau tersebut bergerak kembali menjauh dari permukiman dan masuk ke dalam kawasan hutan yang lebih aman," jelas Supartono.
3. Lakukan sosialisasi dan imbauan

Disamping itu, tim lapangan juga melakukan sosialisasi dan imbauan kepada warga sekitar desa tersebut. Terlebih untuk tidak merekam dan menyebarluaskan video kemunculan harimau tersebut.
"Karena dikhawatirkan menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat dan menghindari informasi hoaks, sekaligus edukasi kepada warga untuk selalu waspada dalam beraktivitas, terutama pada waktu fajar dan menjelang malam," ujar Supartono.
Kemudian, ditambahkan Supartono, warga sekitar diminta untuk menjaga peliharaan ternak dengan aman dan tidak melepaskannya di area terbuka guna menghindari daya tarik bagi harimau untuk mendekati area pemukiman.
Kendati demikian, warga diminta untuk tetap tenang dan segera melaporkan kepada tim BBKSDA Riau, jika melihat tanda-tanda keberadaan satwa tersebut.
Upaya penanganan ini mengedepankan prinsip keselamatan manusia, sekaligus perlindungan satwa Harimau Sumatra yang dilindungi.
"Tim akan terus berada di lokasi hingga situasi dipastikan kondusif dan pergerakan satwa telah menjauh dari zona aktivitas warga," pungkas Supartono.

















