Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Catatan untuk Orangtua yang Ingin Masukkan Anak ADHD di Sekolah Umum
Ilustrasi anak ADHD melamun di kelas
  • Psikolog Irna Minauli menjelaskan ADHD ditandai tiga kriteria utama: sulit fokus, impulsif, dan hiperaktif yang dapat mengganggu proses belajar serta interaksi sosial anak di sekolah umum.
  • Irna menilai anak ADHD paling sulit ditangani di sekolah umum tanpa guru pendamping, dan menyarankan sekolah khusus jika kemampuan kognitifnya terganggu agar tidak tertinggal pelajaran.
  • Irna menegaskan ADHD muncul sejak masa kanak-kanak, bukan saat dewasa, dan diagnosisnya harus mencakup ketiga aspek utama yaitu inattention, impulsivitas, serta hiperaktivitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
19 Juli 2026

Psikolog Irna Minauli menjelaskan kepada IDN Times tentang kriteria utama ADHD, yaitu inattention, impulsivitas, dan hiperaktivitas. Ia memaparkan contoh perilaku anak dengan ADHD serta dampaknya terhadap proses belajar di sekolah umum.

kini

Irna menilai banyak orang tua masih menyangkal kondisi anaknya dan memilih sekolah umum. Ia menegaskan pentingnya guru pendamping atau sekolah khusus bagi anak ADHD agar proses belajar lebih efektif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Psikolog menjelaskan tantangan anak dengan Attention-deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) saat mengikuti pendidikan di sekolah umum serta pentingnya pendampingan khusus bagi mereka.
  • Who?
    Psikolog Irna Minauli menyampaikan penjelasan mengenai karakteristik dan kebutuhan pendidikan anak dengan ADHD kepada masyarakat.
  • Where?
    Pemaparan dilakukan di Medan, Sumatera Utara, dalam wawancara yang membahas kondisi anak ADHD di lingkungan sekolah umum.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Minggu, 19 Juli 2026, saat Irna memberikan keterangan mengenai diagnosis dan penanganan ADHD.
  • Why?
    Keterangan diberikan untuk menjelaskan bahwa anak ADHD memiliki kesulitan fokus, impulsivitas, dan hiperaktivitas yang dapat menghambat proses belajar di sekolah umum tanpa dukungan khusus.
  • How?
    Irna menerangkan tiga kriteria utama ADHD—sulit fokus, impulsif, dan hiperaktif—serta menilai perlunya guru pendamping atau sekolah khusus agar pembelajaran lebih efektif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ada anak yang susah diam dan susah fokus namanya ADHD. Kata Bu Irna, anak ini suka bergerak terus, kadang lari tanpa mikir bahaya, atau dorong teman karena tidak bisa tahan diri. Anak seperti ini susah belajar di kelas biasa. Sekolah perlu guru bantu supaya semua anak bisa belajar dengan baik bersama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penjelasan Irna Minauli menunjukkan bahwa pemahaman mendalam tentang ADHD dapat membantu orang tua dan guru mengenali kebutuhan anak sejak dini. Dengan mengetahui tiga kriteria utama—sulit fokus, impulsivitas, dan hiperaktivitas—pendidik memiliki dasar yang lebih jelas untuk menyesuaikan pendekatan belajar, sehingga anak berpotensi menikmati proses pendidikan dengan lebih positif dan terarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Anak dengan Attention-deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) memiliki tantangan tersendiri ketika mengikuti pendidikan di sekolah umum. Hal itu disampaikan psikolog Irna Minauli.

Menurut Irna, ADHD memiliki tiga kriteria utama yang harus dipenuhi untuk menegakkan diagnosis, yaitu inattention atau sulit fokus, impulsivity atau sulit mengendalikan dorongan, dan hyperactivity atau hiperaktivitas.

"Inattention artinya ketidakmampuan untuk fokus pada satu tugas dalam waktu tertentu. Misalnya anak usia 5 tahun minimal harus bisa mengerjakan tugas selama 5 menit. Nah, anak ADHD biasanya tidak bisa," ujar Irna pada IDN Times, Minggu (19/7/2026).

Kriteria kedua adalah impulsivitas. Irna menjelaskan, impulsivitas adalah ketidakmampuan mengendalikan dorongan.

"Misalnya begitu lihat pintu gerbang terbuka dia langsung lari ke depan. Dia tidak berpikir ada bahaya. Atau melihat colokan, langsung dimasukkan tangannya. Dia tidak bisa mengendalikan dorongan itu," jelasnya.

Kriteria ketiga adalah hiperaktivitas. Anak dengan ADHD memiliki energi berlebih sehingga melakukan banyak gerakan fisik tanpa tujuan yang jelas.

"Kalau anak normal berlari biasanya ada tujuan, misalnya mau lomba dengan temannya. Kalau anak ADHD, pokoknya energinya berlebih," kata Irna.

1. Berpotensi mengganggu dan membahayakan

adhd penyakit mental (https://narasi.tv/read/narasi-daily/adhd-adalah)

Irna menyebut kombinasi ketiga ciri tersebut berpotensi membuat anak ADHD mengganggu teman maupun membahayakan diri sendiri.

"Mungkin maksudnya ingin mengelus teman atau bercanda. Tapi karena impulsivitasnya, dia malah mendorong sampai temannya jatuh. Padahal bukan niatnya," ujarnya.

Ia menambahkan, tidak sedikit anak ADHD juga memiliki tingkat agresivitas tinggi, seperti menggigit teman karena merasa gemas.

Karena kesulitan fokus dan tidak bisa duduk tenang, anak ADHD umumnya juga mengalami hambatan dalam mengikuti pelajaran.

"Bagaimana dia bisa mengikuti pelajaran kalau tidak bisa duduk tenang, tidak bisa mendengarkan. Fokusnya mudah teralihkan," kata Irna.

Meskipun ada kasus ADHD dengan IQ normal, pada umumnya kemampuan kognitif anak ADHD cenderung lebih lambat. Kondisi ini membuat guru dan orang tua kesulitan menanganinya di kelas.

2. Sekolah umum perlu ada guru pendamping

ilustrasi ADHD (freepik.com/freepik)

Irna menilai, dibanding anak berkebutuhan khusus lainnya, anak ADHD paling sulit ditangani di sekolah umum karena sifatnya yang tidak bisa diam dan mudah mengganggu teman.

"Dia akan jalan-jalan ke sana-kemari. Sehingga guru pun menjadi tidak konsentrasi. Kalau guru hanya fokus ke satu anak ini, kasihan anak-anak lain yang mayoritas tidak bermasalah," ucapnya.

Karena itu, menurut Irna, idealnya anak ADHD bersekolah di sekolah khusus seperti Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun ia memahami banyak orang tua yang masih denial atau menyangkal karena malu.

"Mereka lebih senang kalau anaknya di SD sini, SMP sini. Bukan berarti tidak boleh sekolah di sekolah umum. Menurut saya dengan catatan IQ-nya tidak terganggu," kata Irna.

Jika IQ anak terganggu, memaksakan masuk sekolah umum justru akan membuatnya semakin tertinggal dan berpotensi menjadi "troublemaker" yang mengganggu proses belajar.

"Tapi kalau dia masih bisa mengikuti, dia akan asyik belajar ilmu baru," tambahnya.

3. ADHD muncul sejak anak-anak

Menjaga keseimbangan diri, tantangan bagi dewasa dengan ADHD (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Menjawab pertanyaan apakah ADHD bisa muncul pada orang dewasa, Irna menegaskan ADHD tidak mungkin muncul tiba-tiba saat dewasa. Gangguan ini biasanya sudah ada sejak anak-anak.

"Atau mungkin baru ketahuan saat dewasa karena waktu kecil tidak pernah diperiksa," ujarnya.

Ia mengingatkan, untuk menegakkan diagnosis ADHD harus terpenuhi ketiganya: inattention, impulsivitas, dan hiperaktivitas. Meski ada tipe yang dominan pada salah satu ciri, hiperaktivitas tetap ada di semua tipe.

"Jadi tidak bisa lepas. Hiperaktivitas dengan inattention tapi tidak impulsif, atau hiperaktivitas dengan impulsif tapi masih bisa fokus. Tapi secara umum, ketiganya harus terpenuhi," pungkas Irna.

Curated For You

Editorial Team

Related Article