Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bayi Orangutan Ditemukan di India, Geopix Desak Prabowo Bergerak
ilustrasi orangutan (pexels.com/Nadirsyah Nadirsyah)
  • Lima bayi orangutan ditemukan di hutan Bichitrapur, Balasore, Odisha, India, pada 8 September 2026.
  • Geopix meminta Presiden Prabowo Subianto memperkuat koordinasi diplomatik untuk menelusuri asal-usul dan mengupayakan pemulangan orangutan.
  • Otoritas India dan Pemerintah Indonesia menangani verifikasi asal-usul, repatriasi, serta penyelidikan jalur perdagangan satwa liar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
periode 2021–2024

Geopix mendesak Pemerintah India memulangkan 15 orangutan yang disebut sebagai korban penyelundupan lintas negara.

8 September 2026

Lima bayi orangutan ditemukan di kawasan hutan Bichitrapur, Distrik Balasore, Odisha, India.

Sabtu (12/9/2026)

Annisa Rahmawati meminta pemerintah Indonesia memastikan lima bayi orangutan dipulangkan ke Indonesia.

kini

Kelima orangutan berada dalam penanganan otoritas India. Pemerintah Indonesia berkoordinasi untuk verifikasi asal-usul dan persiapan repatriasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Lima bayi orangutan ditemukan dan tengah ditelusuri asal-usulnya untuk proses repatriasi ke Indonesia.
  • Who?
    Geopix, Presiden Prabowo Subianto, Pemerintah Indonesia, Pemerintah India, WCCB, dan Odisha Police Special Task Force terlibat dalam penanganan kasus.
  • Where?
    Kawasan hutan Bichitrapur, Distrik Balasore, Odisha, India.
  • When?
    8 September 2026.
  • Why?
    Orangutan bukan fauna asli India dan keberadaannya di Balasore memunculkan dugaan jalur perdagangan satwa liar lintas negara.
  • How?
    Pemerintah Indonesia berkoordinasi untuk verifikasi dan repatriasi, sementara WCCB serta STF menelusuri jalur dan kemungkinan jaringan internasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lima bayi orangutan ditemukan di hutan di India. Mereka sekarang dirawat oleh otoritas India. Geopix meminta Presiden Prabowo Subianto bekerja sama dengan Pemerintah India. Mereka ingin mencari tahu asal bayi orangutan itu dan membawa mereka pulang ke Indonesia. Polisi India juga masih mencari jalur yang membawa mereka ke Balasore.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penanganan lima bayi orangutan melibatkan koordinasi Pemerintah Indonesia dan otoritas India untuk memverifikasi asal-usul serta menyiapkan repatriasi. Penyelidikan WCCB dan Odisha Police Special Task Force juga berjalan bersamaan. Keterlibatan kedua negara membuka ruang pengungkapan jalur perdagangan satwa liar yang membawa orangutan ke Balasore.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Lima bayi orangutan ditemukan di kawasan hutan Bichitrapur, Distrik Balasore, Odisha, India, pada 8 September 2026. Pegiat Geopix meminta Presiden Prabowo Subianto segera memperkuat koordinasi diplomatik dengan Pemerintah India untuk menelusuri asal-usul satwa tersebut dan mengupayakan pemulangannya ke Indonesia.

Kelima orangutan kini berada dalam penanganan otoritas India. Pemerintah Indonesia juga telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memverifikasi asal-usul mereka serta menyiapkan proses repatriasi.

1. Pentingnya pemerintah bergerak menyelamatkan orangutan

Orangutan dievakuasi dari kebun warga di Kayong Utara. (IDN Times/YAIRI).

Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati mengatakan pemerintah Indonesia perlu hadir sejak awal dalam penanganan kasus tersebut. Menurutnya, kelima bayi orangutan itu tidak semestinya berada jauh dari habitat alaminya.

“Lima bayi orangutan ini tidak pernah memilih untuk meninggalkan Indonesia. Pemerintah Indonesia harus hadir dan memastikan mereka segera dipulangkan dan dikembalikan ke Indonesia,” tegas Annisa dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/9/2026).

Geopix mengapresiasi langkah aparat India, termasuk Wildlife Crime Control Bureau (WCCB), yang tengah menyelidiki bagaimana kelima orangutan tersebut bisa berada di Odisha.

Orangutan bukan fauna asli India. Karena itu, keberadaan satwa tersebut di wilayah Balasore memunculkan dugaan adanya jalur perdagangan satwa liar lintas negara. Otoritas India kini menelusuri kemungkinan keterlibatan jaringan internasional dalam kasus tersebut.

2. Jaringan penyelundup harus diungkap

potret orangutan (unsplash.com/Andre Mouton)

Bagi Geopix, penanganan kasus ini tidak cukup hanya dengan menyelamatkan dan merawat kelima bayi orangutan. Investigasi juga perlu mengungkap pihak yang menangkap, mengangkut, menyelundupkan, hingga memperdagangkan satwa dilindungi tersebut.

“Jangan biarkan kasus ini berhenti pada sekadar upaya penyelamatan lima bayi ini semata. Kita harus memburu jaringan lintas negara yang memperdagangkannya dan dibarengi dengan upaya cepat untuk mengembalikannya ke Indonesia,” ujar Annisa.

Sejalan dengan desakan itu, Odisha Police Special Task Force (STF) bersama WCCB masih menelusuri jalur yang membawa kelima orangutan tersebut ke Balasore. Aparat juga menyelidiki kemungkinan adanya jaringan perdagangan satwa liar internasional.

3. Dorong kerja sama Indonesia-India untuk pengungkapan

Habitatnya terbakar, orangutan di Ketapang dievakuasi. (IDN Times/YIARI).

Geopix sebelumnya mendesak Pemerintah India memulangkan 15 orangutan yang disebut organisasi tersebut sebagai korban penyelundupan lintas negara pada periode 2021–2024. Organisasi itu juga menggalang petisi untuk mendorong dukungan publik di tingkat nasional dan internasional.

Menurut Annisa, temuan terbaru di Odisha menunjukkan perlunya kerja sama penegakan hukum yang lebih kuat antara Indonesia dan India. Aparat kedua negara dinilai perlu menelusuri bukan hanya pelaku lapangan, tetapi juga jaringan yang mengatur perdagangan orangutan.

“Jika satwa-satwa berharga dari Indonesia ini dapat diselundupkan hingga India, maka perlu upaya yang sangat serius sehingga para penegak hukum di Indonesia juga harus mampu mengurai dan menjangkau pelaku-pelaku kejahatan lintas negara yang berada di baliknya,” ujarnya.

Editorial Team

Related Article