Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tak Ada Panelis Perempuan pada Debat Pilgub, KPU Sumut Dikritik
Debat perdana Pilgub Sumut tahun 2024 (IDN Times/Prayugo Utomo)

Medan, IDN Times - Akademisi hingga aktivis perempuan mengomentari ketiadaan panelis kaum perempuan pada acara debat perdana Pilkada Sumut yang digelar KPU Sumut, pada Rabu (30/10/2024) malam lalu.

Debat perdana tersebut mengangkat tema Pelayanan Publik dan Kesejahteraan Masyarakat.

Ketua KPU Sumut, Agus Arifin berharap bahwa telah ditetapkan DPT Pilgub 2024 sebanyak 10.771.496 pemilih di 33 kabupaten/kota dan tersebar di 25 ribu TPS di Sumut. Dengan rincian 5.302.681 laki-laki dan 5.468.815 perempuan yang tersebar di 25.223 Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Maka Paslon untuk bisa memaksimalkan. Tentu dengan harapan bahwa tingkat partisipasi tanggal 27 November 2024 bisa meningkat dan debat ini diharapkan akan terlaksana dengan baik,” ungkap Agus dalam kata sambutan.

Adapun panelis debat Pilkada Sumut yaitu Dr. Nispul Khair, Dr. Hatta Ridho, Dadang Darmawan Pasaribu, Prof. Dr. Hisarma Saragih, Dr. Mahmul Siregar, dr. Moammar Andar Roemare Siregar, Prof. Dr. Hasan Sazali, Assoc Prof. Dr. Mujahiddin, dan Dr. Zakaria Siregar.

Namun, meski ada 5,4 juta pemilih perempuan di Sumut, tapi tidak satupun panelis perempuan pada Debat Kandidat kali ini yang dihadirkan oleh KPU Sumut. Mazdalifah, akademisi dari Universitas Sumatera Utara menilai seharusnya KPU menghadirkan panelis perempuan pada debat Pilgub Sumut.

1. Keterwakilan perempuan diperlukan dimana pun berada

Paslon 01 Bobby Nasution - Surya (kiri) dan Paslon 02 Edy Rahmayadi - Hasan Basri Sagala pada Debat Kandidat Perdana Pilkada Sumut, Rabu (30/10/2024). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Menurut Mazdalifah di era yang sekarang ini keterwakilan perempuan itu diperlukan, baik dalam sisi kepemimpinan sebuah organisasi, kepemerintahan bahkan partai politik keterwakilan perempuan diminta harus ada.

"Nah, menurut saya ya kalau ada 9 panelis apalagi kalau pertanyaannya itu ada terkait soal pembangunan perempuan, pemberdayaan perempuan selayaknya memang adalah keterwakilan perempuan mengingat dalam semua sesi, dalam semua event keterwakilan perempuan itu selalu ada selayaknya ada minimal 1 atau 2 orang," ucapnya pada IDN Times, Jumat (1/11/2024).

2. Komunikasi debat meningkatkan citra diri para paslon

Cagub dan Cawagub Sumut nomor urut 01 Bobby Nasution dan Surya saat debat perdana Pilkada Sumut, Rabu (30/10/2024) malam (IDN Times/Prayugo Utomo)

Dia juga berharap, bukan sekedar seremonial belaka. Namun, harus benar-benar debat yang bisa menggali kemampuan Paslon-Paslon tentang materi yang ditanyakan dan bukan sekedar saja. Sebab, ini merupakan proses pemilihan kepemimpinan daerah.

"Karena tujuan debat sebetulnya harus melihat kemampuan atau potensi calon dalam memahami satu persoalan. Jadi, acara debat harus didesain sesegera rupa dengan cermat tapi menghadirkan para panelis yang benar-benar memang ahli dibidangnya. Kemudian memberi waktu kepada para Paslon untuk benar mempersiapkan diri karena dari sisi komunikasi debat ini kalau penyampaiannya baik semua Paslon ini bisa meningkatkan citra mereka dan menarik simpati jadi orang merasa oke Paslon pilihannya untuk diandalkan. Jadi, bukan sekedar debat ecek-ecek tapi benar-benar berkualitas dan memiliki unsur-unsur debat yang sebaiknya dan sesungguhnya," pungkasnya.

3. Wilayah Sumut lekat dengan istilah anak raja sehingga terbawa sampai ke panelis semuanya laki laki

Cagub dan Cawagub Sumut nomor urut 02 Edy Rahmayadi dan Hasan saat debat Pilkada Sumut, Rabu (30/10/2024) (IDN Times/Prayugo Utomo)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Lusty Ro Manna Malau pendiri lembaga Perempuan Hari Ini (PHI) angkat bicara karena KPU Sumut tidak menghadirkan panelis perempuan.  Dia mengatakan KPU Sumut semestinya sudah bisa lebih progresif dalam menghadirkan kaum perempuan dan laki-laki secara setara dan inklusif.

"Perempuan seolah-olah harus berusaha lebih banyak, untuk dipercaya, sedangkan laki-laki seperti apapun kualitasnya tanpa berusaha pun dianggap mampu," ucapnya pada IDN Times, Jumat (1/11/2024).

"Sarkasmenya, wilayah Sumut lekat dengan istilah anak raja sehingga terbawa sampai ke panelis semuanya laki-laki tanpa mempertimbangkan perempuan yang punya kapasitas sama," tambahnya.

Editorial Team

Related Article