ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)
Dari data 5 tahun terkahir, menurut Siti angka penderita kanker payudara ini meningkat. Ada 2 hal yakni pertama yang menderita semakin banyak. Kemudian, untuk yang kedua berobat ke rumah sakit semakin banyak.
“Satu sisi hal yang bagus mereka mendatangi pelayanan kesehatan. Di sisi lain kita sedih juga kenapa gak selesai, artinya kok ada penderita baru terus makanya kita harus merubah pola hidup menjadi pola hidup sehat dengan melakukan cerdik tes kesehatan secara teratur, hindari asap rokok, rajin berolahraga, diet atau konsumsi makanan seimbang dan istirahat yang cukup serta mengelola stres yang baik agar kita bisa terhindar atau mengurangi risiko kejadian kanker pada diri kita,” jelas Siti.
Sejauh ini, Siti mengatakan bahwa YKI siap mendampingi pasien untuk mendapatkan pelayanan pengobatan ke rumah sakit bagi para penderita kanker.
Untuk informasi kepada masyarakat, bahwa seluruh pengobatan kanker ini ditanggung oleh BPJS.
“Makanya YKI juga kesulitan, jika ada pasien yang tidak ada BPJS-nya atau BPJS-nya ada tapi menunggak itu menjadi kesulitan pertama. Kesulitan kedua banyak masyarakat kita yang tidak memiliki KTP (kartu indentitas diri), pasiennya udah sakit mau kita bawa berobat, jangankan BPJS KK dan KTP saja tidak ada. Nah, itu yang harus kita urus dan alhamdulillah terkadang capil bisa berkerjasama, dinas sosial bisa bekerja sama walaupun kadang kita berbenturan juga dengan dinas capil karena mau menolong pasien untjk berobat. Sementara, syarat-syarat banyak kadang-kadang kita gak nyaman juga untuk urusan seperti ini," jelasnya.
Lanjutnya, apabila pasien kanker payudara ini juga dalam kondisi atau pasien lanjut, maka semua bisa dibayar oleh BPJS hanya saja pengobatannya tidak seperti pada pasien stadium awal yang bisa banyak tindakan.
“Nah, itu yang sering dikeluhkan masyarakat. Seperti pasien yang ingin dioperasi tapi tidak dapat tindaklanjut, hal ini membuktikan bahwa masyarakat kurang memahami stadiumnya berbeda,” katanya.
Untuk stadium lanjut ini maka penanganannya berbeda, ada perkiraan, dokter lebih tahu tindakan apa yang lebih tepat. Hanya saja, mungkin cara menyampaikannya ke pasien dan cara pasien menerima informasi yang tidak tepat. Sehingga, sering membanding-bandingkan satu pasien dengan pasien lain.
Padahal, dokter menentukan tindakan itu berdasarkan stadium dan kondisi pasien. Tentunya pasien dengan tingkat lanjut penanganannya sudah berbeda di stadium awal. Dokter lebih tahu mana yang bisa lebih meningkatkan kualitas hidup pasien.