Nikmatnya Bukber Pakai Sup dan Teh Chai Khas India di Masjid Ghaudiyah

Medan, IDN Times - Di ruangan tak terlalu luas belakang Masjid Ghaudiyah Medan, dua perempuan tengah mengaduk beras yang telah direndam bumbu santan. Mereka dengan ulet dan sabar memastikan agar santan diaduk merata sampai pada akhirnya membentuk gelembung tanda telah mendidih.
Di balik peluh mereka, tersaji makanan yang begitu nikmat. Uniknya, makanan yang mereka masak ini alih-alih jarang ada disajikan sebagai menu berbuka puasa di Kota Medan. Ini lah bubur India Selatan, makanan khas "Negara Anak Benua" yang jadi primadona Masjid Ghaudiyah Medan setiap harinya
1. Bubur India Selatan dimasak skala besar, prosesnya memakan waktu 6 jam

Bubur khas India Selatan ini dimasak dengan porsi yang besar. Salmah (61 tahun) mengajak IDN Times menilik langsung proses pembuatannya yang dapat memakan waktu berjam-jam ini. Dialah juru masak yang dipercaya Masjid Ghaudiyah selama bertahun-tahun.
"Untuk memasak buburnya, kita pakai beras 12 sampai 15 kilogram. Kalau prosesnya itu, yang pertama dagingnya dulu direbus dengan rempah-rempah sampai matang, baru kita masukkan santan, dimasak, baru kita masukkan beras. Setelah matang, kita masukkan tomat," ujar Salmah sambil mengaduk bubur yang hampir masak bersama rekannya, Rabu (25/2/2026).
Bubur India Selatan ini terkenal dengan daging kambingnya. Sehingga tak heran, aroma sedap merebak di tiap-tiap sudut masjid.
"Merebusnya saja 5 sampai 6 jam. Kurang lebihnya begitulah. Ada bumbu khususnya khas India. banyak campuran rempah-rempahnya, salah satunya adalah merica," lanjutnya.
2. Selain bubur, Masjid Ghaudiyah juga sediakan Teh Chai khas India untuk buka puasa

Selain bubur khas India Selatan, Masjid Ghaudiyah juga menyediakan kue untuk berbuka puasa. Bahkan minumannya pun menggunakan minuman khas India bernama Teh Chai.
"Teh Chai itu minuman ciri khas India Selatan, yang cita rasanya perpaduan antara teh tarik dengan bandrek. Tapi, tidak sama ya. Dia bukan bandrek, bukan pula teh tarik. Karena ada cita rasa yang berbeda," timpal Ketua Yayasan India Muslim Selatan Sumatera Utara, H. Muhammad Siddik Saleh.
Sambil berkelakar, ia menjuluki Teh Chai sebagai minumannya Jamaah Tabligh. Karena minuman yang selalu disediakan Masjid Ghaudiyah ini kental dengan nuansa akulturasi budaya.
"Jamaah Tabligh kalau di India sana, Nijamuddin, atau di mana saja, mereka kalau mau membangunkan orang Subuh, menyediakan sloki kecil. Dia tuang untuk Teh Chai, lalu dikasih orang. Jadi, orang ini yang mulanya enggak semangat dibangunkan, begitu diminum langsung semangat," bebernya.
3. Tiap hari 400 porsi makanan habis untuk buka puasa dengan biaya mencapai Rp6 juta

Tradisi menghadirkan makanan dan minuman khas India ini sudah dilakukan di Masjid Ghaudiyah dan Masjid Jami Kebun Bunga sejak tahun 1960-an. Sehingga tak heran, setiap berbuka puasa selalu ramai orang yang ingin mencobanya.
"Kalau setiap-tiap hari, dana yang habis dipakai untuk buka puasa itu sekitar Rp5 juta sampai Rp6 juta. Tapi khusus kalau hari Minggu, bisa sampai Rp10 juta. Karena tiap hari Minggu kira berbuka pakai kari kambing dan nasi briyani," ungkap Siddik.
Sekali masak, 30 kilogram daging kambing disebut Siddik ludes. Jika dibagi ke dalam mangkuk, bisa untuk makan 300 sampai 400 orang. Bahkan masyarakat setempat banyak yang membawa pulang kuah karinya yang begitu kental dan enak.
"Nasi briyani itu, kalau saya bilang, makanan termewah di dunia dalam bentuk nasi. Karena apa? Zaman dahulu, briyani ini enggak boleh untuk khalayak ramai di India. Itu masakan khusus untuk raja. Waktu masa Taj Mahal, menunya ya nasi briyani. Seiring berkembangnya waktu, kini telah dapat dirasakan semua bahkan sampai ke Indonesia," pungkasnya.


















