Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kuliner Khas Karo yang Mulai Langka namun Bikin Ketagihan

Kota Medan
5 Kuliner Khas Karo yang Mulai Langka namun Bikin Ketagihan
ilustrasi gulai batang pisang (youtube.com/Dapur Ngebul)

  • Tanah Karo memiliki beragam kuliner tradisional seperti kidu-kidu, cincang bohan, pagit-pagit, sayur umbut, dan tasak telu yang kini makin sulit ditemukan.
  • Kelangkaan makanan khas ini disebabkan bahan baku yang terbatas, proses masak rumit, serta minimnya regenerasi penerus resep turun-temurun di masyarakat Karo.
  • Pelestarian kuliner langka ini penting dilakukan melalui festival kuliner, promosi UMKM, dan dokumentasi resep agar warisan rasa Karo tetap hidup lintas generasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tanah Karo di Sumatra Utara tak hanya dikenal lewat panorama pegunungan yang sejuk dan kekayaan budayanya, tetapi juga memiliki warisan kuliner yang beragam. Selama ini, banyak orang hanya mengenal hidangan populer seperti BPK (Babi Panggang Karo), cimpa, atau arsik. Padahal, masyarakat Karo juga memiliki sejumlah makanan tradisional lain yang menyimpan cita rasa khas dan menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.

Seiring perkembangan zaman, sebagian kuliner tradisional Karo mulai jarang dijumpai. Ada yang sulit ditemukan karena bahan bakunya semakin langka, proses pembuatannya memerlukan waktu lama, hingga minimnya regenerasi yang mewarisi resep turun-temurun. Akibatnya, beberapa hidangan kini hanya disajikan pada acara adat, perayaan tertentu, atau masih bisa ditemukan di desa-desa yang tetap menjaga tradisi.

Bagi pencinta wisata kuliner, mengenal makanan khas Karo yang mulai langka bukan sekadar memanjakan lidah, tetapi juga menjadi cara untuk menghargai kekayaan budaya lokal. Berikut lima kuliner tradisional khas Karo yang kini mulai jarang ditemui, namun tetap menyimpan cita rasa autentik dan nilai sejarah yang patut dilestarikan.

  1. 1. Kidu-Kidu

    Kidu-kidu menjadi sajian mewah di setiap upacara adat penting zaman dahulu. (youtube.com/Alek Pinem)
    Kidu-kidu menjadi sajian mewah di setiap upacara adat penting zaman dahulu. (youtube.com/Alek Pinem)

    Kidu-kidu merupakan salah satu makanan ekstrem khas Karo yang berbahan dasar ulat dari pohon enau atau sagu. Ulat ini biasanya ditemukan di batang aren yang sudah membusuk, kemudian dibersihkan secara menyeluruh. Setelah itu, ulat digoreng hingga garing sebelum dimasak dengan bumbu khas Karo seperti andaliman, kecombrang, kunyit, dan kemiri.

    Dahulu, kidu-kidu menjadi sajian mewah di setiap upacara adat penting. Hidangan ini dianggap simbol kehormatan untuk para tetua adat dan tamu istimewa. Rasanya gurih dengan tekstur unik yang memancing rasa penasaran. Meski begitu, bahan baku yang langka membuatnya tidak hadir di setiap meja makan masyarakat umum.

    Kini, kidu-kidu semakin sulit ditemukan. Bahan bakunya hanya bisa didapat di hutan-hutan tertentu, dan tidak semua orang mahir mengolahnya. Hanya warung-warung adat di Tanah Karo atau acara adat khusus yang masih menyajikan hidangan ini.

  2. 2. Cincang Bohan

    Cincang Bohan (budayanasional.org)
    Cincang Bohan (budayanasional.org)

    Cincang bohan adalah hidangan daging atau ikan cincang, yang dimasukkan ke dalam batang bambu muda bersama rempah seperti serai, kelapa parut, cabai, dan andaliman. Bambu berisi campuran tersebut dibakar di atas bara api perlahan hingga matang. Proses ini memakan waktu dan membutuhkan keterampilan agar rasa rempah meresap sempurna.

    Hidangan ini biasanya disajikan dalam pesta panen atau “kerja tahun” di desa-desa Karo. Aroma harum bambu berpadu dengan rasa gurih pedas rempah membuat cincang bohan punya karakter rasa khas yang sulit dilupakan. Di masa lalu, kuliner ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada hasil bumi.

    Namun, karena proses masaknya panjang, cincang bohan jarang dibuat di luar acara adat. Kamu mungkin bisa menemukannya di beberapa rumah makan adat di Kabanjahe, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Generasi muda pun jarang mempraktikkan resep ini, membuatnya semakin langka.

  3. 3. Pagit-Pagit (Terites)

    Pagit-Pagit (Terites) (wikipedia.org)
    Pagit-Pagit (Terites) (wikipedia.org)

    Pagit-pagit atau terites dikenal sebagai sup tradisional yang cukup ekstrem. Bahan utamanya adalah isi lambung sapi atau kerbau yang masih mengandung rumput setengah cerna. Setelah dibersihkan, bahan ini dimasak bersama rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai, dan andaliman hingga menghasilkan kuah kental dengan rasa yang khas.

    Di masyarakat Karo, hidangan ini dipercaya memiliki manfaat kesehatan, terutama untuk pencernaan. Pagit-pagit sering disajikan pada acara adat besar atau ketika ada penyembelihan hewan. Rasanya yang unik menjadi pengalaman tersendiri bagi yang pertama kali mencicipi.

    Kini, hidangan ini sangat jarang ditemukan di luar acara adat. Bahan bakunya tidak selalu tersedia, dan tidak semua generasi muda tertarik mencoba atau mengolahnya. Akibatnya, pagit-pagit semakin jarang muncul di meja makan masyarakat Karo.

  4. 4. Sayur Umbut (Gulai Batang Pisang)

    Gulai batang pisang sering disajikan sebagai menu sehari-hari, terutama di pedesaan saat dahulu.(youtube.com/Dapur Bik Mika)
    Gulai batang pisang sering disajikan sebagai menu sehari-hari, terutama di pedesaan saat dahulu.(youtube.com/Dapur Bik Mika)

    Masakan gulai batang pisang atau sayur umbut menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat Karo memanfaatkan hasil alam secara kreatif. Bagian dalam batang pisang diiris tipis, direbus, lalu dimasak dengan santan dan bumbu seperti kunyit, serai, dan andaliman. Teksturnya lembut dengan rasa gurih yang khas.

    Di masa lalu, gulai batang pisang sering disajikan sebagai menu sehari-hari, terutama di pedesaan. Bahan yang mudah ditemukan di kebun membuatnya jadi pilihan praktis. Selain itu, hidangan ini juga sering muncul di acara adat karena porsinya yang bisa dibuat besar.

    Namun, urbanisasi membuat kebun dan pekarangan semakin berkurang. Batang pisang tidak lagi mudah didapat, dan masyarakat cenderung beralih ke menu yang lebih cepat disiapkan. Hal ini membuat gulai batang pisang semakin jarang ditemui, baik di rumah maupun di warung.

  5. 5. Tasak Telu

    Tasak Telu (cookpad.com/kristina barus)
    Tasak Telu (cookpad.com/kristina barus)

    Dalam bahasa Karo, tasak telu berarti “tiga jenis masakan”. Hidangan ini populer karena menggunakan ayam kampung sebagai bahan utama, yang kemudian dipadukan dengan darah atau hati ayam, daun ubi jalar, serta kelapa parut. Cita rasanya yang khas berasal dari perpaduan rempah dan cabai rawit dalam jumlah melimpah, menciptakan sensasi pedas yang menggugah selera.

    Hidangan ini biasanya hadir dalam acara-acara penting masyarakat Karo, seperti pesta kelahiran, pernikahan, hingga kerja tahunan. Proses memasaknya yang cukup panjang membuatnya identik dengan momen kebersamaan dan gotong royong.

    Meskipun saat ini tasak telu sudah mulai tersedia di beberapa rumah makan khas Karo di Medan, Berastagi, atau Kabanjahe, jumlahnya tetap terbatas. Proses yang panjang dan teknik masak yang spesifik membuatnya jarang diproduksi secara massal. Namun, cita rasa gurih-pedasnya yang unik berpotensi besar untuk kembali diperkenalkan sebagai ikon kuliner Sumatera Utara.

    Kelima kuliner ini bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari identitas budaya Karo. Jika tidak dilestarikan, kita bisa kehilangan warisan rasa yang kaya akan cerita. Menghidupkan kembali hidangan ini melalui festival kuliner, promosi UMKM, atau dokumentasi resep bisa menjadi cara menjaga agar cita rasa Karo tetap dikenal lintas generasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More