Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wisata di Kota Sabang, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Banda Aceh, IDN Times - Pulau Rubiah di kawasan Gampong Iboih, Kota Sabang, Aceh, selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari yang menawarkan keindahan bawah laut. Kejernihan air laut, terumbu karang, serta beragam ikan menjadi daya tarik wisatawan untuk snorkeling maupun diving.

Namun, di balik pesona alam tersebut, Pulau Rubiah juga menyimpan cerita masa lalu tentang seorang perempuan bernama Siti Rubiah. Namanya dipercaya masyarakat setempat menjadi asal-usul penamaan pulau yang kini ramai dikunjungi wisatawan tersebut.

Berdasarkan penuturan Hatta, seorang pemandu wisata setempat, Siti Rubiah merupakan sosok yang pertama kali bermukim di pulau itu. Cerita yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa ia merupakan istri Teungku Chik di Reubee, seorang ulama.

Menurut cerita tersebut, Siti Rubiah dan suaminya dahulu tinggal terpisah. Perpisahan itu dikaitkan dengan perbedaan pandangan mengenai pemeliharaan anjing.

Teungku Chik di Reubee tidak menyetujui kebiasaan istrinya memelihara banyak anjing. Perbedaan pandangan tersebut kemudian membuat Siti Rubiah diminta meninggalkan tempat tinggal mereka dan menetap di sebuah pulau yang saat itu belum memiliki nama.

“Pergilah ke pulau sana,” tiru Hatta saat menjelaskan asal-usul Pulau Rubiah.

Siti Rubiah kemudian menetap di pulau tersebut selama sekitar 40 tahun hingga akhir hayatnya. Masyarakat setempat pun mengaitkan namanya dengan penamaan Pulau Rubiah.

Meski demikian, kisah mengenai asal-usul nama pulau, hubungan Siti Rubiah dengan Teungku Chik di Reubee, serta perkiraan waktu kehidupannya masih memerlukan penelusuran melalui sumber sejarah dan keterangan keluarga atau ahli waris.


1. Makam Siti Rubiah menjadi bagian dari wisata religi

Wisata di Kota Sabang, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Selain dikenal melalui cerita asal-usul namanya, Pulau Rubiah juga memiliki makam yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan Siti Rubiah. Di sekitar lokasi tersebut terdapat makam anggota keluarganya, termasuk anak dan menantu.

Pemandu wisata setempat turut menjelaskan bahwa makam Teungku Chik di Reubee berada di lokasi berbeda. Menurut penuturannya, sebagian anak mereka juga dimakamkan di tempat tersebut.

Keberadaan makam-makam itu menjadi salah satu sisi lain yang dapat ditemukan wisatawan ketika berkunjung ke kawasan Iboih dan Pulau Rubiah.

Perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gampong Iboih, Cut Indra Suwari, mengatakan kawasan tersebut memang memiliki potensi wisata religi melalui keberadaan makam Siti Rubiah dan Teungku Iboih.

“Kalau religi, kita lebih ke makam sih. Karena kita kan kayak tadi itu ada makam Siti Rubiah, terus ada makam Teungku Iboih juga,” kata Cut Indra.

Meski demikian, ia mengakui pengembangan wisata di Gampong Iboih selama ini lebih banyak diarahkan pada sektor bahari. Hal tersebut sejalan dengan daya tarik utama kawasan yang dikenal memiliki keindahan bawah laut.

“Cuma walaupun kita fokusnya di bahari, Gampong wisata tapi kita tetap ada istilahnya kalau orang Aceh hukum adat laut. Jadi kita tetap di bawah hukum adat,” ujarnya.


2. Snorkeling hingga diving menjadi daya tarik utama

Wisata di Kota Sabang, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Di luar cerita sejarah dan keberadaan makam, Pulau Rubiah tetap menjadi tujuan wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam bawah laut.

Cut Indra menyebutkan snorkeling dan diving merupakan aktivitas yang paling banyak diminati pengunjung. Wisata snorkeling dapat dinikmati berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dengan tetap memperhatikan keselamatan dan pendampingan yang sesuai.

Sementara itu, aktivitas diving juga menarik wisatawan mancanegara yang ingin menjelajahi keindahan bawah laut kawasan tersebut.

Selain kedua aktivitas itu, wisatawan juga dapat mencoba paddle board. Aktivitas ini cukup diminati kalangan anak muda dan mahasiswa, terutama untuk menikmati suasana laut sekaligus mengabadikan momen liburan.

“Kalau wisata bahari di Iboih, kita yang paling sering itu snorkeling sama diving sebenarnya. Kalau diving itu seringnya mancanegara juga,” jelas Cut Indra.


3. Menikmati bawah laut melalui perahu akuarium

Wisata di Kota Sabang, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Wisatawan yang tidak ingin berenang atau menyelam tetap bisa menikmati keindahan bawah laut Pulau Rubiah melalui perahu kaca atau boat akuarium.

Menurut Cut Indra, pengunjung yang tertarik mencoba pengalaman tersebut dapat langsung mendatangi loket wisata untuk mendapatkan tiket dan arahan perjalanan.

Tarif perahu akuarium berkisar Rp300 ribu hingga Rp350 ribu per perahu. Wisatawan kemudian diajak berkeliling Pulau Rubiah sambil melihat pemandangan bawah laut melalui bagian kaca pada perahu.

“Kalau misalnya untuk naik boat kaca, akuarium bawah laut, itu bisa langsung ke loket. Jadi kita sistemnya ada loket, semua harga boat itu,” ujarnya.

Perjalanan mengelilingi pulau menggunakan perahu tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit, bergantung pada rute yang ditempuh.


4. Kunjungan wisata meningkat saat musim liburan

Wisata di Kota Sabang, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Cut Indra mengatakan kunjungan wisatawan ke Gampong Iboih masih berlangsung sepanjang tahun. Namun, jumlah pengunjung biasanya meningkat pada periode liburan panjang, libur sekolah, serta libur mahasiswa.

Sementara pada hari-hari biasa di luar musim liburan, jumlah wisatawan cenderung lebih sedikit.

“Kalau di Iboih, alhamdulillahnya sampai sekarang masih selalu ada pengunjung. Memang ada di momen-momen tertentu itu kurang pengunjungnya. Kayak sekarang ini bukan musim liburan,” tuturnya.

Menurutnya, periode tahun baru menjadi salah satu waktu dengan kunjungan wisatawan yang cukup ramai.

Ia mengajak wisatawan dari Banda Aceh maupun daerah lain untuk berkunjung ke Gampong Iboih. Selain menikmati wisata bahari, pengunjung juga dapat merasakan suasana Gampong yang lebih tenang dibandingkan kehidupan perkotaan.

“Kalau bagi para wisatawan dari Banda Aceh, istilahnya dari kota, kalau memang lagi cari tempat yang aman, damai, tentram, itu bisa langsung ke Gampong Iboih tempatnya,” kata Cut Indra.

Ia berharap wisatawan yang datang tidak hanya menikmati suasana alam, tetapi juga mencoba snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut yang menjadi kebanggaan kawasan Iboih.


Editorial Team

Related Article