Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rekam Jejak Legenda PSMS Tumsila dan Asal Mula Julukan Kepala Emas
Legenda PSMS Tumsila semasa hidup (IDN Times/Doni Hermawan)
  • Tumsila, legenda PSMS Medan berjuluk Si Kepala Emas, meninggal pada usia 79 tahun pada Kamis, 8 Oktober 2026, setelah menjadi bagian generasi emas klub era 1960-an hingga 1970-an.
  • Ia membawa PSMS Junior menjuarai Piala Soeratin 1967, lalu mencetak dua gol sundulan saat PSMS menang 2-0 atas Mohammaden di final Aga Khan Gold Cup 1967.
  • Bersama PSMS, Tumsila meraih gelar Perserikatan dan Marah Halim Cup, serta memperkuat Timnas Indonesia 1968-1978 yang menjuarai King's Cup 1968.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Nama Tumsila tidak bisa dilepaskan dari salah satu periode penting dalam sejarah PSMS Medan. Striker yang dikenal dengan julukan "Si Kepala Emas" itu menjadi bagian dari generasi emas Ayam Kinantan pada era 1960-an hingga 1970-an.

Tumsila mulai mencuri perhatian ketika memperkuat PSMS Junior. Bersama tim junior, ia ikut membawa PSMS menjuarai Piala Soeratin 1967. Prestasi tersebut menjadi pintu masuknya ke skuad senior PSMS.

Berikut rekam jejak Tumsila, legenda PSMS yang baru berpulang, Kamis (8/10/2026).

1. Cetak Dua Gol di Final Aga Khan Gold Cup

Tumsila (kiri) saat bersama Ade Jona dan Iswanda Ramli (Dok.IDN Times/istimewa)

Pada PON 1969 di Surabaya, ia memperkuat tim Sumatra Utara yang berhasil meraih medali emas. Sumut mengalahkan DKI Jakarta dengan skor 2-1 pada pertandingan final.

Salah satu momen paling ikonik dalam karier Tumsila terjadi saat PSMS mewakili Indonesia dalam Aga Khan Gold Cup 1967 di Bangladesh. Di partai final, PSMS menghadapi Mohammaden. Tumsila tampil sebagai pahlawan kemenangan. Ia mencetak dua gol melalui sundulan kepala yang membawa PSMS menang 2-0.

"Itu karena dia sering cetak gol lewat sundulan sehingga waktu Aga Khan Gold Cup di Pakistan beliau juga sumbang dua gol untuk PSMS menggunakan kepalanya," tutur Mantan Sekretaris Umum PSMS Julius Raja.

Jululan Kepala Emas melekat dengannya. Raja mengatakan, julukan itu dari Pangdam II Bukit Barisan Sarwo Edhie Wibowo. "Itu karena dia sering cetak gol lewat sundulan sehingga waktu Aga Khan Gold Cup di Pakistan beliau juga sumbang dua gol untuk PSMS menggunakan kepalanya," tutur King.

2. Bawa PSMS juara

Legenda PSMS Tumsila semasa hidup (IDN Times/Doni Hermawan)

Tumsila tidak berhenti pada satu gelar. Ia kembali menjadi bagian dari skuad PSMS yang meraih sejumlah prestasi di kompetisi nasional.

Bersama Ayam Kinantan, Tumsila tercatat ikut meraih gelar juara Perserikatan pada 1967, 1969, 1971, dan 1975. Pada edisi 1975, PSMS menjadi juara bersama Persija Jakarta. Selain kompetisi nasional, Tumsila juga ikut memperkuat PSMS dalam turnamen internasional Marah Halim Cup. PSMS berhasil menjadi juara pada 1972 dan 1973.

3. Dipanggil Timnas Indonesia

Logo baru jersey Timnas Indonesia (instagram.com/timnasindonesia)

Penampilan konsistennya bersama PSMS juga membuat Tumsila mendapat kesempatan memperkuat Timnas Indonesia. Ia tercatat menjadi bagian dari skuad Merah Putih pada periode 1968 hingga 1978. Salah satu prestasi yang diraihnya bersama Timnas adalah menjuarai King's Cup 1968 di Bangkok.

Indonesia menjadi juara setelah mengalahkan Birma, yang kini dikenal sebagai Myanmar, dengan skor 1-0 pada pertandingan final.

Deretan prestasi tersebut membuat Tumsila menjadi salah satu pemain penting dalam sejarah PSMS dan sepak bola Sumatra Utara.

Curated For You

Editorial Team

Related Article