Polemik Akomodasi Peserta AFF U-19, Ini Tanggapan PSSI Sumut
- PSSI Sumut menegaskan persoalan akomodasi peserta Piala AFF U-19 2026 di Medan tidak akan mengganggu turnamen dan seluruh kebutuhan tim tetap menjadi prioritas utama.
- Yosephine Sembiring menyebut PSSI Sumut bersama Panitia Lokal telah mengambil alih tanggung jawab akomodasi demi menjaga kelancaran dan nama baik Indonesia di ajang internasional tersebut.
- Pemko Medan membantah memiliki komitmen membiayai hotel peserta, menegaskan hanya bertugas memperbaiki fasilitas olahraga, sementara PSSI Sumut memastikan masalah sudah ditangani agar tim fokus bertanding.
Medan, IDN Times-Polemik akomodasi peserta ASEAN Boys Championship U-19 2026 atau Piala AFF U-19 yang berlangsung di Medan mendapat respons resmi dari PSSI Sumatera Utara. Organisasi sepak bola tersebut memastikan persoalan akomodasi tidak akan mengganggu jalannya turnamen dan seluruh kebutuhan peserta tetap menjadi prioritas.
Pernyataan itu disampaikan menyusul munculnya kabar mengenai sejumlah tim peserta yang harus berpindah hotel karena persoalan pembayaran akomodasi. Menanggapi hal tersebut, Sekretaris PSSI Sumut, Yosephine Sembiring, menegaskan pihaknya telah mengambil langkah cepat untuk memastikan seluruh peserta tetap mendapatkan pelayanan yang layak selama berada di Medan.
"Setahu kami, komitmen tersebut adalah antara Panitia Lokal dan Wali Kota Medan. Jika komitmen tersebut tidak bisa ditanggungjawabi oleh Wali Kota Medan, maka kami bersama Panitia Lokal sudah mengambil alih tanggung jawab tersebut," ujar Yosephine dalam pernyataan resminya, Selasa (2/6/2026).
1. PSSI Sumut sebut akan menanggung jawabi soal akomodasi

Menurut Yosephine, bagi PSSI dan Panitia Lokal, keberhasilan penyelenggaraan turnamen internasional jauh lebih penting daripada memperdebatkan persoalan yang dapat mengganggu fokus pertandingan. Terlebih, ajang ini membawa nama Indonesia di tingkat regional dan menjadi etalase kemampuan daerah dalam menggelar kompetisi internasional.
"Bagi PSSI dan Panitia Lokal, penyelenggaraan harus berjalan dengan baik, apalagi ini menyangkut nama baik bangsa," katanya.
2. PSSI Sumut sayangkan isu itu bergulir di tengah turnamen

PSSI Sumut juga menyayangkan munculnya persoalan tersebut di tengah berlangsungnya turnamen. Sebab, Sumatra Utara memiliki peluang besar menjadi tuan rumah berbagai agenda internasional lainnya di masa depan.
"Sebenarnya kami dari PSSI menyayangkan hal ini terjadi, apalagi ke depan kami akan membawa pertandingan-pertandingan internasional ke daerah ini," lanjut Yosephine.
3. Pemko Medan sebut turnamen AFF jadi tanggung jawab PSSI

Sebelumnya, Panitia Pelaksana ASEAN Boys Championship U-19, Muhammad Fauzi, menyebut beberapa peserta mengalami perpindahan hotel. Salah satunya Timor Leste yang tidak jadi menginap di Grand Mercure Medan dan dipindahkan ke hotel lain. Bahkan, menurut Fauzi, situasi serupa juga berpotensi dialami kontestan lainnya.
Pelatih Timor Leste, Emral Bustaman, juga membenarkan timnya sempat berpindah tempat menginap. Namun ia mengaku tidak mengetahui alasan di balik perpindahan tersebut dan memilih fokus mempersiapkan tim menghadapi pertandingan.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Medan membantah memiliki komitmen untuk membiayai akomodasi hotel peserta turnamen. Sekretaris Daerah Kota Medan, Wiriya Alrahman, menegaskan sejak awal Pemko hanya diminta membantu penyediaan dan pembenahan fasilitas olahraga yang digunakan selama turnamen berlangsung.
"Sejak awal tidak pernah ada komitmen dari Pemko Medan untuk menanggung biaya akomodasi hotel maupun penginapan lainnya bagi peserta AFF. Tidak pernah dibahas. Yang diminta kepada kami hanya pembenahan lapangan dan stadion," ujar Wiriya.
Meski terjadi perbedaan pandangan terkait tanggung jawab akomodasi, PSSI Sumut memastikan persoalan tersebut telah ditangani sehingga seluruh tim peserta dapat tetap fokus menjalani pertandingan. Organisasi itu juga mengajak seluruh pihak untuk kembali berkonsentrasi mendukung suksesnya ASEAN Boys Championship U-19 2026 demi menjaga citra Indonesia dan masa depan sepak bola Sumatera Uta












