Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
13 Tahun Adelle Jewellery, Padukan Anyaman Rotan Jadi Perhiasan Mewah
CEO Adelle Jewellery, Michael Surya dan Direktur Kriya Kemenekraf memamerkan The Woven Collection kerja sama dengan Kementerian Ekraf (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Adelle Jewellery meluncurkan The Woven Collection di Medan, memadukan anyaman rotan Indonesia dan fine jewellery kontemporer untuk menandai 13 tahun perjalanan merek.

  • Pengembangan koleksi melibatkan 50 pengrajin rotan; satu perhiasan dapat dikerjakan hingga 960 jam dan memiliki elemen bongkar-pasang untuk berbagai gaya.

  • Kemenekraf menghubungkan Adelle dengan pengrajin lokal dalam kolaborasi yang ditargetkan memperluas peluang pelaku kreatif serta mengenalkan perhiasan rotan ke pasar internasional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times- Kerajinan anyaman rotan yang selama ini identik dengan produk furnitur dan aksesori tradisional kini mendapat sentuhan berbeda. Melalui inovasi desain, material khas Indonesia tersebut diolah menjadi perhiasan mewah dengan nilai jual mencapai puluhan juta rupiah.

Inovasi ini dihadirkan Adelle Jewellery melalui The Woven Collection, hasil kolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf). Koleksi tersebut memadukan seni anyaman rotan Indonesia dengan desain fine jewellery kontemporer. Diluncurkan di Medan, Sabtu (31/10/2026), The Woven Collection menjadi bagian dari kampanye The Art of Jewellery sekaligus menandai perjalanan 13 tahun Adelle Jewellery. Pengembangannya melibatkan pengrajin rotan lokal untuk menerjemahkan keterampilan tradisional menjadi karya perhiasan bernilai tinggi.

CEO Adelle Jewellery, Michael Surya, mengatakan pemilihan rotan didasari keinginan untuk memperkenalkan kekayaan alam dan kerajinan Indonesia melalui produk yang memiliki daya saing di industri mewah.

Menurutnya, rotan memiliki karakter dan keunikan tersendiri. Material ini bahkan mulai mendapat perhatian dalam industri fesyen internasional sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

"Kita ingin mengangkat kerajinan Indonesia bahwa produk lokal juga bisa dijadikan barang mewah. Rotan memiliki gaya yang unik dan sekarang menjadi tren di dunia," ujar Michael.

1. Libatkan 50 Pengrajin Rotan, Pengerjaan Satu Perhiasan Capai 960 Jam

CEO Adelle Jewellery, Michael Surya memamerkan The Woven Collection kerja sama dengan Kementerian Parekraf (IDN Times/Indah Permata Sari)

Mengubah anyaman rotan menjadi perhiasan bukan pekerjaan sederhana. Adelle Jewellery melakukan riset dan eksplorasi bersama 50 pengrajin seni anyaman rotan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan karakter perhiasan modern.

Proses pengembangan dimulai dari mempelajari pola anyaman, membuat sketsa, mengeksplorasi bentuk, hingga menghasilkan prototipe. Setiap detail kemudian disesuaikan agar unsur kerajinan tradisional dapat berpadu dengan konstruksi perhiasan yang presisi.

R&D Manager Adelle Jewellery, Melissa Surya, mengungkapkan The Woven Collection menjadi salah satu koleksi dengan tingkat kompleksitas pengerjaan tertinggi.

Setiap bagian membutuhkan ketelitian agar menghasilkan desain yang tidak hanya elegan, tetapi juga nyaman dikenakan. Bahkan, waktu pengerjaan satu piece perhiasan bisa mencapai 960 jam.

Keunikan lainnya terletak pada desain yang memungkinkan sejumlah elemen dilepas, dipasang kembali, dan dikombinasikan. Dengan konsep tersebut, satu perhiasan dapat dikenakan dalam beberapa bentuk berbeda.

Koleksi ini terdiri dari sekitar 10 hingga 12 jenis produk, mulai dari cincin, anting, kalung, hingga aksesori lainnya, termasuk perhiasan untuk pria. Mengusung konsep wearable art, setiap produk tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga menjadi karya seni yang bisa dikenakan.

2. Kemenekraf Buka Ruang Kolaborasi dengan Pengrajin Lokal

Direktur Kriya Kemenekraf memamerkan The Woven Collection kerja sama Adelle dengan Kementerian Ekraf (IDN Times/Indah Permata Sari)

Dalam pengembangan The Woven Collection, Kementerian Ekonomi Kreatif berperan sebagai penghubung, kurator, sekaligus validator yang mempertemukan Adelle Jewellery dengan pengrajin rotan lokal.

Kolaborasi ini juga melibatkan Nine Square dan Long Story Short. Keduanya menghadirkan unsur anyaman rotan dalam dekorasi acara sekaligus menghasilkan Adelle Woven Clutch edisi terbatas.

Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif, Neli Yana mengapresiasi langkah Adelle Jewellery yang mengangkat kekayaan budaya lokal melalui inovasi desain perhiasan.

Menurutnya, Adelle menjadi salah satu mitra industri Kemenekraf yang menunjukkan bagaimana kreativitas dapat mengolah kearifan lokal menjadi karya bernilai tinggi, mulai dari fine jewellery hingga contemporary jewellery.

"Saya harap kolaborasi tersebut dapat membuka peluang lebih luas bagi perajin lokal, khususnya pengrajin rotan dan pelaku industri perhiasan, termasuk desainer, agar semakin dikenal di pasar internasional," ucapnya.

3. Targetkan Pasar Internasional, Produk Lokal Punya Nilai Tambah

CEO Adelle Jewellery, Michael Surya memamerkan The Woven Collection kerja sama dengan Kementerian Ekraf (IDN Times/Indah Permata Sari)

Bagi Adelle Jewellery, kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada peluncuran koleksi. Michael mengatakan pihaknya ingin melanjutkan kerja sama melalui pengembangan produk dan pendampingan bagi pelaku UMKM ekonomi kreatif.

The Woven Collection juga ditargetkan dapat diperkenalkan ke pasar internasional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membawa kerajinan Indonesia agar tidak hanya dikenal sebagai bahan baku, tetapi juga sebagai produk kreatif dengan nilai seni dan ekonomi yang lebih tinggi.

Transformasi anyaman rotan menjadi perhiasan mewah memperlihatkan peluang besar dari pertemuan antara keterampilan tradisional dan inovasi industri. Melalui kolaborasi lintas sektor, kekayaan kriya Indonesia memiliki kesempatan untuk menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat posisi produk lokal dalam industri kreatif global.

Editorial Team

Related Article