TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Power Up Desak Capres Deklarasikan Komitmen Atasi Krisis Iklim

Warga Pangkalansusu minta PLTU Batubara ditutup

Aksi 'Power Up' di SUMUT bentangkan spanduk berisi titah pilih presiden peduli bumi (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Medan, IDN Times – Kumpulan pemuda yang terdiri dari berbagai komunitas di Sumut bersama warga Pangkalansusu, Langkat menggelar aksi “Power Up”. Melalui aksi yang diselenggarakan di titik 0 Kota Medan itu, mereka mendesak Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Indonesia pada pemilu 2024 harus berkomitmen mengatasi krisis iklim.

Dengan membawa masalah yang dialami warga Pangkalansusu, mereka menyampaikan aspirasinya di depan khalayak agar memilih capres dan cawapres yang peduli dengan isu lingkungan serta transisi energi.

“Melalui aksi ini kita menginginkan Capres dan Cawapres berani mengangkat isu lingkungan. Kami mendorong mereka agar menumbuhkan kebijakan yang pro iklim,” kata Rimba Zaid selaku koordinator aksi.

1. Millenial tidak menerima janji palsu dalam menangani krisis iklim

Masyarakat Pangkalansusu terdampak polusi yang turut mengikuti aksi 'Power Up' (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Aksi “Power Up” disebut Rimba merupakan aksi global yang juga dilakukan di berbagai negara di penjuru dunia. Masyarakat sipil menggelar aksi tersebut untuk mendesak pemerintah di berbagai negara agar mengalihkan dana dan pengaruh politik dari perusahaan-perusahaan energi kotor yang selama ini mencemari atmosfer bumi dan menyebabkan terjadinya krisis iklim.

“Di Indonesia, anak-anak muda menggelar aksi power up untuk mendesak Capres dan Cawapres mendeklarasikan komitmen yang kuat dalam mengatasi krisis iklim dan transisi energi. Di Medan kami selaku kaum muda menyerukan pilih presiden yang peduli terhadap bumi,” tutur Rimba.

Di Indonesia aksi ‘Power Up’ dilakukan bersama 65 organisasi yang tersebar di 20 kota, baik itu di Aceh, Jakarta, Mataram, Lampung, bahkan Medan.

“Situsi saat ini sedang terjadi krisis iklim. Dan kita sudah tahu para Capres mulai sibuk kampanye, tapi dalam kampanyenya belum melibatkan keterkaitan kebijakan yang pro dengan iklim. Kita mendesak mereka agar membuat kebijakan pro terhadap iklim dan ketika dipilih nanti mereka benar-benar peduli terhadap situasi saat ini dan melakukan transisi energi yang bersih dan berkelanjutan,” kata Rimba.

Rimba menyebutkan bahwa sebagai anak muda dirinya tidak ingin lagi menerima janji palsu dalam menangani krisis iklim. Capres yang bakal terpilih nanti dianggapnya harus berani melakukan transisi energi yang bersih demi masa depan generasi mendatang.

“Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi mesin pembunuh senyap bagi masyarakat yang berada di sekitarnya. Energi bersih sudah ada dan cukup besar potensinya ketika dimanfaatkan oleh negara bakal membantu keselamatan serta kesehatan rakyat. Di pangkalansusu terdapat Pembangkit Listrik Batubara sebanyak 4 unit yang berkekuatan 800 MW dan setiap hari mampu meracuni anak-anak, perempuan, petani, hingga nelayan. Bahkan tidak sedikit dari mereka terserang penyakit seperti sesak napas, gatal-gatal, hingga kematian,” ujarnya.

2. Masyarakat Pangkalansusu mulai diracuni oleh PLTU

Rimba selaku koordinator aksi 'Power Up' (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Aliansi ini membawa perhitungan Tim Nexus 3 melalui dokumen Andal PLTU Batubara Pangkalansusu unit 3 dan 4. Bahwa PLTU Batubara Pangkalansusu membakar 11.885 Ton batubara perhari. Dan menghasilkan 713,10 Ton FABA, dengan rincian bottom ash (abu bawah) 213,93 Ton perhari dan fly ash (abu terbang) 499,17 Ton per hari.

Jika unit 3 dan 4 menghasilkan FABA sebanyak 499,17 Ton perhari, maka unit 1 dan unit 2 yang berkapasitas 2x200 Mega Watt juga menghasilkan FABA yang jumlahnya sama, artinya setiap hari ada 23,770 batubara yang dibakar, dan masyarakat Pangkalansusu setiap hari dihantam 1426,2 ton FABA setiap hari dengan 427,86 Ton abu bawah dan 998,34 Ton abu terbang.

“Di Pangkalansusu ada PLTU berbahan bakar batu bara. Masyarakat di sana mulai diracuni dan ruang hidup mereka dirampas. Petani dan nelayan kehilangan mata pencahariannya akibat polusi yang terjadi di Pangkalansusu,” jelas Rimba.

Pria yang aktif pada gerakan-gerakan peduli lingkungan ini menjelaskan jika masalah tersebut sangat krusial, bahkan berdampak pada masyarakat di Pangkalansusu yang mengalami berbagai macam penyakit.

“Saya rasa pemerintah sudah mengetahui permasalahan ini, namun mereka seperti tutup mata dan telinga. Kita pernah bertemu dengan Dinas Lingkungan Hidup Stabat. Di sana mereka tidak terlalu peduli terhadap lingkungan sekitar, alih-alih tentang keuntungan yang didapatkan dari investasi itu. Mereka tak memikirkan dampak yang terjadi di Pangkalansusu,” pungkasnya.

Baca Juga: PSDS Kalah dari Semen Padang, Zefrizal Dicemooh Penonton

Berita Terkini Lainnya