Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rani Jambak Mamasak Asa: Sulam, Bunyi dan Memori Marapi Minangkabau

Rani Jambak Mamasak Asa: Sulam, Bunyi dan Memori Marapi Minangkabau
Penampilan Rani Jambak sebagai seniman (Dok. Pribadi for IDN Times)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Rani Jambak menampilkan performans Mamasak Asa di Galeri Nasional Indonesia, memadukan sulam tradisional Minangkabau dengan teknologi bunyi dan narasi Tambo Alam Minangkabau dalam suasana meditatif.
  • Karya ini berpusat pada simbol Gunung Marapi sebagai asal-usul masyarakat Minangkabau serta terinspirasi semangat pemberdayaan perempuan dari tokoh Rohana Kudus melalui kolaborasi penyulam lokal.
  • Pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4 menampilkan 12 perupa perempuan lintas generasi yang mengeksplorasi seni, teknologi, budaya, dan lingkungan, dikuratori oleh Carla Bianpoen bersama timnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Medan, IDN Times – Ruang Pamer Gedung A Galeri Nasional Indonesia dipenuhi bunyi-bunyian lirih pada Sabtu (16/5/2026). Di tengah berlangsungnya pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4: On The Map – Towards New Futures, seniman bunyi asal Lasi, Sumatra Barat, Rani Jambak, mempersembahkan pertunjukan performans bertajuk Mamasak Asa.

Dalam pertunjukan tersebut, Rani menyulam di atas bingkai kayu tradisional Minangkabau atau pamedangan. Setiap tusukan jarum menghasilkan bunyi yang diolah menjadi komposisi audio melalui perangkat elektronik Touch Me dari Playtronica. Bunyi elektronik berpadu dengan soundscape alam dan rekaman pembacaan Tambo Alam Minangkabau, menciptakan suasana meditatif dan intim di ruang galeri.

1. Gunung Marapi menjadi pusat narasi karya ini

Performance Rani Jambak (12).png
Penampilan Rani Jambak sebagai seniman (Dok. Pribadi for IDN Times)

Mamasak Asa merupakan pengembangan dari instalasi multimedia interaktif Pamedangan yang dipamerkan dalam IWA #4 sejak 10 April hingga 30 Juni 2026. Karya ini mempertemukan teknik sulam tradisional Minangkabau Suji Caia, teknologi bunyi, video, dan partisipasi publik dalam satu pengalaman artistik.

Gunung Marapi menjadi pusat narasi karya ini. Rani menggunakan motif gunung yang disulam di atas kain tembaga EMF anti-radiasi untuk menggambarkan Marapi sebagai simbol asal-usul dan memori kolektif masyarakat Minangkabau. Narasi ini merujuk pada Tambo Alam Minangkabau yang menyebut Gunung Marapi sebagai tempat pertama leluhur Minangkabau menapakkan kaki.

2. Terinspirasi dari jejak sejarah perempuan Minangkabau, khususnya Rohana Kudus

Performance Rani Jambak (2).png
Penampilan Rani Jambak sebagai seniman (Dok. Pribadi for IDN Times)

Karya Rani juga terinspirasi dari jejak sejarah perempuan Minangkabau, khususnya Rohana Kudus. Pendiri Rumah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang tahun 1915 ini menjadikan sulam sebagai alat pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Semangat tersebut dilanjutkan Rani melalui kolaborasi dengan penyulam tradisional di Koto Tuo dan Essy Hariya, penyulam generasi keempat.

“Melalui karya ini saya ingin menunjukkan bahwa tradisi memiliki frekuensi yang masih bisa kita dengarkan hari ini. Menyulam menjadi cara untuk merawat hubungan manusia dengan lingkungan, tubuh, dan sejarahnya,” ujar Rani Jambak.

3. Pameran ini menghadirkan karya 12 perupa perempuan Indonesia lintas generasi

Performance Rani Jambak (4).png
Penampilan Rani Jambak sebagai seniman (Dok. Pribadi for IDN Times)

Pameran IWA #4 dikuratori oleh Carla Bianpoen, Nyoman Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi. Pameran ini menghadirkan karya 12 perupa perempuan Indonesia lintas generasi yang mengeksplorasi hubungan seni, teknologi, budaya, tubuh, dan lingkungan. Selain Rani Jambak, pameran ini juga menampilkan karya Ve Dhanita, Citra Sasmita, Irene Agrivina, Sri Astari Rasjid, Umi Dachlan, dan Lucia Hartini.

“Melalui Mamasak Asa, Rani Jambak tidak sekadar menghadirkan pertunjukan performans. Ia mengajak publik untuk mendengar ulang hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan akar budayanya,” ujar Inda C. Noerhadi, Ketua Yayasan Cemara Enam selaku penyelenggara IWA #4.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More