Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Willem Iskandar, Pelopor Pendidikan Indonesia dari Mandailing

Willem Iskandar, Pelopor Pendidikan Indonesia dari Mandailing
cuplikan buku dengan judul Willem Iskandar ( Sati Nasution ) Tokoh Pendidikan dan Sastrawan dari Sumatera Utara(dipersip.riau.go.id)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Willem Iskandar, lahir sebagai Sati Nasution di Mandailing Natal tahun 1840, kemudian dibaptis di Belanda dan mengganti nama menjadi Willem Iskandar.
  • Ia mendirikan Sekolah Kweekschool Voor Inlandsche Onderwijers Tano Bato pada 1862, sekolah guru pribumi yang berdiri 60 tahun sebelum Taman Siswa milik Ki Hajar Dewantara.
  • Willem wafat di Amsterdam pada usia 36 tahun, namun gagasan pendidikannya meninggalkan warisan besar bagi Sumatra Utara dan dikenang lewat nama jalan di Medan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Medan, IDN Times – Nama Jalan William Iskandar di Medan sudah sangat familiar di telinga warga. Tapi, siapa sebenarnya sosok di balik nama jalan protokol itu? Ia adalah Willem Iskandar, seorang pujangga, penulis, dan pelopor pendidikan dari Tanah Mandailing yang jasanya jarang disebut.

Pengamat Sejarah Ichwan Azhari menyebut, Willem adalah tokoh yang seharusnya tidak boleh dilupakan dalam sejarah pendidikan Indonesia.

“Banyak yang tidak tahu William Iskandar. Dia tokoh penting dalam sejarah pendidikan di Indonesia. Nama aslinya Sati Nasution. Kemudian dia pindah ke Belanda dan mengganti nama menjadi William Iskandar,” ujar Ichwan.

1. Dari Sati Nasution menjadi Willem Iskandar

Analisis-Ekokritik-Sastra-pada-Puisi-Williem-Iskandar-berjudul-Mandailing.jpg
Willem Iskandar merupakan tokoh nasional dari Sumatra Utara (Dok. Riau Sastra)

Willem Iskandar lahir dengan nama Sati Nasution di Pidoli Lombang, Mandailing Natal, Maret 1840. Ia anak bungsu dari empat bersaudara, keturunan ke-11 dari marga Nasution.

Setelah dibaptis di Arnhem, Belanda pada 1858, namanya berubah menjadi Willem Iskandar. Ia juga menyandang gelar Sutan Iskandar. Ayahnya Raja Tinating Nasution, dan ibunya Si Anggur.

2. Mendirikan sekolah guru 60 tahun lebih dulu dari Taman Siswa

ilustrasi Sekolah Rakyat (IDN Times/Sukma Mardya Shakti)
ilustrasi Sekolah Rakyat (IDN Times/Sukma Mardya Shakti)

Nama Willem Iskandar paling dikenal karena perannya di dunia pendidikan. Setelah menuntut ilmu di Belanda, ia pulang dan mendirikan Sekolah Kweekschool Voor Inlandsche Onderwijers Tano Bato pada 1862-1874.

Sekolah guru ini menjadi cikal bakal mencetak tenaga pendidik pribumi di masanya.

“Selama ini yang selalu diperingati sebagai tokoh pendidikan itu Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa. Padahal jauh sebelum Ki Hajar mendirikan Taman Siswa di tahun 1922, William Iskandar sudah mendirikan sekolah. Jadi, 60 tahun sebelumnya William Iskandar sudah mendirikan sekolah. Dan tidak tanggung-tanggung, sekolah guru,” tegas Ichwan.

Selain pendidik, Willem juga seorang pujangga bahasa. Karya-karyanya banyak menyair tentang pendidikan dan kecintaan pada kampung halaman.

3. Hidup singkat, warisan panjang

Buku berserakan
Ilustrasi buku (unsplash.com/Sincerely Media)

Willem Iskandar menikah dengan Maria Christina Jacoba Winter. Namun hidupnya tidak panjang. Ia wafat di Amsterdam, Belanda, pada 8 Mei 1876 dalam usia 36 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Zorgvlied Begraafplaats, Amsterdam.

Meski usianya singkat, gagasannya tentang pentingnya pendidikan bagi pribumi menjadi tonggak penting di Sumatra Utara (Sumut). Kini namanya diabadikan sebagai nama Jalan Willem Iskandar di Kota Medan.

Warisan Willem Iskandar lebih mendalam di dunia pendidikan dan sastra. Ia menjadi simbol semangat Mandailing untuk maju lewat ilmu pengetahuan.

Share Article
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan

Latest News Sumatera Utara

See More