Ilustrasi prajurit TNI Angkatan Darat (AD). (ANTARA FOTO/Aprilio Akbar)
KontraS Sumut menyebut keterlibatan TNI dalam pengamanan bisnis perusahaan dan perkebunan menjadi bagian terbesar dari temuan kekerasan sepanjang 2026. Dari 23 peristiwa yang mereka dokumentasikan, 15 di antaranya disebut berkaitan dengan PT Agrinas Palma Nusantara (PT APN).
KontraS mencatat sedikitnya 21 orang menjadi korban dalam rangkaian peristiwa tersebut. Dalam data yang disampaikan, 19 orang disebut mengalami luka-luka dan satu orang meninggal dunia
Staf Kampanye dan Opini Publik KontraS Sumut Adhe Junaedy mengatakan penempatan personel TNI dalam pengamanan kepentingan ekonomi membuat posisi warga dan aparat menjadi tidak seimbang.
“Ketika prajurit TNI ditempatkan untuk mengamankan kepentingan ekonomi, maka relasi antara negara, perusahaan dan masyarakat menjadi timpang. Warga yang seharusnya dilindungi justru berhadapan dengan prajurit yang memiliki kemampuan koersif jauh lebih besar,” kata Adhe dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).
Keterlibatan prajurit TNI juga disebut terjadi dalam konflik agraria di Dusun Pondok Pool, Desa Limau Manis, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. KontraS Sumut menyatakan personel TNI terlibat langsung dalam upaya menggusur ruang hidup masyarakat di kawasan tersebut.
KontraS meminta keterlibatan TNI dalam pengamanan kegiatan ekonomi dan perkebunan dievaluasi. “Negara tidak boleh berlindung di balik dalih keamanan, investasi, ketahanan pangan, aset negara, atau kepentingan nasional sebagai alasan untuk menormalisasi kekerasan yang dilakukan TNI terhadap warga,” ujar Adhe.