Medan, IDN Times - Monumen Bandar Betsy di Kabupaten Simalungun selama ini identik dengan peristiwa tewasnya Letda Anumerta Sujono pada 14 Mei 1965. Namun, di balik tugu tersebut, tersimpan lapisan sejarah agraria, politik, dan ingatan kolektif yang jauh lebih kompleks.
Bukan Sekadar Tragedi 1965, Sejarawan Ungkap Makna Lain Monumen Bandar Betsy
Sejarawan, M. Azis Rizky Lubis menilai, Monumen Bandar Betsy tidak dapat dipisahkan dari Peristiwa Bandar Betsy yang terjadi di kawasan perkebunan karet milik negara tersebut.
"Kalau kita menggunakan istilah akademik, Monumen Bandar Betsy tidak dapat dipisahkan dari Peristiwa Bandar Betsy pada 14 Mei 1965. Latar belakang peristiwa ini tidak sesederhana narasi sekelompok orang menyerang seorang tentara. Di belakangnya terdapat persoalan agraria yang sangat kompleks," ujar Azis kepada IDN Times, Kamis (1/10/2026).
Menurut Azis, pada masa Demokrasi Terpimpin, konflik penguasaan tanah perkebunan negara meningkat di berbagai wilayah, termasuk Sumatra Utara. Di Bandar Betsy, terjadi aksi pendudukan atau penggarapan lahan milik perkebunan negara oleh massa yang dikaitkan dengan Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat.
Ia pun mengingatkan agar penggunaan istilah pelaku tidak disamaratakan. "Tidak tepat apabila seluruh massa yang hadir pada saat itu secara otomatis disamakan dengan satu kategori politik tertentu. Kita perlu membedakan aktor organisasi, individu yang terlibat langsung dalam kekerasan, dan massa yang hadir dalam aksi agraria," katanya.
