Grand Mercure Medan Angkasa menggelar perayaan Hari Batik Nasional bertajuk Jejak Warisan (Dok. Grand Mercure Medan Angkasa)
Sementara itu, pengrajin batik sekaligus pemilik butik Langgam, Evi Amroeni, menekankan keunggulan batik Sumatra Utara yang belum banyak dikenal masyarakat.
"Keunggulan batik Sumatra Utara itu luar biasa. Saya sendiri mengumpulkan ornamen-ornamen melalui penelitian ke daerah-daerah, semua kabupaten di Sumatra Utara sudah saya kunjungi. Ornamen itu saya kumpulkan dari rumah adat dan benda pakai," kata Evi.
Menurut Evi, ornamen Sumatera Utara memiliki kekhasan yang tidak dimiliki daerah lain. Ia menyebut ratusan motif dari berbagai etnis, seperti Melayu dengan motif pucuk rebung, lebah bergantung, semut beriring, itik pulang petang, dan awan larat, serta Batak Toba dengan gorga Dalihan Na Tolu dan Karo dengan motif Tapak Raja Sulaiman.
"Ornamen kita itu tidak ada di Jawa. Tantangan melestarikan batik di Sumatera Utara memang berat untuk dianggap sebagai wastra Sumatra Utara. Padahal saya tidak hanya berbicara tentang wastra, tapi tentang penyelamatan budaya. Kalau bangunan roboh, ornamennya juga hilang. Kita rugi dua kali. Kalau ornamennya kita angkat dan pindahkan ke kain, selain ornamennya lestari, kita juga mudah memperkenalkan motif Sumatra Utara ke luar," ujarnya.
Evi menjelaskan, setiap motif memiliki makna filosofis dan cerita tersendiri. Bahkan, teknik membatik tulis pun mengandung filosofi, seperti tarikan canting dari dalam ke luar yang dimaknai sebagai hubungan manusia dengan sesama, dan tarikan dari atas ke bawah sebagai hubungan manusia dengan Tuhan.
Ia menyayangkan masih banyak masyarakat Sumatra Utara yang menggunakan batik printing bermotif luar daerah.
"Kalau masih memakai batik printing dengan motif dari luar Sumatra Utara, sangat disayangkan. Tidak ada eksistensinya. Padahal ornamen kita sangat banyak yang perlu dilestarikan," katanya.
Terkait pemasaran, Evi mengaku aktif mengikuti pameran binaan Bank Indonesia hingga ke Jakarta dan telah menjalin kerja sama internasional. Beberapa di antaranya dengan Kedutaan Singapura dan guru-guru dari Jepang yang rutin menggelar workshop di Langgam untuk mengenal batik.
Evi juga mengapresiasi langkah Grand Mercure Medan Angkasa yang peduli terhadap kelestarian batik.
"Saya sangat senang Grand Mercure Medan Angkasa menyelenggarakan acara seperti ini. Artinya mereka peduli dengan pelestarian budaya. Harapannya, pihak lain juga mengikuti," ucapnya.
Ia berharap batik tidak lagi dipandang sebagai milik satu daerah saja.
"Batik adalah Indonesia, bukan hanya Jawa. Warisan tak benda ini adalah milik Indonesia. Harapan saya, tiap daerah, tiap provinsi, khususnya di Sumatera Utara, tiap kabupaten muncul batiknya sendiri," tutup Evi.