Geliat Jong Batak’s Arts Festival 2025, Angkat Budaya Pangan Sumut

Medan, IDN Times - Banyak cara yang dilakukan untuk memantik gairah berseni. Terlebih kreativitas dan inovasi sangat dibutuhkan agar animo anak muda dapat terpelihara dengan baik.
Di era yang serba digital ini asupan-asupan berbasis etnografi lambat laun semakin tidak diminati anak muda. Padahal prinsip kebudayaan memegang peranan yang sangat esensial dan memiliki nilai luhur kental.
Rumah Karya Indonesia dalam hal ini berdiri sebagai wadah yang selalu berikhtiar menghadirkan ruang-ruang kreatif dan pertunjukkan berbasis kebudayaan di Kota Medan. Demi meningkatkan gairah anak muda berkreativitas, misi mereka pada tahun 2025 ini ialah mengadakan Jong Batak’s Arts Festival, yang akan menjadi salah satu perayaan kelas wahid yang wajib dinantikan!
1. Rumah Karya Indonesia akan helat Jong Batak's Arts Festival 2025 di Kota Medan

Rumah Karya Indonesia atau sering disebut RKI merupakan sebuah organisasi yang di dalamnya diisi para seniman dari berbagai disiplin ilmu. RKI telah lahir dan berproses menghadirkan ruang-ruang kreatif berupa pertunjukan di Kota Medan hingga kabupaten/kota di sekitaran Danau Toba.
Sesuai dengan gairah organisasi ini dibentuk, mimpinya adalah menjadi ruang kolaborasi para seniman yang dapat melahirkan festival. Di mana festival yang dimaksud bukan hanya sekadar perayaan, namun bisa menjadi perjumpaan semangat anak muda untuk berkarya dan mengembangkan potensi diri.
Dalam mewujudkan setumpuk misi-misi itu, RKI akan menghelat pergelaran akbar yang disebut Jong Batak’s Arts Festival (JBAF). Ini menjadi langkah signifikan RKI di tahun 2025.
"Jong Batak’s Arts Festival (JBAF) menjadi festival pertama RKI. Tahun 2025 ini menjadi tahun ke-12 JBAF dilaksanakan di Kota Medan, dengan tema 'Pangan Nusantara'," ujar Ojax Manalu selaku Direktur Rumah Karya Indonesia.
2. Tradisi kuliner dan pangan Sumatera Utara jadi tema yang akan diangkat

Rumah Karya Indonesia meyakini bahwa Indonesia dengan ribuan pulau dan beragam suku bangsa, sangat kaya dengan keanekaragaman budaya. Hal ini pula disebut Ojax dapat ditemukan di Sumatera Utara dan kehidupan Masyarakat Batak.
"Hal inilah yang mendasari Rumah Karya Indonesia, masih setia untuk terus menggali, mengeksplorasi, dan menghadirkan festival JBAF," tuturnya.
Jong Batak’s Arts Festival adalah festival pertama Rumah Karya Indonesia, melintasi waktu 12 Tahun dengan berbagai tema yang sudah dilaksanakan.
"Tahun 2025 ini, kajian kebudayaan festivalnya akan digali lebih dalam, seperti tradisi kuliner, pangan lokal di Sumatera Utara, yang menjadi warisan budaya selama ribuan tahun dan masih dipertahankan sampai sekarang," lanjutnya.
3. Penyelenggaraan diskusi bertema kebudayaan jadi bagian dari Jong Batak's Arts Festival

Mengawali langkah ini, RKI lebih dulu menghelat diskusi komprehensif dengan tajuk “Pangan Lokal, Sejarah, dan Aspek Budaya”. Diskusi ini adalah bagian dari rangkaian Jong Batak’s Arts Festival.
Diskusi menggali perkembangan pangan lokal di Sumatera Utara, analisa aspek budaya dalam pangan lokal, dan tantangan pangan lokal kedepannya. Hal ini disampaikan oleh Audrin Manurung selaku Direktur Jong Batak’s Arts Festival.
"Apa yang menjadi pokok pembahasan dalam diskusi ini tentunya akan sangat membantu dalam pelaksanaan Jong Batak’s Arts Festival dan nantinya akan dikembangkan lagi dengan paduan pertunjukkan seni dan budaya," ujar Audrin Manurung.
Kehadiran rangkaian diskusi Pangan Nusantara sebagai program JBAF 2025 adalah membuka celah alternatif tentang pangan sebagai soft-campaign antara sumber pangan, manusia, produksi yang dibalut lewat pertunjukan seni budaya dan diskusi yang akan hadir setiap bulannya.
Festival kali ini akan membawa nuansa baru dan berbeda dengan 11 tahun sebelumnya. Ini menjadi geliat dan napas baru Jong Batak’s Arts Festival. Perkembangan event ini dapat dipantau di akun sosial media Rumah Karya Indonesia dan Jong Batak’s Arts Festival.