Comscore Tracker

Cerita Averiana Barus Buka Rumah Uis karena Cinta Budaya Karo

Uis Averiana sudah dijual sampai mancanegara

Medan, IDN Times - Memang asyik jika memiliki kesukaan terhadap sesuatu yang identik dengan budaya dan menghasilkan hal yang positif. Seperti halnya yang dilakukan Averiana Barus, wanita asal Medan ini yang sempat tinggal di Bandung.

Sejak dulu ia memang telah jatuh hati terhadap adat Karo, dan semua hal tentang Karo pun menjadi identitas dirinya. Salah satu yang bikin ia kepincut adalah Uis.

Uis adalah barang atau kain yang sakral untuk setiap acara maupun kegiatan dalam peradatan dan budaya sehingga menjadi al yang pertama mencuri perhatian Ave. Selain digunakan sebagai pakaian resmi dalam kegiatan adat dan budaya, pakaian ini sebelumnya digunakan pula dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional Karo. Kini Averiana punya galeri Uis sendiri. 

Berikut rangkuman cerita dari Averiana Barus tentang kecintaannya terhadap suku Karo dan cara ia memperkenalkan suku ini ke masyarakat luas.

1. Sekilas tentang Uis

Cerita Averiana Barus Buka Rumah Uis karena Cinta Budaya KaroSuasana di rumah Uis Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Jika diulas sedikit, kata Uis Gara berasal dari Bahasa Karo, yaitu Uis yang berarti kain dan Gara yang berarti merah. Disebut sebagai “kain merah” karena pada uis gara warna yang dominan adalah merah, hitam, dan putih, serta dihiasi pula berbagai ragam tenunan dari benang emas dan perak.

"Sebenarnya gak terbayang juga sampai begini, karena waktu itu kan memang tidak ada yang khusus untuk buka usaha UIS secara modern. Artinya penjual UIS dipajak (pasar) ada tapi hanya juga UIS saja seperti ini. Dan memang pada waktu itu orang-orang hanya menggunakan UIS hanya untuk acara adat saja," ujarnya dalam cerita dengan tak disangka jadi saat ini.

1. Berawal tugas kuliah buat paper tradisional memilih desain tradisional hingga menjadi peluang bisnis

Cerita Averiana Barus Buka Rumah Uis karena Cinta Budaya KaroSuasana di rumah Uis Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Berawal dari Ave memiliki tugas kuliah di salah satu kampus Pascasarjana Komunikasi untuk membuat paper perusahaan sendiri dengan produk sendiri dengan desain se-kreatif mungkin.

Lalu, Ave berpikir dan memilih desain tradisional yakni paper aksesoris seperti anting, tas-tas dan lain-lain. Memulai dengan guting-menggunting dan dipasarkan secara online.

2. Uis kian banyak diminati hingga ke mancanegara

Cerita Averiana Barus Buka Rumah Uis karena Cinta Budaya KaroAveriana Barus pemilik Rumah Uis Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Namun, tak disangka malah menjadikannya peluang bisnis. Ave panggilan akrabnya, yang dikenal sebagai pelopor produk tradisional berbahan Uis Karo. Tak disangka saat ini, produknya banyak diminati masyarakat hingga ke manca negara.

Adapun produk yang telah diciptakannya untuk memperkenalkan budaya Karo yaitu gelang, kalung, clutch, tas, dan busana-busana dress. Ave mengakui dengan melihat peluang yang terbuka lebar, dibumbui semangat melestarikan budaya Karo, ia mulai serius menekuni bisnisnya meski lewat sosial media sebagai alat pemasarannya.

Konsumen Rumah Uis sudah ada hampir di setiap kota besar dan bahkan termasuk beberapa juga sudah ada pesanan dari manca negara. Produk juga kebanyakan diproduksi di Rumah Uis, dan sebagian di rumah-rumah perajin.

“Dulunya  orangtua  berpikir mungkin saya akan hidup lebih santai  dan berpenghasilan besar dengan bekerja sesuai sekolah saya. Akhirnya setelah melihat perkembangan usaha, orangtua mendukung penuh hingga saat ini,” ujarnya.

Untuk banderol produk yang dibanderol oleh Ave di Rumah Uis berkisar mulai dari Rp35ribu hingga Rp4jutaan.

Baca Juga: Pasca Gunung Sinabung Meletus, Ini 7 Tempat Wisata Baru di Tanah Karo

3. Ave akui harga Uis mahal karena rangkai benang secara manual dengan motif relatif halus

Cerita Averiana Barus Buka Rumah Uis karena Cinta Budaya KaroSuasana di rumah Uis Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Produk Uis dibanderol lebih mahal, karena merangkai benang secara manual atau handmade hingga menjadi Uis dengan motif relatif halus.

Menurut Ave, perbedaan ulos dan uis adalah motif, warna (biru dan merah) serta proses pembuatan.

"Ditenun secara manual semua. Jadi, yang dilihat semua masih tenun manual termasu batik yang cap tulis. Artinya masih handmade karena memang untuk dipakai sehari-hari dalam peradatan Uis Karo gak ada yang tenun mesin semua manual," ucap Ave.

Ave mengakui yang paling diminati konsumen adalah baju kombinasi dengan signature rumah Uis, dan terus mengembangkan inovasi dari kain original asal Karo ini.

Baca Juga: Warisan Budaya, Toba Tenun Perkuat Ekosistem Kain Ulos di Daerah

Topic:

  • Doni Hermawan
  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya