5 Cara Unik Orang Sumut Merayakan Malam Tahun Baru

- Mandok Hata, Tahun Baru Dimulai dengan Bicara Jujur
- Marbinda, Patungan Setahun demi Daging yang Sama Rata
- Marpangir dan Ibadah Akhir Tahun, Bersih Lahir dan Batin
Pergantian tahun di Sumatera Utara jarang dipahami sekadar hitung mundur dan pesta kembang api. Di banyak keluarga Batak dan masyarakat urban, Tahun Baru justru menjadi momen serius untuk membereskan urusan yang tertinggal sepanjang tahun.
Di balik suara petasan dan asap jagung bakar, ada tradisi yang bekerja pelan tapi dalam, menyelesaikan konflik keluarga, memastikan semua orang kebagian makan, hingga membersihkan diri secara simbolik sebelum masuk ke tahun berikutnya.
Cara orang Sumut merayakan Tahun Baru menunjukkan satu hal penting, waktu tidak hanya dirayakan, tapi dikelola. Ada yang dikelola emosinya, ekonominya, sampai relasi sosialnya. Inilah lima cara unik yang masih bertahan dan terus beradaptasi hingga hari ini.
1. Mandok Hata, Tahun Baru Dimulai dengan Bicara Jujur

Tradisi Mandok Hata paling kuat dijumpai di wilayah Tapanuli Raya seperti Toba, Humbang Hasundutan, dan Samosir, serta di keluarga Batak Toba perantauan di Medan dan kota-kota besar lainnya. Tepat di jam nol, keluarga memilih duduk melingkar di dalam rumah, bukan keluar menonton kembang api.
Anak-anak menyampaikan pengakuan, orang tua membuka ruang maaf, dan suasana sering berubah haru. Di rumah-rumah Batak, Tahun Baru dimulai bukan dengan teriakan gembira, tapi dengan keberanian untuk jujur satu sama lain. Di era perantauan, Mandok Hata tetap dilakukan lewat video call layar ponsel menjadi pengganti tikar di ruang tengah.
2. Marbinda, Patungan Setahun demi Daging yang Sama Rata

Marbinda masih lazim dilakukan di daerah pedesaan seperti Tapanuli Utara, Simalungun, Dairi, dan kampung-kampung sekitar Danau Toba. Warga patungan jauh hari untuk membeli atau memelihara hewan ternak yang akan disembelih menjelang Natal dan Tahun Baru.
Yang khas, pembagian daging dilakukan sama rata. Tidak ada konsep memilih bagian terbaik. Semua peserta mendapat jatah yang setara. Di tengah lonjakan harga daging akhir tahun, Marbinda menjadi cara komunitas desa bertahan sekaligus merayakan kebersamaan tanpa beban ekonomi berlebihan.
3. Marpangir dan Ibadah Akhir Tahun, Bersih Lahir dan Batin

Marpangir masih sering dijumpai di kawasan Toba dan Samosir. Sore 31 Desember, warga membersihkan diri dengan air ramuan jeruk purut dan rempah sebagai simbol pembersihan sebelum tahun berganti. Kini maknanya lebih sederhana: segar dan siap memulai kembali.
Malamnya, gereja-gereja di Pematang Siantar, Balige, Tarutung, hingga Medan dipenuhi jemaat dalam ibadah akhir tahun. Lagu-lagu lama dinyanyikan dengan emosi, tangisan sering pecah, dan kesedihan setahun terakhir dilepaskan bersama sebelum melangkah ke hari esok.
4. Martarombo dan Open House, Merapikan Relasi Sosial

Momentum mudik akhir tahun dimanfaatkan keluarga Batak di Tapanuli dan Karo untuk Martarombo, menelusuri silsilah keluarga. Anak-anak yang besar di rantau dikenalkan kembali pada hubungan darah dan panggilan adat yang tepat.
Di wilayah urban seperti Medan, tradisi ini berbaur dengan Open House Tahun Baru. Rumah-rumah tokoh masyarakat terbuka untuk tamu lintas agama. Makanan disesuaikan, obrolan mengalir tanpa sekat, dan perayaan menjadi ruang toleransi yang nyata, bukan slogan.
5. Bakar- Bakar dengan Keluarga

Aroma ayam, Jagung, atau ikan yang dibakar merata hampir di seluruh Sumatera Utara, dari Medan, Binjai, hingga Tebing Tinggi. Di teras rumah dan pinggir jalan, warga berkumpul sambil mengipas di atas bara arang. Menikmati suasana hangat dengan keluarga sambil berbagi cerita, dan menunggu tahun berganti tanpa biaya besar.
Kegiatan ini kerap menjadi opsi jika keluarga tidak ingin bermacet - macet ria menikmati tahun baru di luaran. Bersama keluarga, kegiatan unik namun rutin ini menjadi penyambut yang mudah dijumpai di rumah-rumah pada malam pergantian tahun.
Perayaan Tahun Baru di Sumatera Utara bukan soal siapa paling meriah, tapi siapa paling siap memulai ulang. Emosi dibereskan lewat Mandok Hata, ekonomi dijaga lewat Marbinda, batin disegarkan lewat ibadah dan Marpangir, serta kerekatan keluarga semakin terjaga berkat kebersamaan bakar-bakar malam tahun baru.
Tradisi lama tentu tidak ditinggalkan, hanya menyesuaikan zaman. Dari kampung hingga kota, orang Sumut menunjukkan bahwa Tahun Baru bukan sekadar pergantian tanggal, melainkan momen merapikan hidup, pelan, jujur, dan bersama-sama.


















