Comscore Tracker

[EKSKLUSIF] Cerita Mongol Stres, Dari Stand Up Comedy hingga Politik

"Restu orangtua yang paling penting"

Medan, IDN Times - Rony Immanuel yang lebih dikenal dengan sebutan Mongol Stres atau Mongol ini adalah salah satu Stand Up Comedy asal Manado.

Mongol sering membawa materi lawakan di batas sensitivitas, seperti tentang soal etnisitas misalnya. Selain itu, Mongol juga dikenal dengan materi lawakannya tentang pria gay yang kerap diistilahkan olehnya sebagai 'Pria KW'. 

Nah, saat menjadi juri di acara Kompetisi Stand Up Comedy Freedom di Serayu Kopi, Sabtu (30/3). IDN Times berbincang dengan Mongol. Seperti apa? Berikut cerita Mongol dan karier politiknya. 

1. Ngapain nih di Medan?

[EKSKLUSIF] Cerita Mongol Stres, Dari Stand Up Comedy hingga PolitikIDN Times/Masdalena Napitupulu

Gue di Medan buat ngejuri acara kompetisi Stand Up Comedy Freedom.

Untuk syarat pemenang, gimana?

Materinya harus original, gak boleh rasis gak boleh SARA, yang paling penting adalah bagaimana dia buat materi, itu yang akan kita nilai sekalipun sudut pandang yang berbeda tapi gak boleh ngambil sama dengan orang sebelah, gak boleh ngambil punya orang.

Range usianya?

Range usia ada 16-30 tahun, yang pasti peserta 25 orang.

Apasih arti Stand Up bagi Mongol?

Dari Mongol sendiri Stand Up itu sebuah genre komedi yang sejujurnya di Indonesia udah ada dari dulu. Tapi beda nama dulu namanya nyolo itu pertunjukan ngelawak sendirian sebelum ludruk atau ketoprak.

Yang lain-lain udah ada, Alm Taufik Safala, ada Alm Indra Safera, dulu juga udah pernah ngelawak sendiri dan beberepa teman-teman yang lain, di Indonesia mungkin baru. Dari 2014 udah ada dulu di mulai dari Raditya.

Baca Juga: Mongol Stres Datang ke Medan Sabtu Nanti, Mau Ngapai Sih?

2. Oh iya, kabarnya Mongol sekarang jadi Ketua DPW Garda Pemuda NasDem Sulawesi Utara?

[EKSKLUSIF] Cerita Mongol Stres, Dari Stand Up Comedy hingga PolitikIDN Times/Masdalena Napitupulu

NasDem kan punya sayap partai, salah satunya ada Garda Pemuda, nah saya ketua DPW Garda Pemuda NasDem Sulut. Kenapa tertarik gabung? Karena tagline khusus partai NasDem itu restorasi Indonesia.

Ya menurut Mongol itu jualan yang sangat bagus, kenapa bagus? Kita merestorasi, kita sudah menikmati Indonesia dari zaman Belanda ke zaman Jepang, nah ini harus kita rubah dengan gerakan perubahan.

Untuk Sulawesi Utara, gue adalah dewan yang paling banyak memimpin anak muda, yang paling tua bahkan gue, gue kan 41.

Mongol dikabarkan mau jadi Caleg, kenapa gak jadi?

Iya, restu orangtua yang paling penting, sampai jam 7 malam mama saya bilang gak boleh, tapi saya becandain gimana kalau saya jadi wali kota? Dia bilang boleh, dia gak setuju kalau saya jadi politikus, dia lebih setuju kalau saya masuk birokrasi.

3. Apa nih suka duka jadi Stand Up Comedy?

[EKSKLUSIF] Cerita Mongol Stres, Dari Stand Up Comedy hingga PolitikIDN Times/Masdalena Napitupulu

Setiap hidup sukadukanya ada. Saat dompet kosong teman gak ada, kalau kita fokus ke suka duka nya ya mau gimana? Kita susah nyombong kalau gue punya mobil alpard juga gak ada yang percaya, muka udah kayak tukang bentor.

Ya kalau di tanya suka duka jadi stand up, ada beberapa gig yang berat, Stand Up di depan orang meninggal ya berat.

Pernah, ada videonya di rumah duka Gatot Subroto, gue disuruh Stand Up di depan istri yang suaminya meninggal, tiba-tiba dipanggil kita dengarkan Stand Up Comedy dari Mongol, ya pucat gue dan itu di release di Asia.

Mongol adalah Stand Up Comedy terberani, ya, dibilang Stand Up nanti hibur oma ya, nanti di transfer. Dengar kata transfer gue langsung berani.

4. Orang nanya kenapa mau jadi Stand Up dan menikmati Stand Up?

[EKSKLUSIF] Cerita Mongol Stres, Dari Stand Up Comedy hingga PolitikIDN Times/Masdalena Napitupulu

Ya karena hitungan kerja kantoran ya gaji berapa sih? Di acara begini gue 40 menit udah dapat Rp 70 juta, ya semua akan termotivasi kalau dengar jumlah uang.

Stand Up termahal saat ini kan cuma dua kalau di corporate, gue sama Cak Lontong. Saat ini kita gak rebutan pasar, kita udah punya pasar sendiri.

Hidup ini dibawak santai aja. Nah saat ini, gue juga gak pernah nge gym, karena gue udah ngelakuin penelitian 100 cowok di tempat gym, 98 nya pasti gak normal, tapi gak semua tempat gym sih.

Tapi gue pernah lihat cowo, gue kira ngangkat barbel tahu-tahunya bukan ngangkat barbel eh malah aerobikan, eh lu kenapa? gue tanyain kan, dia jawab biar gue gak tepos. Ih cowo normal itu kalau dia tepos, ya kalau semok kan bencong goceng.

Ya, gini gue ngegignya, karna gue gak kerja di kantor yang lama, Stand Up lah gue jadikan tempat gue kerja.

Kenapa gabung di partai NasDem?

Karena gue pengen gabung di Garda, karena kalau di partai biayanya udah berat. Kalau di Garda kan bisa minta dan ke partai. Tapi selama gue jadi DPW Garda Pemuda di Sulut, dengan jumlah kota ada 15, sampai hari ini kegiatan apapun pembiayaannya tidak meminta ke partai tapi mandiri, saya bersama teman-teman patungan.

5. Kalau di Medan suka makan apa aja?

[EKSKLUSIF] Cerita Mongol Stres, Dari Stand Up Comedy hingga PolitikIDN Times/Masdalena Napitupulu

Kalau ke Medan kan udah sering, wajib makan duren ucok.

Gimana tanggapan dengan adanya Stand Up Comedy daerah?

Gue pribadi dengan komik senior melihat komunitas Stand Up Comedy di Medan, gue masih bangga bahwa regenerasi masih ada disini. Itu kenapa Mongol saranin kalau mau jadi Stand Up, harus gabung ke komunitas.

Karena kalau di komunitas kita bisa belajar, bagaimana gignya, belajar bersama itu lebih enak, caranya belajar materi, lalu bagaimana caranya hilangin gugup, itu hanya ada di komunitas dan itu gak berbayar karena sistem sharing. Kalau komunitas ada namanya comic body, disana ada komik yang kumpul bersama.

Karena disaat kita perform kita bisa saling ngobrol bersama, karena kalau naik ke panggung tanpa belajar di komunitas, titik nervousnya lebih besar dibanding kita udah gabung di komunitas.

6. Dan kenapa lucu sampe sekarang?

[EKSKLUSIF] Cerita Mongol Stres, Dari Stand Up Comedy hingga PolitikIDN Times/Masdalena Napitupulu

Karena dipikiran gue adalah duit. Jadi lo mata duitan? Gini ya, kalau dipikiran, kita dengan hasil yang kita dapat kita bisa jadi lucu, karena kita lagi flow. Kita mengalir karena kalau kita Stand Up begini jadi kita dapat ini. Gitu sih.

Untuk komika senior gini, masih nulis materi gak?

Jadi gini, di Indonesia ada dua komik yang tidak pernah nulis, gue dan Soleh Solihun, karena prinsip gue udah lulus. Gue gak pernah nulis, udah lulus soalnya.

Dan gue percaya 5 tahun kedepan Stand Up masih merajai entertainment di bumper kedua selain dangdut, karena kan kalau gak jadi Stand Up bisa jadi MC, Pemain Film atau Penulis Film bahkan bisa jadi dukun.

Pernah bingung gak atau nge blank saat ngegig?

Gak, karena gini kalau di corporate saya punya materi andalan yang 2011 sampai hari ini gak berubah, memanggil orang ke atas panggung. Itu gig yang membuat orang bisa lihat ke kita.

Karena di saat lo di atas panggung jangan langsung bawak materi, lo harus pelajari yang ada di lokasi. Entah dia round table atau cinema style, yang paling susah itu meja bulat. Harus ada strategi untuk nguasai panggung.

Sebelum komik, lihat juga produk yang ngundang apa, jangan ngomongin produk lain.

Stand up berhubungan juga dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) kan banyak kafe yang sekarang mengundang Stand Up.

Nah, penguasaan panggung paling penting di Stand Up, lo harus mobile, kalau kita berdiri aja keliatan kita gugup.

Sama kayak lo berenang, kalo lo berdiri di satu tempat lo ketahuan pipis, tapi kalau lo sambil jalan pasti gak ketahuan, kan nyampur airnya.

7. Gue sedikit riskan dengan Stand Up sekarang, cari materi dengan googling, ngapain?

[EKSKLUSIF] Cerita Mongol Stres, Dari Stand Up Comedy hingga PolitikIDN Times/Masdalena Napitupulu

Ngabisin kuota, gak usah googling, materi yang aman tentang Stand Up Comedy adalah it's about you, lo hina diri lo, lo bicarain diri lo, apa yang lo alami selama hidup, tentang lo paling aman, karena kalau kita membawa materi tentang orang lain saat Stand Up, kena pasal kan ada UU, jadi cari aman aja. Gue sampe sekarang masih bicarain emak gue.

Jadi Stand Up yang baik gimana?

Rajin open mic. Jakarta udah kita kuasai, saya dan Raditya udah punya fanbase sendiri, kita kalau di kafe Jakarta gak pernah di letak di depan, karena semua fans selesai kita ngegig, pasti langsung pada pulang. Kita selalu headline.

Gue, Radit, Pandji, Lukman, Arif Didu, Adriandi, Regi, Pangeran, ada Adriano, nah itu kita belajar sama-sama di Stand Up Comedy Kafe Kemang. Nah dari situ, akhirnya ngemunculin komunitas dan gue pegang Stand Up Indo Jakarta Pusat. Jadi setiap daerah itu ada komunitasnya.

Gue pernah Stand Up di Aceh, yang selalu bisa masuk Aceh cuma gue. Beberapa orang masuk Aceh di tolak, karena agak sensitif kalau bicara tentang agama.

8. Stand Up beda sama pelawak

[EKSKLUSIF] Cerita Mongol Stres, Dari Stand Up Comedy hingga PolitikIDN Times/Masdalena Napitupulu

Stand Up sama pelawak itu beda, pelawak kan biasanya nahan ketawa, kalau Stand Up mau ngakak ya ngakak aja.

Saat ini gue juga melihat, milenial itu sangat riskan, mayoritas milenial itu plin-plan, biasanya kalau mau makan, bingung mau makan apa ya? Coba kalau orang tua mau makan apa ya? Nasi goreng, sampe kapan pun pasti nasi goreng.

Nah ini mendekati Pemilihan Umum, ya milenial jangan golput, acara ini salah satunya mengajak milenial tidak golput.

Baca Juga: Mongol Pilih Ikbal Jadi Pemenang Stand Up Comedy Freedom Competition

Topic:

  • Masdalena Napitupulu
  • Arifin Al Alamudi

Just For You