Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Studi Ungkap 10 Persen Orangutan Tapanuli Hilang usai Bencana Batangtoru
Orangutan Tapanuli di Hutan Batangtoru, Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
  • Studi terbaru mengungkap sekitar 10 persen populasi Orangutan Tapanuli hilang akibat banjir dan longsor besar di Batang Toru, merusak lebih dari 8.000 hektare hutan primer habitat utama mereka.
  • Peneliti menemukan perubahan iklim memperparah curah hujan ekstrem hingga 50 persen, memicu longsor yang menewaskan puluhan orangutan dan mempercepat degradasi ekosistem Batang Toru.
  • Bencana juga menghantam masyarakat sekitar dengan kerusakan desa dan akses terputus, sementara para ahli menyerukan kolaborasi lintas sektor untuk menyelamatkan Orangutan Tapanuli dari ancaman kepunahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times – Bencana banjir dan longsor besar yang melanda kawasan Batangtoru, Sumatra Utara, pada akhir November 2025 diduga telah menimbulkan dampak serius terhadap kelangsungan hidup Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), salah satu spesies paling langka di dunia.

Sebuah studi terbaru mengungkapkan, sekitar 10 persen populasi Orangutan Tapanuli di kawasan terdampak diperkirakan hilang akibat bencana tersebut. Temuan ini dipaparkan dalam Press Briefing: Tapanuli Orangutans/Cyclone Senyar yang digelar secara daring, Selasa (9/6/2026).

Penelitian yang dipimpin Erik Meijaard, Managing Director Borneo Futures, bermula dari analisis citra satelit pascahujan ekstrem yang melanda Sumatra Utara. Tim peneliti awalnya menemukan pola yang tidak biasa di kawasan hutan primer Batangtoru.

"Kami awalnya mengira ada kesalahan data karena terlihat area yang tampak seperti genangan di dalam hutan primer. Setelah memperoleh citra yang lebih rinci, kami menyadari bahwa area tersebut sebenarnya merupakan lahan terbuka akibat longsor besar," ujar Meijaard.

Berdasarkan analisis perubahan tutupan lahan, lebih dari 8.000 hektare hutan terdampak longsor, dengan sebagian besar berada di kawasan hutan primer yang menjadi habitat utama Orangutan Tapanuli.

1. Diperkirakan 58 orangutan tewas, habitat utama rusak

Orangutan Tapanuli di Hutan Batangtoru Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Dari hasil kajian tersebut, tim peneliti memperkirakan sekitar 58 individu Orangutan Tapanuli menjadi korban akibat longsor yang dipicu hujan ekstrem. Angka itu setara dengan 10–11 persen populasi orangutan di area terdampak, atau sekitar 7 persen dari total populasi spesies yang diperkirakan hanya tersisa sekitar 800 individu.

"Orangutan bereproduksi sangat lambat, hanya sekitar satu anak setiap tujuh tahun. Kehilangan sebesar ini jauh melampaui tingkat kematian tahunan yang dapat ditoleransi spesies tersebut," kata Meijaard.

Menurutnya, dampak ini menjadi ancaman serius bagi spesies yang sebelumnya telah menghadapi tekanan akibat perburuan, fragmentasi habitat, dan hilangnya kawasan hutan.

Founder Orangutan Information Centre (OIC), Panut Hadisiswoyo, mengatakan longsor banyak terjadi di Blok Barat Batangtoru, kawasan yang menjadi benteng utama populasi Orangutan Tapanuli.

"Blok Barat menampung lebih dari 500 orangutan. Masa depan spesies ini sangat bergantung pada kawasan tersebut. Melihat kerusakan habitat yang terjadi hanya dalam satu hari merupakan pengalaman yang sangat menyedihkan," ujarnya.

Panut mengungkapkan, sedikitnya 15 jalur survei orangutan mengalami kerusakan akibat longsor. Saat ini, tim OIC masih melakukan verifikasi lapangan untuk menghitung dampak kerusakan secara lebih rinci.

Ia menilai krisis iklim kini harus dipandang sebagai ancaman besar yang setara dengan perburuan maupun perambahan hutan. "Kita bisa mengurangi tekanan dari perburuan atau perambahan, tetapi kejadian cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim kini menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup Orangutan Tapanuli," katanya.

2. Perubahan kklim perparah curah hujan

Orangutan Tapanuli menjadi salah satu satwa yang nyaris punah di Habitat Batangtoru. (IDN Times/Prayugo Utomo)

Profesor Friederike Otto, ilmuwan iklim dari Imperial College London, menjelaskan tim peneliti melakukan studi atribusi cuaca untuk mengetahui peran perubahan iklim dalam peristiwa hujan ekstrem tersebut. Menurutnya, hujan lebat yang memicu longsor berkaitan dengan Siklon Tropis Senyar yang melintasi kawasan Sumatra pada 26–27 November 2024. Selain dipengaruhi fenomena alam seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD), aktivitas manusia melalui emisi gas rumah kaca turut memperparah intensitas hujan.

"Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia telah meningkatkan intensitas hujan ekstrem di kawasan ini sekitar 10 hingga 50 persen dibandingkan kondisi tanpa pemanasan global," ujarnya.

Ia menambahkan, kejadian serupa saat ini diperkirakan terjadi sekali dalam sekitar 70 tahun, namun peluangnya akan meningkat seiring kenaikan suhu global. "Krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati saling terkait. Kita tidak bisa menghentikan yang satu tanpa mengatasi penyebab yang lain," katanya.

Primatolog dari Liverpool John Moores University, Profesor Serge Wich, menilai bencana ini menjadi pengingat pentingnya membangun ketahanan lanskap Batang Toru melalui pemulihan konektivitas habitat. Saat ini, populasi Orangutan Tapanuli hidup dalam beberapa kantong habitat yang terpisah, sehingga membatasi perpindahan individu dan pertukaran genetik.

"Akan sangat ideal jika ada rencana aksi skala lanskap yang menghubungkan kembali kawasan hutan yang terfragmentasi sehingga populasi orangutan menjadi lebih tangguh menghadapi ancaman di masa depan," ujarnya.

Menurut Wich, satu kejadian longsor belum tentu menyebabkan kepunahan spesies. Namun, jika peristiwa serupa berulang dalam beberapa dekade mendatang, kemampuan populasi untuk pulih akan semakin kecil.

"Jika peristiwa seperti ini terjadi dua atau tiga kali dalam seratus tahun, spesies ini tidak akan mampu pulih dengan baik," katanya.

3. Dampak juga dirasakan masyarakat

Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) (IDN Times/Prayugo Utomo)

Selain mengancam kelangsungan hidup Orangutan Tapanuli, bencana tersebut juga berdampak besar terhadap masyarakat di sekitar Batang Toru. Panut menyebut sejumlah desa mengalami kerusakan parah, akses jalan terputus, dan ratusan keluarga masih tinggal di hunian sementara.

"Sebagian masyarakat kehilangan rumah, mata pencaharian, dan akses ke desa mereka. Banyak keluarga masih tinggal di hunian sementara dan hidup dalam ketidakpastian," ujarnya.

Para peneliti sepakat, penyelamatan Orangutan Tapanuli membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, perusahaan, akademisi, organisasi konservasi, hingga masyarakat.

"Kita membutuhkan rencana aksi yang melibatkan semua pihak. Jika ada kemauan politik dan dukungan pendanaan, saya yakin Orangutan Tapanuli masih bisa diselamatkan," tutur Meijaard.

Editorial Team

Related Article