256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut)
Fokus utama yang disorot keluarga adalah janji kompensasi yang belum ditepati. Icuk menyebut, saat masih di Jakarta, juru bicara Gibran secara langsung meminta nomor rekening dan KTP untuk penyaluran bantuan.
"Juru bicara Gibran sendiri mengatakan, mana nomor rekening dan KTP-nya, Bu, nanti dikasih. Tapi sampai saat ini kami tidak terima apa-apa. Heran kami," tegasnya.
Bahkan, selama lima hari setelah kepulangan mereka, keluarga terus mencoba menghubungi pihak tersebut.
"Sampai selang 5 hari diteleponin mama FP juga. Pak, gimana ya, jadi tidak dikirim kompensasinya karena kami butuh, Pak. Soalnya bapak si FP tidak kerja-kerja. Tidak ada dibalas sampai sekarang," ujarnya.
Padahal, kata Icuk, Gibran sendiri sempat menenangkan mereka secara langsung. "Pak Gibran sendiri menyatakan, kamu tenang saja, nanti saya kasih kompensasi, nanti diurus. Nanti minta nomor rekeningnya. Jadi ditelepon mama FP, diminta nomor rekening dan KTP melalui jubir, tapi sampai saat ini tidak terima apa-apa. Malah anak saya balik masuk rumah sakit lagi, pihak BGN sudah tidak tanggung jawab," keluhnya.
Icuk berharap janji tersebut ditepati dan pemerintah tidak lepas tangan. Ia juga meminta Dinas Kesehatan untuk mengkaji ulang kondisi kesehatan anaknya hingga benar-benar dinyatakan pulih total.
Sebelumnya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat mengunjungi korban keracunan MBG di Karo pada 11 September 2026 menyampaikan permintaan maaf atas persoalan yang dialami masyarakat karena keracunan MBG ini. Saat itu Ia memastikan pemerintah akan mengupayakan agar anak-anak yang terdampak dapat kembali sehat dan bersekolah.
““Atas nama pemerintah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami pastikan anak-anak bisa sehat dan bersekolah kembali,” ujar Gibran.
Selain itu, Gibran ingin memastikan kondisi korban keracunan MBG mendapat perhatian dan penanganan yang diperlukan. Ia juga membuka opsi rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang memiliki dukungan medis sesuai dengan kondisi pasien.
Gibran turut membawa dokter pribadinya untuk memeriksa kondisi pasien, sekaligus berkoordinasi dengan pihak rumah sakit. Koordinasi dilakukan untuk memastikan apabila ada anak yang memerlukan penanganan lebih lanjut, langkah rujukan dapat segera dilakukan sesuai kebutuhan medis.
“Ini saya kesini membawa dokter pribadi saya. Saya minta dokter saya tinggal di sini dulu, untuk mengkoordinasikan sekiranya ada anak-anak yang butuh penanganan lebih intens di Jakarta,” ujar Gibran.