Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Sejarah Permen Karet, Dari Gum Liar hingga Sensasi Global

ilustrasi mengunyah permen karet (pexels.com/pavel)
ilustrasi mengunyah permen karet (pexels.com/pavel)
Intinya sih...
  • Tradisi mengunyah: getah pohon digunakan sebagai bahan kunyah di berbagai peradaban kuno, seperti di Skandinavia, Yunani Kuno, dan Amerika Tengah.
  • Permen karet modern: komersialisasi pertama kali terjadi di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19, dengan merek-merek legendaris seperti Adams New York, Black Jack, Chiclets, Juicy Fruit, Spearmint, dan Doublemint.
  • Evolusi industri & dampak sosial: bubble gum diciptakan pada tahun 1928 oleh Walter Diemer. Selain itu, permen karet juga memiliki sejarah sebagai bagian perlengkapan militer selama Perang Dunia II.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Permen karet mungkin tampak sebagai camilan ringan sehari-hari, namun sejarahnya menelusuri jejak ribuan tahun dari budaya kuno hingga industri global. Dari getah pohon yang dikunyah oleh peradaban kuno sampai penciptaan bubble gum ikonik.

Berikut sejarah permen karet, dilansir dari berbagai sumber.

1. Awal tradisi mengunyah: gum kuno di sejumlah peradaban

ilustrasi mengunyah permen karet (pexels.com/pavel)
ilustrasi mengunyah permen karet (pexels.com/pavel)

Sejak zaman kuno, manusia mengeksplorasi getah pohon sebagai bahan kunyah. Pada wilayah Skandinavia, ditemukan bukti penduduk mengunyah getah kayu birch sekitar 9.000 tahun lalu, kemungkinan untuk rasa dan manfaat medis seperti meredam sakit gigi.

Di Yunani Kuno, masyarakat mengunyah resin dari pohon mastic untuk menyegarkan napas dan menjaga kebersihan mulut. Sementara di Amerika Tengah, suku Maya dan Aztek mengunyah chicle—getah dari pohon sapodilla.

Bagi Maya, chicle berfungsi untuk melepas haus serta menghilangkan rasa lapar; sedangkan di kalangan Aztek, konteks sosial menentukan siapa yang boleh mengunyah secara publik.

2. Permen karet modern: komersialisasi di Amerika Serikat (Abad ke-19)

ilustrasi mengunyah permen karet (pexels.com/pavel)
ilustrasi mengunyah permen karet (pexels.com/pavel)

Masuk ke era modern, permen karet masuk jalur komersial pertama kali pada pertengahan abad ke-19 di Amerika. Pada 1848, John B. Curtis menciptakan dan menjajakan State of Maine Pure Spruce Gum, yang terbuat dari resin cemara—produk komersial awal permen karet.

Kemudian pada 1869, William F. Semple, seorang dokter gigi dari Ohio, meraih paten pertama untuk permen karet dari bahan getah alam yang diformulasikan untuk membersihkan gigi dan melatih rahang.

Lebih maju lagi, Thomas Adams, terinspirasi saat mencoba mengolah chicle sebagai pengganti karet. Dia gagal di bidang itu, namun akhirnya menemukan ide membuat permen karet. Tahun 1871 ia mematenkan mesin untuk memproduksi permen karet batangan, lalu dikenal dengan brand “Adams New York” dan "Black Jack"—yang menjadi permen karet rasa pertama di AS

Jumlah merek tumbuh: Chiclets muncul sekitar tahun 1899, sebagai permen karet berlapis gula-manis, diinisiasi oleh Henry Fleer dan berkembang di bawah American Chicle Company US Mint Industry.

Sementara William Wrigley Jr., sejak tahun 1891, memasukkan permen karet sebagai bonus dalam produk sabun dan baking powder—strategi ini membawanya masuk penuh ke industri permen karet, menciptakan merek-merek legendaris seperti Juicy Fruit, Spearmint, dan Doublemint.

3. Evolusi industri & dampak sosial: bubble gum, perang, dan bahan sintetis

ilustrasi mengunyah permen karet (pexels.com/pavel)
ilustrasi mengunyah permen karet (pexels.com/pavel)

Teknologi terus berkembang—Blibber-Blubber adalah percobaan pertama bubble gum dari Frank H. Fleer tahun 1906, namun terlalu lengket untuk dipasarkan. Akhirnya, pada tahun 1928, Walter Diemer menyempurnakannya menjadi Dubble Bubble dengan tekstur elastis khas bubble gum yang kita kenal

Permen karet juga punya sejarah sebagai bagian perlengkapan militer. Selama Perang Dunia II, prajurit Amerika Serikat sering dibekali permen karet untuk menenangkan saraf, mengurangi rasa haus, dan mengurasi tekanan telinga saat terbang—masyarakat umum pun ikut menyukainya

Seiring meningkatnya permintaan, suplai chicle alami mulai terbatas—pohon sapodilla membutuhkan waktu 4–8 tahun antara panen, dan eksploitasi berlebihan mengancam keberlanjutan. Akhirnya, industri beralih ke bahan sintetis seperti parafin atau karet buatan sejak pertengahan abad ke-20.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us