Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WALHI Desak China Exim Hentikan Pendanaan PLTA Batang Toru
Potret pembangunan PLTA Batangtoru pada September 2018 lalu. (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • WALHI mendesak China Exim menghentikan atau menangguhkan pembiayaan PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan.

  • WALHI menyoroti risiko terhadap habitat orangutan Tapanuli, aliran sungai, geologi, konflik sosial, dan keselamatan masyarakat.

  • Pemerintah mendorong proyek beroperasi secara komersial pada Oktober 2026 setelah izin operasi diberikan kembali.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
November 2022

Dokumen SDIC Power menyebut rencana jaminan bersama untuk pembiayaan NSHE hingga US$1,251 miliar. China Exim disebut sebagai pemimpin sindikasi pinjaman.

Januari 2026

NSHE dilaporkan termasuk dalam daftar perusahaan yang izinnya dicabut.

April 2026

WALHI mencatat NSHE diwajibkan membayar Rp200,6 miliar berdasarkan penyelesaian pengadilan. Kementerian ESDM juga menyatakan izin operasi PLTA Batang Toru diberikan kembali.

Selasa (22/9/2026)

WALHI menyampaikan desakan kepada China Exim dalam media briefing di Medan.

Oktober 2026

PLTA Batang Toru ditargetkan memasuki operasi komersial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    WALHI mendesak China Exim menghentikan atau menangguhkan dukungan pembiayaan PLTA Batang Toru.
  • Who?
    WALHI, China Exim, PT North Sumatera Hydro Energy, Kementerian ESDM, Uli Arta Siagian, dan Rianda Purba.
  • Where?
    PLTA berada di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara; desakan disampaikan dalam media briefing di Medan.
  • When?
    Desakan disampaikan Selasa (22/9/2026). Target operasi komersial proyek pada Oktober 2026.
  • Why?
    WALHI menilai persoalan ekologis, hukum, keselamatan, dan risiko pembiayaan belum sepenuhnya terselesaikan.
  • How?
    WALHI dan organisasi masyarakat sipil mengirim surat yang meminta peninjauan, uji tuntas, pengawasan pascapinjaman, tindakan korektif, serta kemungkinan penghentian pembiayaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aku tahu WALHI meminta China Exim berhenti atau menunda memberi uang untuk PLTA Batang Toru. WALHI bilang ada masalah lingkungan, hukum, keselamatan, dan uang proyek. Proyek ini ada di Tapanuli Selatan. Pemerintah sedang mendorong proyek itu supaya bisa beroperasi pada Oktober 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Permintaan peninjauan kepada China Exim membuka ruang pengawasan atas pendanaan proyek sebelum tahap operasi komersial. Surat WALHI juga memuat permintaan uji tuntas, pengawasan pascapinjaman, dan tindakan korektif. Langkah tersebut menempatkan audit, litigasi, serta kepatuhan sebagai hal yang perlu diperhatikan dalam dukungan pembiayaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mendesak Export-Import Bank of China (China Exim) menghentikan atau menangguhkan dukungan pembiayaan untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Desakan itu disampaikan WALHI dalam media briefing bertajuk “Investasi Asing di Balik Proyek PLTA Batang Toru” di Medan, Selasa (22/9/2026). WALHI menilai persoalan ekologis, hukum, keselamatan, dan risiko pembiayaan proyek belum sepenuhnya terselesaikan.

1. WALHI soroti skema pendanaan China Exim

Sejumlah warga terlihat berjalan di areal proyek PLTA Batangtoru berkapasitas 510 MW (IDN Times/Prayugo Utomo)

Kepala Divisi Kampanye WALHI Nasional, Uli Arta Siagian, mengatakan pendanaan dari China menjadi salah satu titik yang disorot karena NSHE memiliki keterkaitan kepemilikan dengan perusahaan negara China, SDIC Power Holdings Co., Ltd.

“Salah satu investor paling besar adalah China dalam NSHE. Pembiayaan dari China Exim Bank rentan terhadap landscape Batang Toru dan terbukti dari bencana yang terjadi,” katanya.

Dokumen SDIC Power pada November 2022 menyebut perusahaan tersebut merencanakan jaminan bersama untuk pembiayaan NSHE dengan nilai maksimal US$1,251 miliar. Skema pembiayaannya menggunakan pinjaman sindikasi dengan China Exim sebagai pemimpin sindikasi, sementara masa jaminan disebut maksimal 18 tahun.

“Kami belum tau total biaya sebenarnya yang diberikan ExIm Bank. Mungkin akan tau dari surat balasan yang akan dikirimkan dan harapannya mereka dapat terbuka,” katanya.

WALHI bersama organisasi masyarakat sipil telah mengirimkan surat kepada China Exim untuk meminta peninjauan terhadap keterlibatan bank tersebut. Permintaan itu antara lain mencakup uji tuntas, pengawasan pascapinjaman, tindakan korektif, hingga kemungkinan penghentian dukungan pembiayaan.

2. Habitat orangutan tapanuli hingga risiko geologi disorot

Orangutan Tapanuli di Hutan Batangtoru, Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

WALHI memasukkan sejumlah risiko lingkungan dalam surat kepada China Exim. Di antaranya ancaman terhadap habitat orangutan Tapanuli, perubahan sistem aliran air, kerentanan geologi, konflik sosial, serta keselamatan masyarakat.

Orangutan Tapanuli menjadi salah satu sorotan karena Ekosistem Batang Toru merupakan satu-satunya habitat yang diketahui bagi spesies tersebut. Sejumlah kajian dan laporan sebelumnya juga telah menempatkan fragmentasi habitat sebagai salah satu persoalan utama proyek.

Selain persoalan habitat, desain PLTA juga berkaitan dengan pengalihan aliran sungai. Dokumen yang digunakan dalam advokasi mengenai proyek tersebut mencatat adanya bypass area Sungai Batang Toru sekitar 14 kilometer antara bendungan dan pembangkit, dengan sebagian air dialihkan melalui sistem terowongan.

WALHI juga mempertanyakan risiko geologi dan keselamatan kawasan. Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Utara, Rianda Purba, menyebut wilayah Batang Toru memiliki risiko kegempaan dan longsor.

“WALHI menolak pembangunan PLTA. Bahwa pembangunan ini dilakukan di zona gempa. Wilayah ini sangat rentan gempa namanya Sesar Toru. Selain itu dalam konteks pembangunan infrastruktur rentan terhadap longsor,” ungkap Rianda.

3. Proyek kembali dilanjutkan dan ditargetkan beroperasi oktober

potret anak dan induk orangutan Tapanuli (Prayugo Utomo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Desakan WALHI muncul ketika pemerintah justru kembali mendorong penyelesaian PLTA Batang Toru.

Pada Januari 2026, NSHE dilaporkan termasuk dalam daftar perusahaan yang izinnya dicabut. WALHI juga mencatat NSHE diwajibkan membayar Rp200,6 miliar berdasarkan penyelesaian pengadilan pada April 2026.

Beberapa bulan kemudian, pemerintah kembali membuka jalan bagi keberlanjutan proyek. Kementerian ESDM menyatakan izin operasi PLTA Batang Toru diberikan kembali pada April 2026 dan mendorong percepatan pengoperasian pembangkit tersebut dengan target operasi komersial pada Oktober 2026.

Rianda mengatakan keputusan pemerintah tersebut menjadi alasan WALHI kembali menekan pihak pendana. “Izinnya sempat dicabut akan tetapi mereka kembali beroperasi,” katanya.

Uli mengatakan intervensi terhadap pendana dilakukan karena WALHI ingin mendorong penghentian pembiayaan sebelum proyek memasuki tahap operasi komersial.

“Kenapa kemudian kita mengintervensi lebih dulu si pendananya dengan harapan si pendananya bisa menghentikan pendananya sebelum PLN membelinya,” katanya.

WALHI meminta China Exim menangguhkan pencairan selama persoalan audit, litigasi, dan kepatuhan belum terselesaikan. Jika risiko proyek dinilai tidak dapat dimitigasi, WALHI meminta dukungan dibatalkan atau dana yang telah dicairkan dikembalikan.

“Permohonan utama kita adalah menangguhkan, membatalkan atau meminta pembayaran kembali pendanaan ini. Dan ini adalah seruan dari masyarakat sipil yang melihat fakta langsung akan cacatnya pelaksanaan proyek ini,” kata Rianda.

Curated For You

Editorial Team

Related Article