Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siswi SMP di Medan Donasikan Rp16 Juta dari Lelang Kaligrafi Mandarin
Vanessa Cangie, siswi kelas 3 SMP berusia 14 tahun di Medan, yang mengubah hobi kaligrafinya menjadi donasi Rp16 juta untuk pendidikan anak asuh bersama orangtuanya Samuddin Zhang (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Vanessa Cangie, siswi SMP berusia 14 tahun di Medan, melelang dua karya kaligrafi Mandarin seharga Rp16 juta untuk mendukung pendidikan anak asuh Yayasan Sinar Sahaya Keluarga.

  • Vanessa belajar kaligrafi secara otodidak selama setahun; awalnya ia hanya diminta menyumbang karya untuk acara penggalangan dana, termasuk satu karya yang diberikan langsung kepada yayasan.

  • Keluarga Vanessa aktif melalui Yayasan HOPE di bidang kesehatan dan edukasi, sementara ia berencana mengembangkan kaligrafi serta bahasa Mandarin untuk mengikuti lebih banyak penggalangan dana.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sejak sebelum COVID-19, sekitar 6-7 tahun terakhir

Samsudin Zhang memfokuskan bantuan keluarganya pada pendidikan anak-anak.

Setahun terakhir

Vanessa belajar seni kaligrafi Mandarin secara otodidak.

Dua hari terakhir

Vanessa baru diberi tahu bahwa ia diminta menyiapkan lima karya untuk acara penggalangan dana.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Vanessa Cangie, siswi SMP di Medan, menyumbangkan Rp16 juta untuk pendidikan anak asuh setelah dua karya kaligrafi Mandarinnya dilelang dalam acara penggalangan dana.
  • Who?
    Vanessa Cangie, 14 tahun, bersama Yayasan Sinar Sahaya Keluarga sebagai penerima donasi. Samsudin Zhang dan Erna Ramri merupakan orang tua Vanessa.
  • Where?
    Donasi diberikan kepada Yayasan Sinar Sahaya Keluarga. Vanessa merupakan siswi yang tinggal dan bersekolah di Medan.
  • When?
    Pelelangan berlangsung dalam sebuah acara penggalangan dana, dengan waktu pelaksanaan per saat ini masih belum diketahui. Vanessa mempelajari kaligrafi secara otodidak selama sekitar satu tahun terakhir.
  • Why?
    Vanessa ingin membantu anak asuh yang tidak memiliki kesempatan bersekolah, karena ia memandang pendidikan dapat membantu mereka mengubah nasib.
  • How?
    Dua karya kaligrafi Vanessa dilelang dan terjual senilai Rp16 juta. Ia juga menyerahkan satu karya lain langsung kepada yayasan, sementara pengerjaan lima karya dilakukan setelah permintaan diterima.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Vanessa, siswi SMP berumur 14 tahun di Medan, membuat kaligrafi Mandarin. Dua karyanya dilelang dan mendapat Rp16 juta. Uang itu diberikan ke Yayasan Sinar Sahaya Keluarga untuk sekolah anak asuh. Vanessa senang dan bangga. Sekarang ia mau terus belajar kaligrafi dan ikut acara penggalangan dana untuk membantu lebih banyak orang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Vanessa Cangie menunjukkan bahwa minat yang ditekuni dengan tekun dapat memiliki nilai sosial yang nyata. Dari pembelajaran kaligrafi secara otodidak, ia menyumbangkan karya yang menghasilkan Rp16 juta bagi pendidikan anak asuh, sementara dukungan keluarganya terhadap hobi dan kegiatan kemanusiaan memberi ruang bagi kepedulian tersebut tumbuh sejak dini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Berbuat baik tidak harus menunggu sukses dan kaya. Pesan itu dibuktikan oleh Vanessa Cangie, siswi kelas 3 SMP berusia 14 tahun di Medan, yang mengubah hobi kaligrafinya menjadi donasi Rp16 juta untuk pendidikan anak asuh.

Vanessa adalah anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Samsudin Zhang dan Erna Ramri. Kakaknya, Gracella Cangie (15) duduk di bangku SMA kelas 2 dan adiknya, Jeovenna Cangie (10) kelas 5 SD. Sejak dalam kandungan, ketiganya telah menjalani pola hidup vegetarian bersama orang tuanya.

Keahlian Vanessa dalam seni kaligrafi Mandarin berawal dari hobi menggambar. Setahun terakhir ia belajar otodidak.

"Jadi saya merasa kasihan kepada anak asuh yang tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah. Dan bersekolah adalah salah satu cara mereka untuk mengubah nasib. Jadi saya bersedia untuk menggunakan karya kaligrafiku untuk berdonasi kepada Yayasan Sinar Sahaya Keluarga," ujar Vanessa.

1. Ada dua karya kaligrafi yang dilelang bernilai Rp16 juta

Vanessa Cangie dengan buah karya dari hobi kaligrafinya menjadi donasi Rp16 juta untuk pendidikan anak asuh (IDN Times/Indah Permata Sari)

Dua karya kaligrafinya dilelang dalam sebuah acara penggalangan dana, dan satu karya lainnya diberikan langsung kepada yayasan. Hasilnya di luar dugaan, dua karya itu laku Rp16 juta.

"Perasaan saya sangat bahagia dan bangga. Saya bisa menggunakan karya kaligrafiku untuk berdonasi Rp16 juta kepada Yayasan tersebut," katanya.

Vanessa mengaku awalnya tidak tahu karyanya akan dilelang. Ia hanya diminta menyumbang untuk meramaikan acara.

"Dari pihak mereka minta lima (karya), karena dari awal tidak pesan duluan. Dua hari terakhir baru dikasih tahu. Kalau pengerjaannya, gambarnya itu hanya hitungan menit. Cuma beli kertasnya yang tunggu lima hari," kenang ayahnya, Samsudin Zhang.

2. Keluarga Vanessa fokus pada bidang kesehatan dan edukasi

Vanessa Cangie, siswi kelas 3 SMP berusia 14 tahun di Medan, yang mengubah hobi kaligrafinya menjadi donasi Rp16 juta untuk pendidikan anak asuh bersama orangtuanya Samuddin Zhang (IDN Times/Indah Permata Sari)

Bagi Samsudin, aksi Vanessa bukanlah hal yang tiba-tiba. Ia dan keluarga memang aktif dalam kegiatan sosial melalui Yayasan HOPE - Harapan Oasis Peduli Empati yang bergerak di bidang kesehatan dan edukasi.

"Kami ada buat satu yayasan, khusus untuk bantu di bidang kesehatan dan edukasi. Jadi anak-anak dari kecil sudah ikut kami keliling. Keliling ke pedalaman, ke pulau-pulau, pengobatan gratis, edukasi kesehatan," ujar Samsudin.

Samsudin mengaku masa lalunya yang hidup susah menjadi alasan kuat. Ia harus bekerja sejak SMP untuk membiayai sekolah sendiri. Ayahnya meninggal karena serangan jantung di usia 52 tahun saat ia baru berusia 21 tahun. Sejak itulah ia menjadi vegetarian hingga hari ini, 21 tahun lamanya.

"Saya secara pribadi kan dulu pernah hidup susah. Jadi kita tahu orang yang kurang mampu, tidak boleh sakit, nggak ada uang untuk berobat. Dari sana lah kita pahami bahwa nggak boleh sampai orang susah tidak ada yang bantu," katanya.

Baginya, akar dari masalah kesehatan dan kemiskinan adalah pendidikan. Karena itu sejak sebelum COVID-19, sekitar 6-7 tahun terakhir, ia fokus membantu pendidikan anak-anak.

3. Vanessa terus mengembangkan seni kaligrafi untuk membantu lebih banyak orang

Vanessa Cangie dengan buah karya dari hobi kaligrafinya menjadi donasi Rp16 juta untuk pendidikan anak asuh (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sebagai orang tua, Samsudin tidak pernah memaksakan cita-cita. Ia hanya memfasilitasi hobi anak-anaknya. Vanessa dengan hobi kaligrafi dan menggambar. Gracella dengan hobi nyanyi dan Jeovenna dengan hobi menari ballet dan modern dance. Ketiganya juga ada belajar bahasa mandarin, bahasa inggris, piano, sempoa dan lainnya sesuai hobi masing-masing.

"Sebenarnya dari kita orang tua hanya memfasilitasi apa yang mereka hobi. Tetapi kalau mereka sudah mulai, biasanya saya nggak kasih berhenti. Kita sudah memberikan fondasi yang kuat. Saya hanya punya tiga anak perempuan, saya hanya berharap mereka mandiri, tidak ketergantungan," ujarnya.

Ditanya soal cita-cita, Vanessa menjawab sederhana. Ia ingin terus mengembangkan seni kaligrafi dan bahasa Mandarin untuk membantu lebih banyak orang.

"Saya ingin mengikuti lebih banyak acara, terutama untuk menggalang dana. Karena saya ingin berbuat baik kepada semua orang," kata Vanessa.

Samsudin pun menitipkan pesan untuk anak muda seumuran Vanessa.

"Kita hidup jadi orang harus bersyukur apapun kondisi kita. Kita gak bisa pilih kita lahir dimana, kaya atau miskin kita gak bisa pilih. Tetapi kedepannya kita menjadi apa, itu adalah keputusan di tangan kita. Harus giat belajar, jangan pantang menyerah," pesannya.

"Berbuat baik itu gak perlu tunggu sampai berhasil. Setiap orang pasti ada kelebihannya. Contoh paling sederhana aja, di tengah jalan ada satu batu, batu itu kita bawa ke samping. Itu pun mungkin sudah bisa nolong nyawa orang," tutup Samsudin.

Vanessa juga mengingatkan satu hal yang paling penting bagi seorang anak.

"Hal yang paling penting untuk dilakukan seorang anak adalah berbakti kepada orang tua. Salah satu cara berbakti itu boleh dengan belajar dengan giat dan membalas budi kepada orang tua di masa depan," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article