Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Willem Iskandar, Pelopor Pendidikan Indonesia dari Mandailing
cuplikan buku dengan judul Willem Iskandar ( Sati Nasution ) Tokoh Pendidikan dan Sastrawan dari Sumatera Utara(dipersip.riau.go.id)
  • Willem Iskandar, lahir sebagai Sati Nasution di Mandailing Natal tahun 1840, kemudian dibaptis di Belanda dan mengganti nama menjadi Willem Iskandar.
  • Ia mendirikan Sekolah Kweekschool Voor Inlandsche Onderwijers Tano Bato pada 1862, sekolah guru pribumi yang berdiri 60 tahun sebelum Taman Siswa milik Ki Hajar Dewantara.
  • Willem wafat di Amsterdam pada usia 36 tahun, namun gagasan pendidikannya meninggalkan warisan besar bagi Sumatra Utara dan dikenang lewat nama jalan di Medan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Maret 1840

Willem Iskandar lahir dengan nama Sati Nasution di Pidoli Lombang, Mandailing Natal.

1858

Setelah dibaptis di Arnhem, Belanda, Sati Nasution mengganti namanya menjadi Willem Iskandar dan menyandang gelar Sutan Iskandar.

1862-1874

Willem Iskandar mendirikan dan mengelola Sekolah Kweekschool Voor Inlandsche Onderwijers Tano Bato untuk mencetak guru pribumi.

1922

Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, sekitar 60 tahun setelah sekolah Willem Iskandar berdiri.

8 Mei 1876

Willem Iskandar wafat di Amsterdam pada usia 36 tahun dan dimakamkan di Zorgvlied Begraafplaats.

kini

Nama Willem Iskandar diabadikan sebagai nama jalan utama di Kota Medan dan dikenang sebagai pelopor pendidikan dari Mandailing.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kisah dan kontribusi Willem Iskandar, tokoh asal Mandailing yang dikenal sebagai pelopor pendidikan pribumi serta pujangga bahasa pada abad ke-19.
  • Who?
    Willem Iskandar, lahir dengan nama Sati Nasution, anak Raja Tinating Nasution dan Si Anggur, kemudian menjadi pendidik dan penulis setelah menempuh pendidikan di Belanda.
  • Where?
    Lahir di Pidoli Lombang, Mandailing Natal; belajar di Belanda; mendirikan sekolah di Tano Bato; wafat dan dimakamkan di Amsterdam, Belanda.
  • When?
    Lahir Maret 1840, mendirikan sekolah tahun 1862–1874, wafat pada 8 Mei 1876 dalam usia 36 tahun.
  • Why?
    Ia berupaya memajukan pendidikan bagi masyarakat pribumi melalui pendirian sekolah guru serta menumbuhkan semangat cinta tanah air lewat karya sastra.
  • How?
    Setelah menimba ilmu di Belanda, ia kembali ke tanah kelahiran untuk membuka Kweekschool Voor Inlandsche Onderwijers Tano Bato dan mengajar calon guru lokal secara langsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dulu ada orang namanya Willem Iskandar. Dia lahir di Mandailing dan dulu namanya Sati Nasution. Dia sekolah ke Belanda lalu bikin sekolah guru di kampungnya supaya orang bisa pintar. Itu sudah lama sekali, sebelum Ki Hajar bikin Taman Siswa. Sekarang namanya dipakai jadi nama jalan di Medan karena jasanya besar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah Willem Iskandar menunjukkan bagaimana semangat belajar dan dedikasi terhadap pendidikan dapat meninggalkan jejak mendalam meski usia hidupnya singkat. Dengan mendirikan sekolah guru bagi pribumi dan menulis karya sastra yang menumbuhkan kecintaan pada tanah kelahiran, ia memperlihatkan bahwa pengetahuan mampu menjadi jembatan kemajuan bagi masyarakat Mandailing dan Sumatra Utara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times – Nama Jalan William Iskandar di Medan sudah sangat familiar di telinga warga. Tapi, siapa sebenarnya sosok di balik nama jalan protokol itu? Ia adalah Willem Iskandar, seorang pujangga, penulis, dan pelopor pendidikan dari Tanah Mandailing yang jasanya jarang disebut.

Pengamat Sejarah Ichwan Azhari menyebut, Willem adalah tokoh yang seharusnya tidak boleh dilupakan dalam sejarah pendidikan Indonesia.

“Banyak yang tidak tahu William Iskandar. Dia tokoh penting dalam sejarah pendidikan di Indonesia. Nama aslinya Sati Nasution. Kemudian dia pindah ke Belanda dan mengganti nama menjadi William Iskandar,” ujar Ichwan.

1. Dari Sati Nasution menjadi Willem Iskandar

Willem Iskandar merupakan tokoh nasional dari Sumatra Utara (Dok. Riau Sastra)

Willem Iskandar lahir dengan nama Sati Nasution di Pidoli Lombang, Mandailing Natal, Maret 1840. Ia anak bungsu dari empat bersaudara, keturunan ke-11 dari marga Nasution.

Setelah dibaptis di Arnhem, Belanda pada 1858, namanya berubah menjadi Willem Iskandar. Ia juga menyandang gelar Sutan Iskandar. Ayahnya Raja Tinating Nasution, dan ibunya Si Anggur.

2. Mendirikan sekolah guru 60 tahun lebih dulu dari Taman Siswa

ilustrasi Sekolah Rakyat (IDN Times/Sukma Mardya Shakti)

Nama Willem Iskandar paling dikenal karena perannya di dunia pendidikan. Setelah menuntut ilmu di Belanda, ia pulang dan mendirikan Sekolah Kweekschool Voor Inlandsche Onderwijers Tano Bato pada 1862-1874.

Sekolah guru ini menjadi cikal bakal mencetak tenaga pendidik pribumi di masanya.

“Selama ini yang selalu diperingati sebagai tokoh pendidikan itu Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa. Padahal jauh sebelum Ki Hajar mendirikan Taman Siswa di tahun 1922, William Iskandar sudah mendirikan sekolah. Jadi, 60 tahun sebelumnya William Iskandar sudah mendirikan sekolah. Dan tidak tanggung-tanggung, sekolah guru,” tegas Ichwan.

Selain pendidik, Willem juga seorang pujangga bahasa. Karya-karyanya banyak menyair tentang pendidikan dan kecintaan pada kampung halaman.

3. Hidup singkat, warisan panjang

Ilustrasi buku (unsplash.com/Sincerely Media)

Willem Iskandar menikah dengan Maria Christina Jacoba Winter. Namun hidupnya tidak panjang. Ia wafat di Amsterdam, Belanda, pada 8 Mei 1876 dalam usia 36 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Zorgvlied Begraafplaats, Amsterdam.

Meski usianya singkat, gagasannya tentang pentingnya pendidikan bagi pribumi menjadi tonggak penting di Sumatra Utara (Sumut). Kini namanya diabadikan sebagai nama Jalan Willem Iskandar di Kota Medan.

Warisan Willem Iskandar lebih mendalam di dunia pendidikan dan sastra. Ia menjadi simbol semangat Mandailing untuk maju lewat ilmu pengetahuan.

Editorial Team

Related Article