Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PLN EPI Kick Off Pemanfaatan CBG untuk Cofiring di PLTGU Belawan
PLN EPI Kick Off Pemanfaatan CBG untuk Cofiring di PLTGU Belawan, Kamis (8/10/2026). (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
  • PLN EPI menguji coba bio-CNG dari limbah cair kelapa sawit sebagai bahan bakar pendamping PLTGU Belawan, menggantikan sebagian CNG setelah evaluasi teknis, trial operasional, dan studi kelayakan.
  • Bauran CBG awal masih di bawah 2 persen kebutuhan bahan bakar, berkontribusi kurang dari 1-2 MW, dengan pasokan proyek percontohan Sumatra Utara berasal dari mitra swasta.
  • PLN EPI menargetkan bauran bio-CNG mencapai 10 persen pada 2030, memetakan potensi di sejumlah wilayah, serta menyiapkan investasi produksi dan kerja sama PKS untuk pasokan POME.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) resmi menguji coba pemakaian pertama Compressed Biomethane Gas (CBG) atau bio-CNG untuk digunakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Belawan, Kamis (8/10/2026). Langkah ini menjadi milestone awal penerapan bauran energi terbarukan melalui metode cofiring biogas dari limbah cair kelapa sawit pada pembangkit gas milik PLN.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa pelaksanaan uji coba ini telah melewati berbagai tahapan evaluasi teknis yang matang. Di antaranya telah menyelesaikan serangkaian pengujian, uji coba operasional (trial), serta studi kelayakan (feasibility study).

Dalam tahap awal implementasi ini, pasokan CBG dimanfaatkan untuk menggantikan sebagian gas alam terkompresi (CNG) yang biasa digunakan di PLTGU Belawan. Integrasi bio-CNG tersebut masuk ke dalam sistem pembangkit sebagai bahan bakar pendamping atau cofiring biogas.

Hokkop mengungkapkan bahwa porsi bauran CBG yang digunakan saat ini masih tergolong skala kecil. Persentase bauran energi yang dicapai masih berada di bawah 2 persen dari total kebutuhan bahan bakar pembangkit.

“Dari persentase awal yang berada di bawah 2 persen tersebut, daya listrik yang dihasilkan secara proporsional masih sangat kecil. Estimasi kapasitas terpasang dari kontribusi CBG saat ini berada di bawah 1 hingga 2 megawatt. Pasokan CBG untuk proyek percontohan pertama di Sumatra Utara ini diperoleh dari kerja sama dengan mitra swasta,” jelasnya.

1. PLN EPI terus melakukan penjajakan kerja sama dengan Pabrik Kelapa Sawit

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Guna memperbesar volume pasokan secara mandiri, PLN EPI tengah mempersiapkan rencana investasi fasilitas produksi CBG secara independen. Dalam mendukung rantai pasok bahan baku, PLN EPI terus melakukan penjajakan kerja sama dengan pemilik Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Langkah ini krusial untuk mengamankan pasokan limbah cair sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai bahan baku utama penghasil gas metan. Metan yang ditangkap dari pengolahan limbah cair POME maupun limbah organik lainnya akan dikompresi menjadi bio-CNG. Gas hasil pemrosesan inilah yang kemudian didistribusikan ke unit-unit PLTGU milik PLN.

Hokkop menegaskan bahwa program pemanfaatan CBG ini merupakan wujud nyata komitmen perseroan dalam mendukung ekonomi hijau. Pemanfaatan limbah POME secara langsung mengurangi emisi gas metan bebas yang berpotensi merusak lapisan ozon dan memicu efek rumah kaca puluhan kali lebih berbahaya dibanding polusi karbon biasa.

“Potensi pengembangan CBG di Indonesia dinilai sangat besar mengingat terdapat sekitar 3.000 unit PKS yang beroperasi di seluruh wilayah tanah air. Bayangkan kalau 300 PKS saja bisa kita ajak kerjasama, tentu banyak PLTGU yang bisa memanfaatkan CBG-nya,” jelasnya.

2. Konsep cofiring CBG ini rencananya akan direplikasi secara nasional

PLN EPI Kick Off Pemanfaatan CBG untuk Cofiring di PLTGU Belawan, Kamis (8/10/2026). (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Selain di Sumatra Utara, PLN EPI juga telah memetakan potensi pengembangan CBG di beberapa wilayah strategis lainnya. Di antaranya adalah Lampung yang memanfaatkan kotoran hewan, serta Riau dan Kalimantan yang kaya akan potensi limbah cair kelapa sawit.

PLN EPI telah menyusun peta jalan (roadmap) jangka panjang untuk meningkatkan porsi bauran energi terbarukan ini. Perseroan menargetkan porsi bauran bio-CNG dapat meningkat secara bertahap hingga mencapai 10 persen dalam waktu lima tahun ke depan atau pada tahun 2030.

Khusus di PLTGU Belawan yang memiliki kapasitas total sekitar 730 megawatt, target bauran 10 persen diharapkan mampu menyumbang sekitar 7,3 hingga 10 megawatt daya bersih dari CBG. Gas bio-CNG tersebut nantinya dicampur (blending) langsung ke dalam sistem pasokan gas utama pembangkit.

Konsep cofiring CBG ini rencananya akan direplikasi secara nasional pada fasilitas pembangkit gas milik PLN. Terdapat lebih dari 200 unit PLTG, PLTMG, dan PLTGU di seluruh Indonesia yang berpotensi diinjeksi dengan bio-CNG.

“Secara keseluruhan, jika seluruh potensi limbah organik dan POME di Indonesia diutilisasi secara optimal untuk CBG, potensinya setara dengan 27 kargo LNG atau mencapai sekitar 3 juta MMBtu per tahun. Hal ini mempertegas peran strategis biomassa dalam mendukung ketahanan energi nasional berbasis ramah lingkungan,” pungkasnya.

3. PLTGU Belawan sudah berdiri sejak 1983

PLTGU Belawan (Dok. https://www.plnnusantarapower.co.id/)

PT PLN (Persero) Sektor  Pembangkitan  Belawan terletak didalam sebuah pulau yang bernama Naga Putri dengan Luas wilayah 47 Hektar, didesa pulau sicanang,  kecamatan Medan Belawan, 24 KM sebelah Utara kota Medan, dekat dengan pesisir pantai dan pelabuhan Belawan.

Berdiri pada tahun 1983 dan mulai berproduksi  pada tahun 1984 dengan  kapasitas awal 130 MW. Saat ini sudah berkembang menjadi 1.156,3 MW yang terdiri dari 4 unit PLTU, 2 Unit Blok PLTGU  dan 5 Unit PLTG.

PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Belawan adalah salah satu unit pembangkit di Sumatrea bagian utara yang mempunyai tugas pokok mengoperasikan dan memelihara mesin pembangkit. Pada tahun 1973 dilakukan studi kelayakan oleh pemerintah Jepang (OCTA) yang dilanjutkan pada tuhun 1974 oleh tim Survey Direktorat Bina Program.

PT PLN bersama-sama dengan Energoinvest Yugoslavia melakukan survey menentukan lokasi yang diusulkan untuk pembangunan PLTU unit 1 dan 2 pada lokasi yang diusulkan tersebut, yang akhirnya ditentukan lokasi Pulau Naga Putri. Pada tanggal 02 April 1977 ditandatangani kontrak pembangunan PLTU unit 1 dan 2 dengan kapasitas 2 x 65 MW antara PLN dengan Energoinvest dengan Nomor Kontrak PJ.005/PST/1977.

Curated For You

Editorial Team

Related Article