Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
MBG Stop Karena Karhutla, Harga Ayam dan Cabai di Medan Turun
Beberapa orang melewati lapak penjual daging ayam potong. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Harga daging ayam di Medan turun dari sekitar Rp38.000 menjadi Rp34.500 per kilogram, dipicu kenaikan pasokan meski harga pakan ternak masih mahal.

  • Pelemahan permintaan turut menekan harga daging sapi; salah satu RPH Medan kini memotong 3–5 ekor sapi per hari, turun dari 6–8 ekor pada 2025.

  • Harga cabai merah, rawit hijau, dan hijau di Pasar Petisah ikut turun tajam, sehingga penurunan komoditas pangan berpeluang memicu deflasi Medan pada Oktober 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Harga daging ayam serta cabai merah, cabai rawit hijau, dan cabai hijau turun di Medan. Penurunan komoditas tersebut berpeluang mendorong deflasi Kota Medan pada Oktober 2026.
  • Who?
    Pedagang pasar, peternak, rumah potong hewan di Medan, serta Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi UISU dan Analis Bank Indonesia Sumut, terkait dengan kondisi penurunan harga dan permintaan.
  • Where?
    Penurunan harga terjadi di Kota Medan, termasuk Pasar Petisah, Pasar Pringgan, dan pasar tradisional lainnya. Kondisi harga ayam juga tercatat meluas di Sumatra Utara.
  • When?
    Penurunan berlangsung pada awal pekan Oktober 2026, dibandingkan harga pada Jumat dan akhir pekan sebelumnya. Potensi deflasi disebut untuk Oktober 2026.
  • Why?
    Harga ditekan oleh kenaikan pasokan dan lemahnya permintaan atau penjualan. Daya beli masyarakat yang melemah turut dikeluhkan peternak dan pedagang, sementara harga pakan ternak masih mahal.
  • How?
    Harga ayam turun dari sekitar Rp38.000 menjadi Rp34.500 per kilogram. Di Pasar Petisah, cabai merah turun menjadi Rp52.500, rawit hijau Rp50.000, dan cabai hijau Rp36.000 per kilogram.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Harga ayam dan cabai di Medan turun. Ayam sekarang sekitar Rp34.500 satu kilo. Cabai juga lebih murah di Pasar Petisah. Banyak barang datang, tapi orang membeli lebih sedikit. Pedagang sapi juga menjual lebih sedikit. Pak Gunawan bilang harga turun ini bisa membuat harga-harga di Medan ikut menurun pada Oktober.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Turunnya harga ayam dan beragam cabai di Medan memberi ruang lebih besar bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Kenaikan pasokan yang mendorong pelemahan harga juga membantu meredakan tekanan inflasi pada Oktober, meski kondisi ini tetap mencerminkan perlunya perhatian terhadap permintaan dan keberlanjutan usaha pelaku pangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Harga daging ayam dan cabai melanjutkan tren penurunan pada awal pekan ini. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya deflasi di Kota Medan pada bulan Oktober 2026.

Berdasarkan pantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam di Kota Medan dan Sumatra Utara pada umumnya bergerak turun. Di tingkat pedagang pasar, harga bahkan anjlok dari kisaran Rp38.000 per kilogram pada Jumat pekan lalu menjadi Rp34.500 per kilogram pada perdagangan hari ini.

Diantaranya, pasar Petisah, Pringgan Kota Medan, dan pasar tradisional lainnya mengalami penurunan.

Dari observasi dilapangan, penurunan dipicu kenaikan pasokan. Di sisi lain, harga pakan ternak masih bertahan mahal dan belum menunjukkan tanda akan turun dalam waktu dekat.

Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) sekaligus Analis Bank Indonesia Sumut, Gunawan Benjamin menilai ada hal yang perlu diwaspadai terkait harga daging dan cabai.

"Yang menarik adalah memburuknya harga akibat lemahnya permintaan atau penjualan," ujarnya.

Dia menilai, penurunan permintaan salah satunya dipicu oleh berkurangnya aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) karena sekolah jarak jauh karena kabut asap. Selama ini diketahui permintaan dari ayam dari SPPG cukup besar.

"Benar, jadi memang pada dasarnya dapur SPPG ini menyumbang kontribusi besar terhadap kebutuhan daging ayam. Sehingga ketika kegiatannya berkurang, hal itu memicu pelemahan harga daging ayam," jelasnya.

1. Dampaknya juga pada rumah potong hewan yang semakin menurun dibanding tahun lalu

Mujiyem seorang pedagang daging ayam menunggu pembeli di Pasar Karangayu Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Menurutnya, peternak sapi juga mengeluhkan tekanan akibat melemahnya daya beli masyarakat. Sejumlah pedagang menyebut belanja daging sapi menurun sehingga harga terpaksa diturunkan.

Sebagai contoh, salah satu rumah potong hewan (RPH) di Medan kini hanya memotong 3 hingga 5 ekor sapi per hari. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan periode 2025 yang mencapai 6 hingga 8 ekor per hari.

2. Penurunan juga terjadi pada komoditas cabai

Ilustrasi cabai merah keriting. (Dok. Bapanas)

Penurunan juga terjadi pada komoditas cabai. Cabai merah, cabai rawit, dan cabai hijau kompak turun pada awal pekan ini.

Mengacu pada PIHPS, penurunan paling tinggi terjadi di Pasar Petisah. Harga cabai merah di pasar tersebut dijual rata-rata Rp52.500 per kilogram, setelah sempat menyentuh Rp60.000 per kilogram pada Jumat pekan lalu.

Masih dari pasar yang sama, cabai rawit hijau turun dari Rp71.000 per kilogram pada akhir pekan menjadi Rp50.000 per kilogram pada awal pekan ini. Sementara cabai hijau turun dari Rp47.000 menjadi Rp36.000 per kilogram.

3. Penurunan ketiga komoditas berpeluang menciptakan deflasi di Kota Medan

Ilustrasi Kenapa Deflasi Bisa Terjadi? (pixabay.com/pixabay)

Gunawan menilai, penurunan ketiga komoditas tersebut berpeluang menciptakan deflasi di Kota Medan pada bulan ini. Pasokan menjadi isu utama yang menekan harga.

"Tekanan inflasi pada Oktober di Sumut mereda, walaupun ancaman inflasi pada bulan-bulan selanjutnya masih sangat terbuka," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article