Harga Cabai Merah Naik 50 Persen, Sumut Terancam Inflasi 0,3 Persen

Harga cabai merah di Sumatra Utara melonjak sekitar 50 persen dan diproyeksikan menjadi pendorong utama inflasi bulanan September 2026, yang diperkirakan mencapai 0,3 persen atau lebih.
Kenaikan juga terjadi pada sawi hijau, daging ayam, telur, serta sejumlah ikan dan sayuran; sementara cabai rawit, bawang merah, tomat, kentang, dan minyak goreng curah mengalami penurunan harga.
Gangguan pasokan usai panen di Sumut dan minimnya stok dari Aceh memicu kenaikan; pasokan diperkirakan membaik pertengahan hingga akhir Oktober, meski berisiko terdampak kekeringan.
Medan, IDN Times - Cabai merah diproyeksikan menjadi penyumbang inflasi utama Sumatra Utara (Sumut) pada September 2026.
Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menyoroti hal tersebut di wilayah Sumut akan mencetak inflasi secara bulanan atau month to month pada September ini. Pemicunya adalah lonjakan harga cabai merah yang mencapai sekitar 50 persen.
"Dari keseluruhan komoditas yang berfluktuasi, saya memperkirakan inflasi Sumut pada September secara bulanan akan mencapai 0,3 persen, atau bahkan melebihi angka tersebut," ujar Gunawan, Senin (28/9/2026).
1. Bahan pangan lain juga mengalami kenaikan hingga 50 persen

Dirut Bulog Letjen Ahmad Rizal Ramadhan dan jajaran Kemenko Pangan meninjau ketersediaan bahan pokok wilayah Kendal. (IDN Times/Dok Humas Bulog Jateng ( Selain cabai merah, sejumlah bahan pangan lain juga mengalami kenaikan. Sawi hijau naik sekitar 50 persen, daging ayam 7 persen, dan telur ayam 1,3 persen. Komoditas lain yang ikut naik adalah ikan gembung, udang, ikan tongkol, wortel, ikan dencis, dan bayam.
Di sisi lain, beberapa kebutuhan harian justru mengalami penurunan harga. Cabai rawit turun hingga 16 persen, minyak goreng curah 0,9 persen, bawang merah sekitar 7 persen, tomat 14 persen, dan kentang 12 persen. Penurunan juga terjadi pada kacang panjang hingga emas perhiasan.
2. Lonjakan inflasi September disebabkan gangguan pasokan

Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times) Menurut Gunawan, lonjakan inflasi September lebih disebabkan gangguan pasokan. Musim panen cabai di wilayah Sumut, seperti di Kabupaten Batubara, telah berakhir sehingga stok menipis.
"Ditambah persediaan cabai dari Aceh yang sangat minim. Mendatangkan cabai dari luar Aceh termasuk ke Sumut menambah beban tekanan inflasi di September," jelasnya.
3. Diperkirakan pasokan akan membaik pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026

Ilustrasi inflasi (freepik.com) Dia memperkirakan pasokan akan membaik pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026 saat Aceh memasuki musim panen cabai. Namun, panen tersebut juga berpotensi terganggu gelombang El Nino yang memicu kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
"Mitigasi pengendalian harga kebutuhan masyarakat ke depan akan menghadapi masalah serius dari gangguan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Masih ada ketidakpastian pergerakan harga ke depan," pungkas Gunawan.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















