illustrasi pernikahan adat Tionghoa (pexels.com/Tama Utama)
Secara garis besar, tidak semua pantangan di bulan hantu (Hungry Ghost Festival) berlaku sama ketatnya di seluruh daerah. Meskipun akar kepercayaannya sama yaitu meyakini bahwa gerbang alam baka terbuka selama bulan ke-7 kalender Imlek penerapan, daftar pantangan, dan tingkat kepatuhannya sangat bervariasi tergantung pada wilayah, tradisi lokal, hingga faktor generasi.
Di beberapa negara seperti Taiwan, Hongkong, Singapure, China (Thiongkok) masih ada yang mempercayai pantangan thakayul dengan sangat ketat. Di Taiwan, industri otomotif, properti, dan pernikahan mengalami penurunan drastis selama bulan ini karena mayoritas warga benar-benar menunda membeli mobil, membeli rumah, atau menikah. Bahkan ada pantangan spesifik untuk tidak naik bus atau kereta terakhir malam hari.
Sedangkan dalam Festival Hungry Ghost Singapura ada larangan duduk di barisan depan saat konser jalanan karena dipercaya barisan depan khusus untuk arwah. Di Indonesia sendiri kepatuhan terhadap pantangan biasanya kembali kepada kepercayaan individu atau keluarga masing-masing, bukan menjadi aturan sosial yang kaku. Mayoritas generasi muda di era modern ini cenderung mengabaikan takhayul kuno dan tetap mempertahankan ritual inti saja.
Hungry Ghost Festival di Medan menunjukkan bagaimana sebuah tradisi yang berhubungan dengan alam arwah ternyata memiliki nilai yang lebih luas. Keberadaan festival ini juga menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Tionghoa di Medan yang masih dipertahankan hingga kini. Jadi, daripada hanya melihatnya sebagai "festival hantu", Hungry Ghost Festival lebih menarik dipahami sebagai tradisi yang mempertemukan unsur keagamaan, kepercayaan, keluarga, dan budaya dalam satu perayaan. Nah, apakah kamu tertarik melihat festival ini secara langsung?