Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Harga Rp99 Ribu Terasa Lebih Murah dari Rp100 Ribu?
ilustrasi harga produk (pexels.com/Erik Mclean)

Pernah melihat produk seharga Rp99 ribu dan secara spontan merasa harganya lebih menarik daripada produk seharga Rp100 ribu? Padahal, selisih keduanya cuma Rp1.000 dan mungkin gak terlalu berpengaruh terhadap kondisi dompet kebanyakan konsumen. Fenomena sederhana tersebut menunjukkan bahwa keputusan membeli gak selalu lahir dari perhitungan matematis, tetapi juga dipengaruhi cara otak membaca dan memaknai angka.

Dalam bisnis, penetapan harga seperti Rp99 ribu bukan sekadar keputusan untuk mengurangi nominal sebesar Rp1.000. Strategi tersebut berkaitan erat dengan psikologi harga yang memanfaatkan persepsi konsumen agar suatu produk terasa lebih terjangkau sekaligus menarik tanpa harus memberi potongan besar. Menariknya, ada beberapa alasan mengapa perbedaan angka yang sangat kecil tersebut dapat memengaruhi keputusan belanja, yuk pahami strateginya bersama.

1. Memanfaatkan kecenderungan membaca angka dari kiri

ilustrasi wanita belanja (unsplash.com/Dollar Gill)

Konsumen cenderung memberi perhatian besar terhadap digit paling kiri ketika melihat sebuah harga. Harga Rp99 ribu masih diawali angka sembilan, sedangkan Rp100 ribu sudah memasuki kelompok angka seratus meskipun selisih nominalnya sebenarnya sangat kecil. Dalam psikologi konsumen, kecenderungan tersebut kerap dikaitkan dengan left-digit effect yang membuat perubahan digit pertama terasa lebih signifikan.

Perbedaan persepsi itu menjadi alasan banyak bisnis sengaja menempatkan harga sedikit di bawah angka bulat berikutnya. Konsumen dapat menangkap Rp99 ribu sebagai harga yang masih berada dalam kelompok puluhan ribu, sementara Rp100 ribu terasa telah mencapai batas psikologis baru. Strategi tersebut membantu produk terlihat lebih terjangkau tanpa mengharuskan penjual memangkas harga dalam jumlah besar.

2. Menciptakan kesan harga lebih murah

ilustrasi harga produk (pexels.com/Markus Winkler)

Harga yang berakhir dengan angka sembilan dapat menciptakan kesan adanya keuntungan finansial bagi konsumen. Meskipun cuma berbeda Rp1.000, Rp99 ribu secara visual terlihat lebih rendah daripada Rp100 ribu karena susunan angkanya belum mencapai tiga digit dalam satuan ribuan. Persepsi tersebut dapat terasa semakin kuat ketika konsumen membandingkan beberapa produk dalam waktu singkat.

Strategi harga semacam ini juga membantu bisnis mempertahankan nilai jual produk sambil tetap menghadirkan kesan ekonomis. Penjual gak harus memberikan diskon besar hanya untuk membuat nominal harga terlihat lebih bersahabat bagi calon pembeli. Selisih kecil sengaja dipertahankan karena persepsi terhadap harga terkadang memiliki pengaruh yang lebih besar daripada besarnya penghematan secara nyata.

3. Menempatkan produk di bawah batas anggaran konsumen

ilustrasi bisnis kuliner (pexels.com/iMin Technology)

Banyak konsumen memiliki batas anggaran tertentu sebelum mulai mencari produk yang hendak dibeli. Seseorang yang menetapkan anggaran maksimal di bawah Rp100 ribu secara psikologis dapat lebih mudah menerima produk berharga Rp99 ribu karena nominalnya masih berada di bawah batas tersebut. Sebaliknya, harga Rp100 ribu dapat terasa seperti sudah melewati batas yang sebelumnya ditetapkan meskipun perbedaannya cuma Rp1.000.

Kondisi tersebut membuat penetapan harga sedikit di bawah angka bulat memiliki fungsi strategis dalam proses pertimbangan pembelian. Produk dapat tetap masuk dalam kategori harga yang dianggap sesuai dengan anggaran konsumen tanpa membutuhkan pengurangan nilai yang terlalu besar. Bagi bisnis, pendekatan ini juga membantu menjaga pendapatan per produk sambil mempertahankan persepsi bahwa harga masih cukup terjangkau.

4. Memberikan kesan harga telah diperhitungkan

ilustrasi bisnis kuliner (pexels.com/Gustavo Fring)

Nominal Rp99 ribu dapat memberikan kesan berbeda dibanding harga bulat Rp100 ribu karena terlihat lebih spesifik. Angka yang gak bulat dapat membuat konsumen menangkap kesan bahwa harga tersebut muncul melalui pertimbangan tertentu, bukan sekadar angka yang dipilih secara sederhana. Dalam konteks penjualan, persepsi kecil semacam ini dapat membantu harga terlihat lebih terencana dan kompetitif.

Meski demikian, efektivitas strategi tersebut tetap bergantung pada jenis produk dan citra yang ingin dibangun sebuah bisnis. Produk yang menonjolkan kemewahan atau eksklusivitas terkadang justru memakai harga bulat agar kesannya lebih sederhana, premium, dan percaya diri. Karena itu, harga Rp99 ribu bukan rumus mutlak untuk semua bisnis, melainkan salah satu pendekatan yang perlu disesuaikan dengan karakter konsumen dan posisi produk di pasar.

5. Mendorong keputusan membeli secara lebih cepat

ilustrasi transaksi kartu kredit (pexels.com/Anna Tarazevich)

Selisih kecil di bawah angka bulat juga dapat mengurangi hambatan psikologis ketika konsumen hampir mengambil keputusan pembelian. Harga Rp99 ribu memberi kesan bahwa konsumen belum benar-benar mengeluarkan Rp100 ribu sehingga keputusan membeli dapat terasa sedikit lebih ringan. Efek tersebut menjadi semakin relevan pada produk yang dibeli secara spontan atau memiliki banyak alternatif dengan rentang harga serupa.

Namun, harga psikologis tetap perlu didukung oleh kualitas produk, kepercayaan terhadap merek, serta pengalaman berbelanja yang baik. Konsumen gak hanya mempertimbangkan angka pada label harga karena manfaat produk dan kebutuhan pribadi tetap memiliki peran besar dalam keputusan akhir. Strategi Rp99 ribu akhirnya bekerja sebagai dorongan kecil yang memperkuat daya tarik penawaran, bukan sebagai satu-satunya alasan seseorang melakukan pembelian.

Harga Rp99 ribu daripada Rp100 ribu menunjukkan bahwa selisih kecil dapat membawa perbedaan cukup besar dalam cara konsumen memandang sebuah produk. Strategi tersebut memanfaatkan cara otak membaca angka, batas anggaran, hingga persepsi mengenai murah atau mahal tanpa mengharuskan bisnis memberi potongan harga besar. Meski efektif dalam konteks tertentu, penerapannya tetap perlu mempertimbangkan karakter produk, target konsumen, dan citra merek agar strategi harga terasa relevan sekaligus meyakinkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article