Sebelumnya, Ridho menduga karena alat PCR 'banjir' atau stok melimpah di Indonesia dan diikuti juga banyak layanan PCR itu. Sehingga untuk dapat terjual semuanya. Harga pun, diturunkan menjadi Rp30ribu.
"Jangan-jangan (PCR) impornya sudah banyak, jadi ada kebijakan (turun harga) ini. Apalagi, alat PCR digunakan untuk penerbangan. Dilihat dari sisi impor sendiri," kata Ridho.
Secara nasional, Ridho mengungkapkan ada 10 importir menyediakan alat PCR di Indonesia. Dengan itu, pihak KPPU mau lihat hulu dari impor PCR tersebut.
"Secara nasional, kita support data masing-masing wilayah untuk dikaji secara nasional lah," ucap Ridho.
Ridho menjelaskan ada keanehan dalam pemasaran PCR yang turun harga secara drastis. Sebelumnya harga PCR Rp 525 ribu hingga bisa tembus Rp 1 juta. Ia menilai ada keuntungan besar dari 'dagang' PCR ini.
"Ini aneh juga harga PCR bisa jadi Rp 300 ribu. Kalau tidak ditetapkan pemerintah masih Rp 525 ribu. Terlalu banyak mengambil untungnya. Kita mau lihat dari hulunya, impornya ini lah," kata Ridho.