TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Cara BRI Meningkatkan Literasi Keuangan dan Bantu Modal UMKM di Sumut

Akses pembiayaan perbankan semakin dipermudah

Pameran pelaku UMKM pada HUT ke-43 Dekranas di Medan yang dibuka sejak Selasa (16/5/2023) (IDN Times/Doni Hermawan)

Medan, IDN Times- Para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) harus dibekali dengan literasi keuangan yang baik. Terutama dalam menjalankan bidang usahanya agar tidak salah langkah mengakses permodalan yang dibutuhkan.

Hal itu dikatakan Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM Kementerian BUMN, Loto Srinaita Ginting saat membuka talk show "Literasi Keuangan dan Dukungan Permodalan UMKM" yang digelar Kementerian BUMN didukung BRI dan Pegadaian dalam rangka HUT ke-43 Dekranas di Medan, Rabu (17/5/2023). 

Saat ini menurut Loto berdasar hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat inklusi keuangan tak dibarengi dengan indeks literasi keuangan. Inklusi keuangan nasional mencapai angka 85,1 persen sementara indeks literasi keuangan baru 49,68 persen. 

"Sebenarnya inklusi sudah cukup bagus, akses dari semua masyarakat mendapatkan fasilitas keuangan ataupun produk layanan keuangan sudah terbuka luas. Namun indeks literasi keuangan baru mencapai 49,68 persen. Artinya kita masih perlu meningkatkan pemahaman produk keuangan dan pemahaman layanan keuangan di sekitar kita. Supaya kita mampu pada saatnya menggunakan produk yang penting untuk usaha kita, investasi dan mengerti manfaat dan risikonya," kata Loto. 

Baca Juga: Melipir ke Tengah People and Place, Pengunjung Manfaatkan Promo BRI

1. Kolaborasi Kementerian dan perusahaan BUMN mendorong literasi keuangan warga termasuk pelaku UMKM.

Staf Kementerian BUMN Loto Ginting bersama Sally dari Batik Trusmi saat talk show dalam rangkaian HUT ke-43 Dekranas di Medan, Rabu (17/5/2023) (Dok.Dekranas)

Di Sumatra Utara sendiri sebenarnya indeksnya melebihi angka nasional. Hal ini menunjukkan pemahaman literasi di Sumut sudah cukup baik. 

"Di Sumut tingkat literasi mencapai 51,69 persen. Sedikit di atas nasional literasinya. Inklusinya bahkan lebih tinggi 95,58 persen. Sudah lebih baik dari angka nasional. Orang Sumut hebat," kata Loto.

Inklusi keuangan yang ada diharapkan lebih produktif meningkatkan ekonomi masyarakat. "Untuk itu Kementerian BUMN dan perusahaan BUMN dalam hal ini BRI dan Pegadaian berkolaborasi dengan Dekranas menggelar kegiatan ini sebagai bentuk konkrit mendorong literasi keuangan warga termasuk pelaku UMKM. Kegiatan ini juga bentuk dukungan BUMN mendorong UMKM naik kelas. Selain permodalan, melibatkan UMKM dalam rantai pasok BUMN. BUMN berbelanja ke produk UMKM. Memperluas akses pasar UMKM secara offline maupun online," katanya.

Untuk mendorong inklusi keuangan di Indonesia, BUMN juga mempunya peran yang cukup besar. "Pembentukan holding ultra Mikro, dimana BRI, Pegadaian dan PNM bersatu melayani nasabah ultra mikro supaya semakin nyaman mendapat layanan produk keuangan. Kolaborasi tiga entitas ini diharap dapat memermudah pelaku UMKM mengakses layanan keuangan. Apresiasi dan rasa bangga pelaku UMKM dalam upaya meningkatkan kompetensinya," kata perempuan yang juga komisaris PT Pegadaian ini.

2. BRI memberikan pilihan kepada pelaku UMKM untuk mendapatkan modal

Produk UMKM yang dipamerkan pada pameran expo HUT ke-43 Dekranas di Lapangan Benteng Medan mulai Selasa (16/5/2023) (IDN Times/Doni Hermawan)

Sementara itu Regional Micro Banking Head Bank BRI RO Medan Anditya Mahendra Krishna mengatakan sesuai visi dan misi BRI membantu pemerintah mencapai inklusi keuangan di angka 95 persen. 

"Sebenarnya mudah mendapatkan akses pembiayaan perbankan. Mungkin karena ketidaktahuan masih takut-takut. Peran dan komitmen BRI untuk membantu masyarakat mendapat literasi keuangan yang baik," katanya.

Untuk akses permodalan, BRI memberikan pilihan-pilihan kepada pelaku usaha sesuai dengan kemampuannya. Subsidi dalam Kredit Usaha Rakyat (KUR) misalnya menjadi salah satu opsi untuk memudahkan pelaku UMKM mendapatkan modal usaha.

"Di BRI khususnya UMKM, kita menjalankan fungsi mediasi. Produk KUR bisa menyalurkan mulai dari supermikro Rp10 juta yang baru memulai usaha. KUR mikro Rp100 juta, tanpa agunan sama sekali. Yang penting usaha sudah ada. Kalau naik kelas lagi, KUR kecil Rp500 juta. Bunga pun ada ratingnya super mikro tadi bunga 3 persen per tahun, bukan per bulan. Naik kelas jadi mikro sampai 100 juta sampai Rp500 bunganya berjenjang. Pinjaman kedua 7 persen sampai maksimal 9 persen," jelas Anditya.

Dalam aktivitasnya, didirikan holding ultra mikro mensinergikan dengan PNM dan Pedagaian. "Cara agar literasi termasuk pembiayaan agar lebih mudah.Co-location lebih dari 70 di Sumut. Outlet yang mensinergikan BRI, PNM dan Pegadaian dalam satu atap," tambahnya.

Salah satu pemahaman yang kurang diketahui warga adalah soal KUR. Ada jangka waktu untuk bisa menikmati pinjaman berubsidi itu. Bukan terus menerus.

"Yang namanya KUR itu bersubsidi. Dinikmati sekali saja. Kalau sudah pinjam di KUR, kalau kapasitasnya bisa meningkat plafonnya. Mengajukan ulang dianalisa tim. Tergantung cash low-nya. Tools menilai seberapa besar size bisnis ini. Bukan untuk memberatkan, tapi membantu usaha yang sudah berjalan," katanya.

"KUR bersubsidi itu ada pembatasan. Akumulasinya belum Rp400 juta. Maksimal frekuensinya 3 kali. Namanya bersubsidi ada beban pemerintah di sana. Jika sudah melewati itu nasabah diharapkan naik kelas menjadi nasabah komersial. Subsidi itu pemerataaan," jelasnya.

Baca Juga: Cerita Pasutri Suhari dan Sri, Sembilan Tahun Membangun Usaha Fotokopi

Berita Terkini Lainnya