Tanggal 2-8 Maret tahun lalu menjadi hari yang amat sibuk bagi Pandhu Waskitha. Perjalanan lintas pulau antar benua harus dilalui dari Bali-Jakarta-Singapura-Perth hingga balik ke Bali. Meski lelah, perjalanan pada musim gugur itu bisa jadi adalah pekan paling berkesan baginya. Untuk kali pertama Pandhu traveling keluar Asia: Perth, Australia Barat.
Pria yang akrab disapa Backpacker Tampan ini sangat tertarik melakukan perjalanan ini. Karena bukan kota besar seperti Sidney, Melbourne, Brisbane, atau Adeliade. Baginya Perth sangat asing di telinganya, membuat rasa keingintahunya semakin besar.
“Ini traveling pertamaku di luar Asia. Salah satu kota kecil di Australia, tapi punya banyak destinasi wisata tersembunyi dan eksotis,” katanya Pandhu.
Tak sendirian, atas undangan dari Tourism Board West Australia, Pandhu diajak mengeksplore keindahan pariwisata Australia Barat bersama dua influencer lain dan dua jurnalis dari Indonesia. Mereka berlima berasal dari kota berbeda dan bertemu di Bandara Internasional Changi, Singapura.
Menaiki Singapore Airlines SQ215Y, mereka menempuh perjalanan sekitar 5 jam untuk tiba di Perth, Ibu Kota Australia Barat. Penerbangan cukup lama tapi pelayanan, hidangan, dan fasilitas hiburan selama yang sangat memuaskan membuat waktu berjalan lebih cepat. Tepat tengah malam Pandhu Cs tiba di Bandara Perth.
Hari pertama di Perth, Pandhu langsung terpukau dengan keindahan kota kecil ini. Blusukan atau walking tour dimulai dari The Bell Tower, menyusuri Sungai Swan, Jembatan Elizabeth Quay, hingga bangunan bersejarah London Court yang sangat unik ia terus berdecak kagum.
“London Court adalah sisa peninggalan jajahan Inggris dan bentuknya mirip banget dengan tempat syuting Harry Potter di Inggris, seperti memasuki portal Waktu kita masuk ke Diagon Alley. Terus Street Art kota Perth juga sangat indah, gang-gang kecil diubah jadi sangat menawan,” ungkap penulis buku ‘Bucket List (2016)’ dan ‘The Little Backpacker in The Great Big Universe (2025)’ ini.
Yang bikin lebih sempurna, di belakang London Court adalah pusat perbelanjaan dan tempat ngopi. Jadi wisatawan bisa berbelanja usai berkeliling atau sekedar minum teh atau kopi.
Hari itu Pandhu dan teman-temannya menutup perjalanan ke Optus Stadium untuk melakukan tour stadion, sekaligus berkenalan dengan penduduk asli Australia Barat. Ia mengaku senang bisa menjelajahi hidden gem ketimbang harus ke kota-kota besar yang sudah terkenal.
Hari kedua semakin membuat Pandhu terpukau. Ia diajak mendatangi kota Fremantle. Kota pelabuhan bersejarah jaraknya sekitar 29 Km dari Perth. Kota ini terkenal dengan arsitektur era kolonial Victoria, suasana bohemian, dan ketenaran kuliner lautnya.
Penjara Fremantle jadi destinasi paling ternama di Fremantle dan sudah masuk sebagai situs warisan dunia dari UNESCO. Tak jauh dari penjara fremantel terdapat tugu peringatan perang, gedung bekas kantor wali kota yang ikonik, lapangan klub cricket, dan pasar tradisional. Semuanya bisa ditempuh hanya berjalan kaki. Seniman jalanan unjuk kebolehan di tiap sudutnya.
“Cuacanya lagi bagus di bulan-bulan Maret ini. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Australia Barat saat ini,” katanya pelantun single ‘Semesta Memandu’ (2024) ini.
Selama beberapa hari berikutnya Pandhu dan teman-teman menghabiskan waktu di Busselton. Jaraknya sekitar 2,5 jam dari Perth. Salah satu destinasi paling masyhur di Busselton adalah Taman Nasional Leeuwin-Naturaliste. Taman nasional ini langsung berbatasan dengan laut Samudra Hindia. Di musim-musim tertentu laut ini akan dilintasi paus dan lumba-lumba.
Seminggu berlalu sangat cepat. Hamun hari terakhir perjalanan di Australia Barat menjadi hari paling berkesan bagi pria 32 tahun ini. Ia diajak berkunjung ke Pulau Rottnest, pulau terlarang di masa lampau namun kini menjadi destinasi wisata yang sangat indah. Pulau ini menjadi tempat pengasingan warga lokal yang melakukan perlawanan. Sepeda jadi trasportasi paling umum di pulai ini.
Yang bikin istimewa, di Pulau Rottnest wisatawan bisa melihat Quokka, mamalia marsupial atau berkantung yang sangat langka dan terancam punah. ‘Kanguru kecil’ ini sering dijuluki hewan paling bahagia di dunia karena wajahnya yang seperti tersenyum sepanjang hari.
“Quokka ini lucu dan unik banget dan mamalia nocturnal, hanya ada di Rottnest Island. Jadi kita harus berjalan pelan-pelan mencari tempat dia tidur di siang hari,” katanya Pandhu.
Di tengah kota Rottnest, Quokka berkeliaran seperti kucing. Namun tak ada yang boleh menyentuhnya. Wisatawan hanya boleh mendekat dan berfoto saja. Berhasil selfie bareng dua Quokka bagi Pandhu adalah ‘gong’ dalam perjalanan ini. Akan ia kenang sepanjang hidupnya. Ke benua manapun ia melangkah suatu hari nanti takkan ia temui mamalia serupa seperti yang ada di Australia Barat.
Jelang waktu penerbangan kembali ke Indonesia, Pandhu memilih berpisah dengan rekan-rekannya di Bandara Perth. Ia ingin menjajal penerbangan langsung Singapore Airlines dari Perth menuju Bali. Waktu penerbangan lebih hemat di banding harus transit ke Singapura, hanya sekitar 3 jam.
Rekan-rekannya yang lain menaikin SQ 224Q menuju Singapura untuk transit sebelum kembali ke kota masing-masing.