Siapa warga Medan yang tidak pernah melintas di persimpangan Jalan Jamin Ginting, Jalan K.H. Wahid Hasyim, dan Jalan Sultan Iskandar Muda? Di simpang yang nyaris tak pernah sepi itu, berdiri sebuah monumen pria memegang biola. Banyak yang lewat, sedikit yang benar-benar menoleh. Padahal sosok itu bukan figur biasa. Ia adalah Djaga Sembiring Depari, maestro musik Karo yang namanya tercatat sebagai komponis nasional.
Setiap hari ribuan kendaraan melintas di depannya, tetapi tidak sedikit generasi milenial dan Gen Z yang belum mengenal siapa sebenarnya tokoh di balik patung berwarna emas itu. Monumen ini menyimpan cerita panjang, tentang perjuangan kemerdekaan, tentang musik yang menjadi alat perlawanan, dan tentang identitas budaya Karo yang ikut membentuk Indonesia.
Keberadaan patung Djaga Depari di tengah dinamika Medan yang semakin modern seakan menjadi penanda yang sunyi. Ia berdiri tegak, sementara ingatan kolektif kita perlahan memudar. Supaya tidak cuma jadi patung yang “terlewati”, berikut lima fakta unik tentang monumen Djaga Depari yang layak kamu tahu.
