Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Unik Masjid Al-Jihad, Ramadan Hangat dan Ekonomi Masyarakat
Masjid Al-Jihad (Mangara Wahyudi)
  • Masjid Al Jihad di Medan menjadi pusat aktivitas Ramadan, menghidupkan ekonomi warga lewat pedagang takjil dan suasana kebersamaan menjelang waktu berbuka.
  • Pintu masjid terbuka 24 jam, kegiatan berbagi terus berjalan sepanjang tahun, serta rutin mengadakan kajian dengan penceramah ternama yang menarik banyak jemaah.
  • Pernah menghadapi sengketa lahan pada 2012, masjid ini kini juga fokus pada pemberdayaan ekonomi melalui pengelolaan zakat produktif dan koperasi bagi masyarakat sekitar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan selalu punya caranya sendiri untuk mengubah suasana. Di Jalan Abdullah Lubis, perubahan itu terlihat jelas. Menjelang magrib, pelataran Masjid Al Jihad mulai ramai bukan hanya oleh orang yang datang untuk berbuka, tetapi juga pedagang takjil di sekitar yang sibuk melayani jemaah dan warga. Aktivitas ini membuat kawasan sekitar masjid seketika hidup, seolah ada denyut ekonomi yang muncul bersamaan dengan semangat Ramadan.

Ada yang duduk bersandar sambil memainkan ponsel, ada yang ngobrol kecil menunggu azan, ada panitia yang mondar-mandir memastikan takjil cukup, dan ada pula orang yang membeli jajanan untuk berbuka. Kehangatan ini membuat Al Jihad terasa seperti rumah bagi siapa saja, sekaligus menjadi pusat interaksi sosial dan ekonomi setiap sore Ramadan.

Oleh karena itu, dari strategis dan menariknya lokasi masjid ini, berikut lima fakta unik yang menggambarkan wajah Masjid Al Jihad selama puluhan tahun berdiri. Mari simak!

1. Pintu masjid yang hampir pernah terkunci

Masjid Al-Jihad (Mangara Wahyudi)

Pintu utama Masjid Al Jihad terbuka selama 24 jam. Di kota yang aktivitasnya nyaris tiada henti, keputusan ini bukan hal kecil. Tidak semua tempat berani mengambil risiko seperti ini, apalagi di Medan.

Bagi sebagian orang, pintu yang terbuka mungkin terlihat biasa saja. Tapi bagi mereka yang datang tengah malam dengan hati gelisah atau pikiran penuh beban, masjid yang tetap menyala lampunya terasa seperti tempat pulang yang tidak banyak bertanya.

2. Berbagi yang tidak musiman

Masjid Al-Jihad (Mangara Wahyudi)

Ramadan memang jadi momen paling sibuk. Ratusan porsi berbuka disiapkan setiap hari, dan suasana dapur terasa lebih hidup dari biasanya. Semua bergerak cepat, tapi tetap teratur.

Namun setelah Ramadan selesai, kegiatan berbagi tidak ikut berhenti. Bubur untuk jemaah yang menjalankan puasa sunah tetap tersedia. Tidak diumumkan besar-besaran, tidak dipromosikan. Jalan terus, seperti sudah menjadi kebiasaan.

3. Tempat orang datang untuk belajar

Masjid Al-Jihad (Mangara Wahyudi)

Masjid ini juga dikenal sebagai tempat kajian yang rutin menghadirkan penceramah dari berbagai daerah. Nama seperti Ustaz Syafiq Riza Basalamah dan Syaikh Assim Al-Hakeem pernah mengisi mimbar di sini.

Setiap kali jadwal diumumkan, jemaah biasanya datang lebih awal. Ruang utama cepat penuh. Ada yang duduk rapat-rapat, ada yang rela berdiri di bagian belakang. Antusias selalu terasa.

4. Pernah diuji soal lahan

Pedagang takjil di depan masjid al-jihad(mangara wahyudi)

Perjalanan Masjid Al Jihad tidak selalu mulus. Tahun 2012 menjadi masa yang cukup menegangkan ketika muncul sengketa lahan dengan pemerintah kota. Keberadaan masjid sempat berada dalam ketidakpastian.

Di saat seperti itu, jemaah tidak tinggal diam. Mereka menelusuri kembali arsip lama dan sejarah pendirian masjid. Dari situ terlihat bahwa Al Jihad merupakan bagian dari perjalanan hidup banyak orang.

5. Masjid yang ikut memikirkan ekonomi

Pedagang takjil di depan masjid al-jihad(mangara wahyudi)

Selain menjadi tempat ibadah, Al Jihad juga berupaya menjawab ekonomi jemaahnya. Zakat dan infak dikelola dengan pendekatan yang lebih produktif.

Dana yang terkumpul disalurkan kembali sebagai modal usaha bagi yang membutuhkan. Koperasi pun kembali diaktifkan. Pelan-pelan, manfaatnya terasa, tidak hanya di dalam masjid, tetapi juga di lingkungan sekitarnya.

Di tengah Kota Medan yang makin padat dan sibuk, Masjid Al Jihad tetap berdiri tanpa banyak sorotan. Tidak ramai mencari perhatian, tetapi konsisten hadir saat ummat membutuhkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team