Tahun ini kalender seperti sengaja mempertemukan dua suasana besar dalam satu tarikan napas. Imlek hadir dengan warna merah, doa-doa panjang, dan meja makan yang dipenuhi cerita keluarga. Belum sempat lampion-lampion itu diturunkan, Ramadan sudah menunggu di ambang hari. Kota yang sama, warga yang sama, tetapi nuansanya berganti begitu cepat, dari ucapan gong xi fa cai ke lantunan ayat suci menjelang tarawih.
Di Medan, pertemuan dua momen ini seperti menghidupkan kembali ingatan tentang bagaimana kota ini dulu tumbuh, lewat perjumpaan, lewat kerja sama, lewat ruang-ruang yang dipakai bersama. Dan di antara semua simbol itu, Masjid Raya Gang Bengkok berdiri paling tenang. Warna khas melayu menyala, atapnya melengkung seperti kelenteng. Dari luar, ia sudah bercerita.
Saat Imlek dan Ramadan datang hampir bersisian, masjid ini seperti menemukan panggungnya kembali, terutama bulan ini. Seolah sejarah yang dulu ditulis dengan keberanian untuk saling percaya dalam perbedaan, kini sedang diputar ulang, dan kita menikmatinya.
Dari semua keindahan toleransi dari sejarah masjid ini, IDN Times akan mengajakmu melihat lima fakta unik yang membuat Masjid Raya Gang Bengkok selalu relevan, terutama ketika dua perayaan besar itu hadir berdekatan.
