Medan, IDN Times- Tragedi di Stadion Kanjuruhan usai duel Liga 1 Arema FC kontra Persebaya pada 1 Oktober 2022 lalu menjadi peristiwa memilukan yang menyedot perhatian dunia. Dari data terbaru 131 orang meninggal dunia dan ratusan lain luka-luka.
Sorotan mengarah kepada gas air mata yang ditembakkan polisi ke berbagai arah setelah adanya sejumlah suporter yang masuk ke lapangan. Apalagi bertentangan dengan regulasi FIFA untuk mengendalikan massa.
Koordinator KontraS Sumut, Rahmat Muhammad mengatakan polisi menggunakan kekuatan yang berlebihan untuk pengendalian massa di stadion.
"Penggunaan kekuatan harus ada necesitas. Seimbang atau gak. Proporsional gak ancamannya. Kita lihat di stadion gak ada yang terancam, yang di tribun kebanyakan gak turun. Itu sebuah perbuatan yang keji. Ada 42 ribu di stadion, ratusan meninggal dan luka. Mereka pastinya akan mengalami trauma. Jangan-jangan besok aku mati di situ, di stadion. Itu akan lengket di ingatan kita, termasuk yang di sini," kata Rahmat dalam diskusi bertajuk "Kanjuruhan Malang yang Malang" di Kofie Meong, Rabu (5/10/2022) malam yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Medan.