Comscore Tracker

Sejarah May Day hingga Tragedi Haymarket yang Makan Korban 

Di Indonesia May Day sempat dilarang pada orde baru

Medan, IDN Times – 1 Mei menjadi hari raya bagi buruh. Perayaannya biasa dilakukan dengan unjuk rasa besar-besaran.

Unjuk rasa digelar serentak di seluruh belahan dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Para buruh terus menyuarakan aspirasi tentang hak-hak mereka. Kritik pedas terhadap sistem perburuhan di Indonesia selalu bergema di hari tersebut.

Namun siapa yang tahu, dibalik 1 Mei atau biasa disebut May Day itu, terdapat sejarah kelam dibaliknya.  May Day dalam sejarahnya, menumpahkan darah dan air mata sebelum bisa dirayakan seperti sekarang.

IDN Times merangkum sejumlah fakta tentang hari buruh. Mulai dari Internasional hingga awal mulanya di Indonesia.

1. Rentetan sejarah May Day hingga fakta buruh bekerja hingga 20 jam per hari

Sejarah May Day hingga Tragedi Haymarket yang Makan Korban IDN Times/Imam Rosidin

Karl Marx, seorang Filsuf kelahiran Jerman telah membagi masyarakat ke dalam dua kelas, Borjuis dan Proletar. Buruh masuk dalam kelas proletar. Dalam teorinya, Marx menyebut sejarah perkembangan masyarakat adalah perjuangan kelas.

Perkembangan Kapitalisme-Industri abad ke-19 menjadi awal rentetan panjang May Day . Dimulai pada 1806, Para pekerja Cordwainers melakukan mogok kerja pertama. Aksi mogok ini membawa para pentolan gerakan itu ke meja pengadilan. Peristiwa ini juga mengangkat fakta bahwa para buruh bekerja dari 19 sampai 20 jam per hari.

Sejak saat itu, pengurangan jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di amerika Serikat.

Baca Juga: 5 Hal yang Penting yang Menandai Sejarah 1 Mei Jadi Hari Buruh Dunia

2. Peter McGuire dan Matthew Maguire hingga gagasan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi.

Sejarah May Day hingga Tragedi Haymarket yang Makan Korban IDN Times/Imam Rosidin

Peter McGuire dan Matthew Maguire dianggap punya peranan penting dalam perjuangan kelas buruh. Pada 1872, McGuire dan 100 ribu pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut pengurangan jam kerja.

Mereka kemudian mengorganisir para pekerja dan pengangguran untuk menuntut pekerjaan dan uang lembur dari pemerintah. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan ‘pengganggu ketenangan masyarakat’.

McGuire pun hijrah ke St Louis, Missouri, Amerika Serikat pada 1881. Dia kembali mengorganisir para tukang kayu. Kemudian didirikanlah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari "United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America".

Ide ini tertular ke seluruh Amerika. Mereka merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin pertama September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.

Paade har buruh pertama digelar di New York.  Sebanyak 20 ribu peserta membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam penyelenggaraan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.

3. Kongres Internasional Pertama di Jenewa dan penetapan 1 Mei menjadi hari perjuangan kelas

Sejarah May Day hingga Tragedi Haymarket yang Makan Korban May Day (IDN Times/Imam Rosidin)

September 1866 menjadi hari penting bagi buruh. Kongres internasional buruh pertama kali diglar di Jenewa, Swiss. Tuntutan mereka adalah menurunkan jam kerja menjadi 8 jam. Tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.

Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions. Selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, ini memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut.

4. Ratusan buruh jadi korban Tragedi Haymarket berdarah

Sejarah May Day hingga Tragedi Haymarket yang Makan Korban google.com

Ratusan ribu buruh di Amerika Serikat menggelar demonstrasi akbar pada 1 Mei 1886. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.

Di hari keempat para Demonstran melakukan pawai besar-besaran di alun-alun Haymarket, Chicago. Suasana memanas. Polisi ingin membubarkan mereka.

Bom tiba-tiba meledak di dekat barisan polisi. Puluhan polisi terluka. Demonstran kemudian ditembaki. Dari berbagai sumber, sejumlah orang tewas.

Peristiwa di Chicago itu kemudian dikenal dengan nama Insiden Haymarket atau Kerusuhan Haymarket.

Konferensi Internasional Sosialis tahun 1889 kemudian menetapkan demonstrasi besar-besaran di AS dan Kanada serta insiden Haymarket sebagai momentum untuk perjuangan para buruh. Awal mula aksi tanggal 1 Mei 1886, ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional.

Sejak saat itu hari buruh diperingati di seluruh dunia pada tanggal 1 Mei.Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei. Muncul satu gagasan resolusi pada kongres tersebut :

“Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Prancis,”

Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara. Sejak 1890, 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.

5. Sejarah May Day di Indonesia yang sempat hilang di Rezim Soeharto

Sejarah May Day hingga Tragedi Haymarket yang Makan Korban Peringatan May Day (IDN Times/Prayugo Utomo)

Ternyata, perayaan Hari Buruh di Indonesia sudah diperingati di Indonesia sebelum kemerdekaan. Ratusan anggota Serikat Buruh "Kung Tang Hwee Koan" (serikat buruh bermarkas di Shanghai, tapi memiliki ratusan anggota di Surabaya) menggelar peringatan Hari Buruh di Surabaya pada tanggal 1 Mei tahun itu. Perayaan di Surabaya lantas dicatat sebagai peringatan hari buruh pertama di Indonesia.

Di masa kemerdekaan, kaum pekerja merayakan Hari Buruh pertama pada 1 Mei 1946. Beberapa tahun selepas Orde Lama tumbang, pemerintahan presiden Suharto meniadakan perayaan Hari Buruh secara perlahan dan sistematis.

Pemerintah kemudian menetapkan 20 Februari sebagai Hari Pekerja Nasional, merujuk pada hari lahir organisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) pada 20 Februari 1973.

Sejak saat itu, usaha-usaha kelas pekerja memperingati Hari Buruh selalu dihadapkan dengan represif. Mereka ditangkapi dan dijebloskan dalam tahanan.

Seusai orde baru rubuh bersamaan dengan lengsernya presiden Suharto, perayaan Hari Buruh diperingati setiap tahunnya. Pada peringatan 1 Mei 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Penetapan tersebut lalu diberlakukan pada 1 Mei 2014 dan bertahan hingga kini.

Baca Juga: May Day 2019, Apakah Pemilu Jadi Pintu Kesejahteraan Buruh ? 

Topic:

  • Doni Hermawan

Berita Terkini Lainnya