Medan, IDN Times – Nama Zamatra kembali digaungkan. Bukan sekadar nama lain dari Sumatra, tapi menjadi tajuk festival teknologi-budaya pertama yang memadukan kecerdasan buatan dengan warisan peradaban: ZAMATRA AI FEST #1 – Restorasi Hulu Hilir Sumatra Utara.
Hal ini disampaikan Bayu Rahmad Putra, pelaksana program sekaligus kreator AI, saat konferensi pers di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jalan Sei Siguti No. 17A/30, Medan, Rabu (6/5/2026).
Bayu menjelaskan, Zamatra adalah salah satu nama kuno Sumatra selain Taprobana, Percha, Suwarnabhumi. “Kabar tentang pulau ini pertama kali menyebar ke Eropa lewat laporan Megasthenes pada 290 SM. Tapi Claudius Ptolemaeus yang mempopulerkan lewat buku Geographia abad ke-2 Masehi,” paparnya.
Jauh sebelum itu, orang Mesir Kuno sudah mengenal Sumatra lewat kapur barus dari Barus. “Mereka mengawetkan mumi dengan kapur barus. Nabi Sulaiman pernah memburu kapur barus sampai Sumatra. Saat Isa lahir dihadiahi kemenyan. Kata kafura yang merujuk kapur barus pun tertulis di Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 5,” jelas Bayu.
Sumatra Utara memang kaya: Danau Toba dari letusan Super Volcano, 6 gunung api di Tanah Karo, Kerajaan Haru di Pantai Timur, hingga Situs Kota Cina yang pernah disinggahi Panglima Cheng Ho.
