Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Zamatra AI Fest akan Hidupkan Peradaban Kuno Lewat AI
Konferensi pers Zamatra AI Fest #1 di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Zamatra AI Fest #1 di Medan memadukan teknologi kecerdasan buatan dengan warisan budaya Sumatera Utara untuk menghidupkan kembali peradaban kuno melalui pendekatan kreatif dan futuristik.
  • Bayu Rahmad Putra menjelaskan bahwa AI digunakan sebagai alat restorasi sejarah, memungkinkan rekonstruksi kisah masa lalu serta membuka ruang refleksi bagi generasi muda terhadap identitas budaya.
  • Festival ini menghadirkan rangkaian kegiatan seperti seminar, bengkel, dan pameran karya AI yang menampilkan narasi peradaban Sumatra dalam perspektif modern sekaligus memperlihatkan potensi besar teknologi tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
290 SM

Megasthenes melaporkan kabar tentang pulau Zamatra ke Eropa, menjadi salah satu catatan awal mengenai Sumatra.

abad ke-2 Masehi

Claudius Ptolemaeus mempopulerkan nama Zamatra melalui buku Geographia, memperkenalkan wilayah tersebut ke dunia Barat.

1956

Kecerdasan buatan (AI) diperkenalkan pertama kali di Konferensi Dartmouth College, menandai awal perkembangan teknologi AI modern.

era digital

Sekitar 50 tahun setelah 1956, AI berkembang pesat dan menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sehari-hari.

6/5/2026

Bayu Rahmad Putra menggelar konferensi pers di Medan untuk memperkenalkan ZAMATRA AI FEST #1 – Restorasi Hulu Hilir Sumatera Utara, festival yang memadukan teknologi AI dengan warisan budaya Sumatra.

kini

Zamatra AI Fest berupaya menghidupkan kembali peradaban kuno Sumatra melalui kecerdasan buatan dan pameran budaya futuristik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Zamatra AI Fest #1 – Restorasi Hulu Hilir Sumatera Utara merupakan festival teknologi dan budaya yang memadukan kecerdasan buatan dengan warisan peradaban kuno di Sumatera Utara.
  • Who?
    Bayu Rahmad Putra, pelaksana program sekaligus kreator AI, menjadi penggagas kegiatan ini bersama tim penyelenggara Zamatra AI Fest.
  • Where?
    Kegiatan diumumkan di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jalan Sei Siguti No. 17A/30, Medan, dan akan berlangsung di berbagai wilayah Sumatera Utara.
  • When?
    Konferensi pers dilaksanakan pada Rabu, 6 Mei 2026. Jadwal lengkap rangkaian acara masih menunggu informasi lebih lanjut dari panitia.
  • Why?
    Festival ini digelar untuk menghidupkan kembali narasi sejarah dan kebudayaan Sumatera Utara melalui teknologi AI serta mengajak generasi muda memahami akar peradaban daerahnya.
  • How?
    Penyelenggara memanfaatkan teknologi AI sebagai metode kerja dan media pameran dalam bentuk seminar, dialog lintas gagasan, bengkel AI, serta pameran karya bertema restorasi budaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada acara namanya Zamatra AI Fest di Medan. Acara ini dibuat oleh Pak Bayu. Katanya, acara itu mau pakai komputer pintar yang disebut AI buat hidupin lagi cerita dan budaya lama dari Sumatra. Di sana ada pameran, panggung, dan belajar tentang AI. Sekarang orang-orang sedang siapin acaranya supaya banyak anak muda bisa datang dan tahu sejarahnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Zamatra AI Fest menghadirkan semangat baru dalam menjembatani teknologi dan kebudayaan, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menelusuri kembali jejak peradaban Sumatra yang kaya. Melalui pendekatan kreatif ini, festival tidak hanya menampilkan inovasi digital, tetapi juga menghidupkan kesadaran akan akar sejarah dan identitas budaya yang membentuk jati diri masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times – Nama Zamatra kembali digaungkan. Bukan sekadar nama lain dari Sumatra, tapi menjadi tajuk festival teknologi-budaya pertama yang memadukan kecerdasan buatan dengan warisan peradaban: ZAMATRA AI FEST #1 – Restorasi Hulu Hilir Sumatra Utara.

Hal ini disampaikan Bayu Rahmad Putra, pelaksana program sekaligus kreator AI, saat konferensi pers di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jalan Sei Siguti No. 17A/30, Medan, Rabu (6/5/2026).

Bayu menjelaskan, Zamatra adalah salah satu nama kuno Sumatra selain Taprobana, Percha, Suwarnabhumi. “Kabar tentang pulau ini pertama kali menyebar ke Eropa lewat laporan Megasthenes pada 290 SM. Tapi Claudius Ptolemaeus yang mempopulerkan lewat buku Geographia abad ke-2 Masehi,” paparnya.

Jauh sebelum itu, orang Mesir Kuno sudah mengenal Sumatra lewat kapur barus dari Barus. “Mereka mengawetkan mumi dengan kapur barus. Nabi Sulaiman pernah memburu kapur barus sampai Sumatra. Saat Isa lahir dihadiahi kemenyan. Kata kafura yang merujuk kapur barus pun tertulis di Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 5,” jelas Bayu.

Sumatra Utara memang kaya: Danau Toba dari letusan Super Volcano, 6 gunung api di Tanah Karo, Kerajaan Haru di Pantai Timur, hingga Situs Kota Cina yang pernah disinggahi Panglima Cheng Ho.

1. AI akan mengembalikan yang Hancur dan Hilang

Konferensi pers Zamatra AI Fest #1 di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata (IDN Times/Indah Permata Sari)

Menurutnya, AI bisa mengembalikan kisah dan peristiwa masa lalu, untuk mengembalikan yang sudah hancur dan hilang.

"AI memang bukan nabi, apalagi Tuhan. Ia sebentuk program ciptaan manusia. Tapi hari ini dia mampu memposisikan diri melebihi Nabi. Ini yang bikin orang cemas. Ngeri-ngeri sedap menyaksikan perkembangbiakan AI,” ujarnya.

“Tiba-tiba kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah mati di zaman purba. Melihat migrasi massal orang-orang era digital ke zaman Pithecantropus erectus. Orang khawatir manusia disingkirkan oleh ciptaannya sendiri," kata Bayu menggambarkan.

“Tak perlu lagi bersusah-susah. Semua bisa diselesaikan hanya dengan buka aplikasi dan tekan tombol, lalu tiba-tiba kita kembali ke masa Zamatra,” tambahnya.

2. Zamatra AI Fest #1 lebih dari sekedar pameran

Konferensi pers Zamatra AI Fest #1 di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sementara itu, ZAMATRA AI FEST #1 – Restorasi Hulu Hilir Sumatera Utara adalah pameran yang menghadirkan restorasi kebudayaan Sumut – warisan peradaban ribuan tahun yang membentang dari pesisir dan laut, dataran rendah, hingga pegunungan.

“Dalam pameran ini, teknologi AI dimanfaatkan sebagai metode kerja sekaligus media pengungkapan karya. Membuka ruang bagi pendekatan baru dalam menelusuri kembali jejak budaya leluhur,” kata Bayu.

Lewat kecanggihan AI, Zamatra AI Fest berupaya menghidupkan kembali narasi masa lampau: peristiwa sejarah, lanskap alam, adat istiadat kaya makna, serta ritus-ritus sakral yang mengakar di tanah Zamatra.

“Lebih dari sekadar pameran, ini undangan terbuka bagi generasi muda. Agar mereka tidak hanya menyaksikan warisan budaya, tapi juga merenung, memahami, dan merawatnya sebagai bagian dari jati diri bangsa,” tegasnya.

3. Rangkaian kegiatan ini dari hulu ke hilir kewat tatapan futuristik

Konferensi pers Zamatra AI Fest #1 di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata (IDN Times/Indah Permata Sari)

Adapun beberapa rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan yakni, Keliling Hulu Hilir Sumut, FGD Tim Kerja, Seminar AI, Dialog Lintas Gagasan, Bengkel AI, Panggung AI dan Pameran Karya-Karya AI.

Pameran karya AI akan mengisahkan peradaban Sumatra di masa lalu lewat tatapan futuristik. “Membuktikan AI dapat menyusup dengan leluasa ke era yang tak mungkin bisa kita masuki. Imajinasi kita dibawa ke peradaban artifisial yang dibangun kebudayaan manipulatif,” jelas Bayu.

Bayu menyebut AI diperkenalkan pertama kali di Konferensi Dartmouth College tahun 1956. “50 tahun kemudian di era digital, AI telah menjadi urat nadi kita. Bahkan ia bisa memahami kita lebih baik dari diri kita sendiri,” katanya.

“Kita dibuat tercengang sekaligus bergidik. Seperti pergeseran dari kompor minyak tanah ke kompor gas, dari mesin tik ke laptop. Penggunaan AI mengebiri banyak hal namun saat itu juga memudahkan urusan jutaan manusia,” pungkas Bayu.

“AI dapat berbaku lantun; memantul-mantul dari satu dimensi waktu ke dimensi waktu lainnya," pungkasnya.

Editorial Team