Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kabut Asap Tingkatkan Risiko ISPA pada Anak, Ini Cara Mencegahnya
Ilustrasi Anak penyakit ISPA. (IDN Times/Anjani Asra)
  • Kabut asap mengiritasi saluran napas dan meningkatkan kerentanan ISPA, terutama pada anak karena saluran napas lebih kecil, napas lebih cepat, serta sistem imun belum sekuat orang dewasa.

  • Orang tua dianjurkan membatasi aktivitas luar, menjaga rumah dari asap, menghindari polusi dalam ruangan, memenuhi kebutuhan istirahat dan gizi, serta melengkapi imunisasi anak.

  • Masker N95/KN95 lebih efektif untuk anak besar dan dewasa, sedangkan bayi di bawah dua tahun tidak dianjurkan memakai masker; segera ke dokter bila muncul sesak atau tanda bahaya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
saat kabut asap

Anak lebih rentan mengalami iritasi saluran napas dan ISPA. Orang tua diminta mengurangi paparan asap serta menjaga kualitas udara di rumah.

di bawah usia 2 tahun

Masker tidak dianjurkan untuk bayi dan anak karena berisiko mengganggu pernapasan.

lebih dari 3 hari

Anak perlu diperiksa ke dokter atau IGD bila demam tinggi menetap lebih dari 3 hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kabut asap meningkatkan risiko iritasi saluran napas dan ISPA pada anak, dengan gejala seperti batuk, pilek, sesak, demam, mengi, atau napas cepat.
  • Who?
    Anak-anak, terutama bayi, menjadi kelompok paling rentan; lansia, ibu hamil, serta orang dengan asma atau penyakit paru juga berisiko. Dr. Rizky Adriansyah menyampaikan imbauan pencegahan.
  • Where?
    Di sejumlah wilayah yang diselimuti kabut asap, termasuk lingkungan luar rumah dan rumah yang berpotensi kemasukan asap.
  • When?
    Risiko perlu diwaspadai selama kabut asap terjadi, terutama ketika kualitas udara memburuk.
  • Why?
    Partikel kabut asap dapat mengiritasi saluran napas, membuatnya lebih sensitif, dan menurunkan daya tahan lokal. Anak lebih rentan karena saluran napas kecil, napas cepat, serta sistem imun belum sekuat dewasa.
  • How?
    Kurangi aktivitas luar ruangan, tutup pintu-jendela, hindari polusi dalam rumah, cukupkan minum dan istirahat, serta gunakan N95/KN95 bagi anak besar. Bayi dan anak di bawah dua tahun tidak dianjurkan memakai masker.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kabut asap bisa bikin anak lebih gampang batuk, pilek, dan sesak napas. Dokter Rizky dari IDAI Sumut bilang anak kecil lebih rentan karena napasnya masih kecil dan tubuhnya belum kuat. Sekarang orang tua diminta menjaga anak di rumah, menutup jendela, dan membawa anak ke dokter jika sesak atau sangat lemas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah risiko kabut asap, orang tua memiliki langkah-langkah jelas untuk melindungi anak, mulai dari membatasi paparan di luar rumah hingga menjaga udara dan kebiasaan sehat di dalam rumah. Panduan mengenai masker, gejala awal, serta tanda bahaya juga membantu keluarga merespons kondisi anak secara lebih tepat dan waspada.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah dapat meningkatkan risiko gangguan saluran napas, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Utara, Dr. Rizky Adriansyah, menjelaskan bahwa kabut asap tidak selalu langsung menyebabkan infeksi, tetapi dapat membuat saluran napas lebih sensitif dan daya tahan lokal menurun.

"Kabut asap dapat mengiritasi saluran napas, terutama pada anak-anak, bayi, lansia, ibu hamil, dan orang dengan asma atau penyakit paru," ujar Dr. Rizky.

Menurutnya, anak-anak menjadi kelompok paling rentan. Saluran napas yang lebih kecil, frekuensi napas yang lebih cepat, dan sistem imun yang belum sekuat orang dewasa membuat anak lebih mudah batuk, pilek, sesak, atau penyakit napas yang sudah ada seperti asma menjadi kambuh.

1. Cara menghindari ISPA saat kabut asap

ilustrasi ISPA pada anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dr. Rizky membagikan sejumlah langkah pencegahan yang bisa dilakukan orang tua:

1. Kurangi aktivitas di luar rumah, terutama saat kualitas udara sedang buruk.

2. Tutup jendela dan pintu agar asap tidak masuk ke dalam rumah.

3. Jika memungkinkan, gunakan air purifier dengan filter HEPA di ruangan anak.

4. Hindari aktivitas fisik berat di luar rumah karena membuat anak menghirup lebih banyak partikel asap.

5. Jangan menambah polusi di dalam rumah, seperti asap rokok, bakar sampah, obat nyamuk bakar, atau memasak tanpa ventilasi yang baik.

6. Pastikan anak cukup minum, makan bergizi, dan tidur cukup.

7. Biasakan cuci tangan karena ISPA juga sering disebabkan virus yang menular lewat tangan dan droplet.

8. Lengkapi imunisasi anak sesuai usia. Pada kondisi tertentu, vaksin influenza atau pneumokokus juga dapat dipertimbangkan sesuai anjuran dokter.

2. Aturan penggunaan masker

ilustrasi seseorang terkena ISPA (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Untuk orang dewasa dan anak yang lebih besar, masker N95/KN95 yang pas di wajah lebih efektif menyaring partikel asap. Masker bedah atau masker kain kurang efektif untuk partikel halus kabut asap, tetapi masih dapat membantu mengurangi paparan droplet.

"Pada bayi dan anak di bawah usia 2 tahun, masker tidak dianjurkan karena berisiko mengganggu pernapasan. Bila anak tampak tidak nyaman, sesak, atau sulit bernapas saat memakai masker, segera lepas dan bawa ke tempat dengan udara lebih bersih," jelasnya.

3. Kenali ciri-ciri ISPA

Ilustrasi anak menderita ISPA. ANTARA FOTO/FB Anggoro

Orang tua diminta mengenali gejala awal ISPA, seperti batuk, pilek, hidung tersumbat, bersin, demam, nyeri tenggorokan, suara serak, anak tampak lemas, rewel, atau nafsu makan menurun.

Pada sebagian anak bisa muncul napas berbunyi atau mengi, napas cepat, atau sesak. Pada bayi, tandanya bisa lebih halus, seperti malas menyusu, tampak lemas, rewel terus, atau napas terlihat berat.

Dr. Rizky menegaskan, segera periksa ke dokter atau IGD bila ada tanda bahaya:

- Anak sesak napas atau napas sangat cepat.

- Tampak tarikan dinding dada, cuping hidung kembang-kempis, atau anak sulit bicara atau menangis karena sesak.

- Bibir atau ujung jari tampak kebiruan.

- Demam tinggi menetap lebih dari 3 hari.

- Anak sangat lemas, mengantuk terus, kejang, atau sulit dibangunkan.

- Bayi malas minum atau menyusu, muntah terus, atau tanda dehidrasi seperti jarang buang air kecil.

- Batuk makin berat, mengi, atau anak punya riwayat asma, penyakit jantung, atau penyakit paru.

"Intinya, saat kabut asap, yang paling penting adalah mengurangi paparan asap, menjaga kualitas udara di dalam rumah, menjaga daya tahan tubuh, dan segera mencari pertolongan bila anak mulai menunjukkan tanda sesak atau tampak memburuk," pungkas Dr. Rizky Adriansyah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article