Pria Suku Laut Pulau Gara, Kota Batam, saat akan melakukan aktivitas di laut (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)
Malam turun pelan di perairan Bintan. Di atas geladak perahu kayu yang terombang halus, pria keturunan ketiga Suku Laut Kawal Laut, Jembol, menengadahkan kepala ke langit. Dahulu, rasi bintang adalah kompas. Angin menjadi penunjuk arah. Laut, bagi Suku Laut, dapat dibaca seperti kitab terbuka. Namun malam itu, tanda-tanda langit tampak samar—dan, menurut Jembol, tak lagi sepenuhnya bisa dipercaya.
“Kami diajari membaca laut sejak kecil,” katanya. “Bapak saya bilang, ikuti angin dari rasi bintang. Tapi sekarang angin barat baru sebentar, tiba-tiba timur datang lebih cepat. Kalau salah hitung, kami pulang rugi.”
Apa yang dialami Jembol bukan peristiwa tunggal. Di banyak pesisir Kepulauan Riau, laut sedang berubah—perlahan, tetapi pasti. Perubahan iklim global yang selama ini dibicarakan dalam angka, grafik, dan target emisi kini menjelma menjadi pengalaman sehari-hari masyarakat yang hidupnya sepenuhnya bergantung pada keteraturan alam.
Ironisnya, perubahan ini terjadi di saat Kepulauan Riau diproyeksikan sebagai salah satu pusat energi masa depan Indonesia. Pulau-pulau di sekitarnya dipenuhi rencana pembangunan pembangkit, kawasan industri, dan infrastruktur energi skala besar—sebagian masih bertumpu pada batu bara. Di tengah janji transisi energi, model pembangunan berbasis energi fosil justru memperpanjang sumber emisi yang mempercepat krisis iklim. Dampaknya merambat jauh, hingga ke laut tempat Jembol membaca angin dan bintang.
Secara ilmiah, perubahan iklim merupakan akumulasi gas rumah kaca—karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, yang dilepaskan dari pembangkit listrik tenaga uap, industri berat, dan transportasi. Gas-gas ini bertahan lama di atmosfer, bergerak lintas wilayah, dan mengganggu sistem bumi secara menyeluruh. Ironisnya, masyarakat pesisir seperti Suku Laut, yang nyaris tak menyumbang emisi, justru berada di garis depan dampaknya.
Wilayah pesisir Kepulauan Riau kini menjadi ruang pertemuan ketimpangan itu. Kenaikan suhu permukaan laut, perubahan pola angin musiman, dan cuaca ekstrem mengacaukan ritme alam yang selama ratusan tahun menjadi dasar pengetahuan hidup masyarakat pesisir. Bagi komunitas seperti Suku Laut dan Suku Bajau, perubahan kecil saja dapat berujung pada kerentanan ekonomi dan hilangnya pengetahuan lintas generasi.
Suku Laut lainnya di Pulau Gara, Kota Batam, Ahad (50), merasakan perubahan serupa. Sejak kecil, ia diajari ayahnya membaca arus belok—arus khas yang menandai berkumpulnya ikan pelagis. Pengetahuan itu dulu menjadi jaminan hidup.
“Biasanya kalau arus belok muncul, ikan banyak,” kata Ahad. “Sekarang arus itu seperti tersesat.”
Tradisi perikanan yang dahulu terikat pada penanggalan alam perlahan memudar. Pengetahuan tentang tandak, kebiasaan ikan muncul pada bulan-bulan tertentu—tak lagi bisa diandalkan.
“Dulu bulan gelap pasti penuh ikan. Sekarang, bulan gelap pun belum tentu ada apa-apa,” ujarnya.
Musim angin utara yang lazim datang pada akhir tahun kini sering meleset. Kadang terlalu cepat, kadang terlalu kuat. Bagi perahu kecil tanpa mesin besar, kesalahan membaca musim berarti risiko kehilangan modal, bahkan nyawa. Tak sedikit anak muda Pulau Gara memilih meninggalkan laut dan bekerja di darat. Ahad khawatir, suatu hari nanti tak ada lagi yang tahu cara membaca arus.
Bagi Ahad, perubahan laut bukan semata soal cuaca. Ini soal ruang hidup. Sejak kecil ia tinggal di perahu, berpindah mengikuti musim dan ikan. Kini ia merasa asing di lautnya sendiri. “Kami bukan pindah rumah,” katanya. “Rumah kami yang hilang.”
Cerita Jembol dan Ahad berdiri di tempat berbeda, tetapi bertemu pada satu simpul: pengetahuan ekologis yang menjadi identitas Suku Laut selama ratusan tahun kian sulit diterapkan. Laut yang dulu dapat diprediksi kini dipenuhi ketidakpastian—dipengaruhi oleh krisis iklim global yang diperparah oleh pilihan-pilihan energi dan arah pembangunan di wilayah pesisir.
Industrialisasi dan pembangunan infrastruktur energi di Kepulauan Riau menambah tekanan tersebut. Aktivitas reklamasi, lalu lintas kapal industri, dan degradasi terumbu karang berkelindan dengan peningkatan suhu laut dan perubahan pola angin. Tekanan ekologis datang dari dua arah sekaligus: dari emisi global yang dilepaskan pembangkit dan industri, serta dari perubahan bentang pesisir yang menggerus ruang hidup masyarakat laut.
Perempuan Suku Laut sedang mencari ikan di pesisir Bintan Timur dengan pemandangan kawasan industri di PSN Galang Batang (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)
Apa yang dialami Jembol dan Ahad bukan sekadar nostalgia atas laut yang berubah. Data ilmiah turut mengonfirmasi kegelisahan itu. Pola cuaca di Pulau Bintan tidak lagi sepenuhnya mengikuti irama lama. Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa perubahan iklim global kini tercermin jelas dalam dinamika suhu dan curah hujan di wilayah ini—sebuah perubahan yang perlahan, tetapi berdampak langsung bagi ekosistem dan masyarakat pesisir.
Berdasarkan data klimatologis BMKG, rata-rata curah hujan bulanan di Kecamatan Bintan Pesisir memperlihatkan pola musiman yang relatif konsisten, tetapi dengan kecenderungan fluktuasi yang makin tajam. Curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada November hingga Desember, dengan puncak mencapai sekitar 360 milimeter per bulan pada Desember. Sebaliknya, curah hujan terendah tercatat pada Februari, berkisar 132 milimeter per bulan, yang menandai periode kemarau utama di wilayah ini.
Namun, pola historis tersebut mulai menunjukkan pergeseran. Dalam prediksi curah hujan enam bulan ke depan, periode Februari hingga Juli 2026—BMKG memproyeksikan Februari sebagai bulan dengan curah hujan di bawah normal, yakni sekitar 86 milimeter per bulan. Setelah itu, curah hujan diperkirakan kembali berada pada kisaran normal, dengan nilai berturut-turut 190 mm pada Maret, meningkat hingga 274–281 mm pada April dan Mei, sebelum menurun kembali ke sekitar 184 mm pada Juni dan Juli.
Perubahan pola hujan ini berlangsung seiring dengan tren pemanasan yang konsisten. Peta BMKG mengenai laju perubahan suhu udara maksimum tahunan periode 1981–2024 menunjukkan bahwa Pulau Bintan mengalami kenaikan suhu maksimum tahunan yang tergolong moderat hingga tinggi. Selama 44 tahun terakhir, suhu maksimum tahunan meningkat antara 0 hingga 1,5 derajat Celsius.
Kenaikan ini menandakan bahwa hari-hari dengan suhu sangat panas berpotensi menjadi lebih sering dan lebih intens. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam bentuk ketidaknyamanan, tetapi juga tekanan nyata pada sektor pariwisata, kesehatan masyarakat akibat heat stress, serta perubahan pola hujan dan kelembapan yang memengaruhi pertanian dan keseimbangan ekosistem lokal.
BMKG juga mencatat dinamika yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Selain tren kenaikan suhu maksimum, total curah hujan tahunan di Pulau Bintan menunjukkan kecenderungan menurun. Pada saat yang sama, intensitas hujan ekstrem—hujan sangat lebat dalam waktu singkat justru semakin jarang terjadi. Kombinasi ini menciptakan kondisi iklim yang kering lebih lama, tetapi tanpa “imbalan” hujan deras yang biasanya mengisi kembali cadangan air tanah.
Menurut Sistanto dari pusat layanan dan informasi iklim terapan BMKG, kondisi tersebut membawa implikasi serius bagi wilayah kepulauan seperti Bintan. “Pemanasan suhu, berkurangnya curah hujan tahunan, dan menurunnya frekuensi hujan ekstrem meningkatkan risiko kekeringan dan penurunan ketersediaan air,” ujarnya, 7 Februari 2026. Dampak lanjutan, kata dia, akan dirasakan pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, serta ekosistem pesisir yang sensitif terhadap perubahan suhu dan salinitas.
Sistanto menekankan bahwa data klimatologis ini seharusnya menjadi dasar bagi perencanaan adaptasi iklim di Kepulauan Riau. Pengelolaan sumber daya air, perlindungan wilayah tangkapan hujan, serta penyesuaian pola hidup dan mata pencaharian masyarakat menjadi semakin mendesak.
“Perubahan iklim di Bintan bukan lagi proyeksi jangka jauh. Ini sudah terjadi dan perlu direspons dengan kebijakan adaptif yang berbasis data,” tutupnya.