Kegiatan yang mengusung tema Cultural Nuances itu digelar di Gedung Pascasarjana USK, Kota Banda Aceh, dan berlangsung pada 7-10 Oktober 2026.
USK Pamerkan Lukisan Karya 14 Seniman Lokal dan Internasional

- USK menggelar Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 bertema Cultural Nuances di Gedung Pascasarjana, Banda Aceh, pada 7-10 Oktober 2026.
- Pameran hasil kolaborasi Sanggar Seni Rupa Trimatra dan USK ini melibatkan 30 seniman dari 14 negara, serta sejumlah daerah Indonesia termasuk Aceh, Papua Selatan, Kalimantan Timur, dan Sumatera Barat.
- Kegiatan menjadi ruang dialog lintas budaya untuk memamerkan karya, bertukar gagasan dan pengalaman, membangun jejaring, serta memperkenalkan seni dan budaya Aceh kepada masyarakat internasional.
Take a Deeper Reads

Banda Aceh, IDN Times - Universitas Syiah Kuala (USK) memamerkan lukisan dan karya seni hasil para seniman lokal maupun mancanegara dalam Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026. Karya seniman internasional asal Hong Kong, Eddie Lui dan Winnie Mak, turut dipamerkan dalam kegiatan tersebut.
1. Libatkan seniman dari 14 negara

Pameran lukisan dari pelukis lokal dan internasional di Universitas Syiah Kuala (USK), Kota Banda Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah) Kepala Global Engagement Office (GEO) USK, Syamsidik, mengatakan pameran tersebut menjadi wadah pertemuan dan pertukaran gagasan antarseniman melalui karya seni.
“Melibatkan 30 seniman dari berbagai negara dan daerah Indonesia,” kata Syamsidik kepada IDN Times, Rabu (7/10/2026).
Dia menyampaikan Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 digelar sebagai ruang dialog lintas budaya melalui seni. Kegiatan tersebut juga merupakan kelanjutan dari kolaborasi seni internasional yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya.
Pameran ini diselenggarakan Sanggar Seni Rupa Trimatra bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala melalui Global Engagement Office (GEO).
Sebanyak 14 negara terlibat dalam kegiatan tersebut, yakni Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Jepang, India, Pakistan, Sri Lanka, China, Myanmar, Tajikistan, Prancis, dan Indonesia.
Selain seniman dari luar negeri, pameran juga melibatkan seniman dari sejumlah daerah di Indonesia, di antaranya Aceh, Papua Selatan, Kalimantan Timur, dan Sumatera Barat.
2. Jadi ruang pertukaran gagasan lintas budaya

Pameran lukisan dari pelukis lokal dan internasional di Universitas Syiah Kuala (USK), Kota Banda Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah) Syamsidik mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang memamerkan karya seni, tetapi juga membangun jejaring dan kolaborasi seni lintas negara.
Melalui pameran tersebut, para seniman dan pengunjung dapat bertukar pengetahuan, gagasan, pengalaman, serta perspektif mengenai kebudayaan masing-masing.
Kegiatan itu juga diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Aceh kepada masyarakat internasional.
“Selain memperkuat hubungan antarbudaya, serta menjadikan seni sebagai media untuk membangun pemahaman, persahabatan, dan kerja sama yang lebih luas,” ujar Syamsidik.
Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 berlangsung hingga 10 Oktober 2026 di Gedung Pascasarjana USK, Kota Banda Aceh.
3. Karya seniman Hong Kong hingga Prancis dipamerkan

Pameran lukisan dari pelukis lokal dan internasional di Universitas Syiah Kuala (USK), Kota Banda Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah) Pantauan IDN Times, sejumlah seniman dari Indonesia turut memamerkan karyanya dalam kegiatan tersebut. Mereka di antaranya Kamaruzzaman, Aliffiah Ria F, Tanzil Muda, Abu Jalal S, Surya Darma, Anni Khololah, M Yasir, Said Wahyu, Tuah Tharaya S, Thomas Y, dan Rusli Djuned.
Kemudian ada Dharmawan BU, Restu Wardhana, Hamdi Afkar, Sulaiman Bakri, Selsius D, Hatmi Negria, Edi Asnawi, serta Ibrahim.
Dari Filipina terdapat Richard Buxani, Grandjoy Agdigos, dan Mylene Quito. Sementara dari Singapura ada Muddmitaq, Art Reev, Vivien Lee, dan Riduan.
Dari Thailand terdapat Sainab H dan Amiron Yunu. Kemudian dari Sri Lanka ada Paradeep dan P Don Amila.
Malaysia diwakili Burhanuddin dan Fai Zakaria. Sementara dari Brunei Darussalam terdapat Pengiran Wahab dan dari Myanmar ada Min Yin Thant.
Seniman asal Hong Kong, Eddie Lui dan Winnie Mak, juga turut meramaikan pameran tersebut. Selain itu, terdapat Eva Bonnavile dari Prancis dan Sanae Yamada dari Jepang.























