Mandailing Natal, IDN Times - Rumah semi permanen berdinding kayu bercat warna oranye di Desa Alahan Kae, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal kelihatan biasa saja. Seperti rumah-rumah lain di desa ini, usianya sudah tua, jendela kaca khas zaman dulu.
Yang membedakan rumah ini dengan lainnya adalah isinya. Rumah berukuran 8x20 meter ini dipenuhi biji kopi, alat roasting, timbangan, mesin pembungkus kopi, alat peracik kopi, dan lemari berisi produk kopi bertuliskan Banamon.
Ini adalah rumah Safruddin Lubis alias Ucok Godang sekaligus kantor Koperasi Serba Usaha Kopi Mandailing Jaya (KSU Komanja). Desa ini berada di pinggiran Hutan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) Mandailing Natal. Jaraknya sekitar 520 kilometer dari Kota Medan atau 12 jam perjalanan darat menggunakan mobil. Sedangkan dari ibu kota kabupaten, Panyabungan sekitar 80 kilometer.
Meski di pedalaman, koperasi ini memproduksi hingga 5 ton biji kopi per bulan dengan omset mencapai Rp500 juta per bulan. Untuk segala macam transaksi jual beli, Ucok hanya cukup menggunakan aplikasi BRImo dari rumahnya.
“Petani-petani kopi yang dulunya hanya menerima transaksi tunai kita edukasi untuk buka rekening dan pakai aplikasi. Sekarang lebih mudah, setiap kami beli kopi dari petani, bayarnya transfer saja, petani pun senang karena uangnya aman gak perlu khawatir saat pulang ke rumah,” katanya.
Pria berbadan jangkung ini adalah Ketua Dewan Pengawas KSU Komanja dan salah satu pendiri koperasi ini juga. Ia juga memiliki kedai kopi Kopinta yang menyajikan citarasa kopi Khas Mandailing.
Menurutnya, koperasi yang dulunya jatuh bangun, kini sukses memproduksi Kopi Khas Mandailing dengan nama Kopi Banamon yang artinya “Inilah yang Sebenarnya”. Kini pelanggan Banamon berasal dari berbagai kota di Indonesia bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia.
“Untuk penjualan kita hanya lewat sosial media dan e-commerce, Alhamdulillah pelanggan dari mana-mana datang dan transaksi cukup transfer aja,” ungkapnya.
Ia bercerita, jauh hari sebelum Komanja berdiri, Kopi Mandailing sudah terkenal di pasar ekspor dunia. Sejak zaman Belanda dulu, sudah ada kebun kopi di Mandailing Natal (dulu masih tergabung dalam Kabupaten Tapanuli Selatan). Belanda lah yang memperkenalkan kopi Mandailing ke pasar dunia.
Namun belakangan, popularitasnya redup. Ucok curiga, kopi-kopi Mandailing yang diekspor pada era 2000-an bukanlah asli kopi dari Mandailing. Karena petani kopi di Mandailing kala itu sangat minim dan kurang terdidik.
Lalu 2015 digagaslah pendirian koperasi kopi. Diinisiasi tiga kelompok tani di Kecamatan Ulu Pungkut. "Awal mulanya petani ragu-ragu, karena belum pernah ada koperasi di kecamatan ini," ungkap pria 47 tahun ini.
Dengan berbagai upaya meyakinkan para petani, akhirnya Koperasi Serba Usaha Kopi Mandiling Jaya berdiri. Edukasi, kampanye, pemberdayaan petani terus dilakukan.
Tujuan koperasi adalah menampung kopi dari petani, mengedukasi petani tentang cara menanam kopi yang baik, cara memanen yang benar, serta meningkatkan kesejahteraan petani kopi dengan cara membeli kopi dengan harga yang tinggi berdasarkan kualitas kopi.
Tujuan lain, agar para petani yang sebagian besar tinggal di perbatasan atau Kawasan penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) tidak merusak dan menjaga kelestarian hutan. Pasalnya tanaman kopi membutuhkan pohon teduhan agar kualitasnya lebih baik.
Perlahan masyarakat mulai teredukasi, hasil panen meningkat, kualitas makin baik dan harga kopi makin tinggi. Akhirnya para tauke atau tengkulak kopi tak bisa lagi menetapkan harga semena-mena. Literasi keuangan petani pun meningkat, karena mulai membuka rekening dan transaksi ke koperasi pakai system transfer saja.
"Dulu harga biji kopi dibeli tengkulak hanya Rp8 ribu per kilogram. Lalu kita pernah naikkan harga hingga Rp35 ribu per kilogram sebelum pandemik. Kalau saat ini berkisar Rp20-25 ribu," jelasnya.
Perlahan, kepercayaan masyarakat terhadap koperasi semakin meningkat. Anggota koperasi semakin banyak dan kualitas biji kopi yang dihasilkan juga semakin bagus.
Tidak mau hanya jadi penjual biji kopi, KSU Komanja kemudian belajar me-roasting kopi, membuat kemasan yang bagus dan beraneka macam kemasan, dan menjual bubuk kopi.
Dengan cara ini, tambah Ucok, masyarakat luas jadi tahu seperti apa rasa aslinya kopi Mandailing.
Andi Hakim Matondang, Ketua KSU Komanja bercerita, saat baru dibentuk, koperasi beranggotakan 46 orang. Namun, karena dinamika yang terjadi di internal koperasi, anggotanya berkurang. Saat ini tersisa 38 orang.
“Mereka itu kita keluarkan karena kita anggap merusak citra produk kita di pasaran. Karena sampai saat ini pasar yang kita andalkan kan cuma media sosial. Ketika mereka melakukan pencitraan yang jelek terhadap produk kita melalui media sosialnya, kita tanya, kita klarifikasi itu tidak mau. Ya sudah kita keluarkan, hak-haknya semua telah kita kembalikan,” tegas pria yang akrab disapa Andi.
Anggota yang saat ini bertahan, rata-rata memiliki kebun kopi. Total luasannya sekitar 30 hektare.
Pun begitu, pantang bagi Andi untuk berpatah arang. Dia tetap menjalankan silaturahmi dengan para anggota koperasi. Mencoba mendongkrak semangat dan meyakinkan jika mimpi-mimpi Komanja bisa diwujudkan.
Di umurnya yang baru beranjak lima tahun, Komanja kini masih bertahan. Bahkan kian berkembang. Kuncinya pada konsistensi dalam merawat keberlangsungan koperasi.
Jujur, Andi belum bisa berharap banyak dengan Komanja. Bahkan, dalam tahapan ini, tidak jarang para pengurus merogoh kocek pribadi.
“Kita berharap semua keuntungan itu kita jadikan aset dulu agar koperasi tambah besar. Kita bertahan sampai hari ini karena kita menjaga komitmen di awal dan kita menjalani ini dengan ikhlas. Kita ikhlas, misalnya waktu kita, kita korbankan untuk menjalankan koperasi. bahkan terkadang harus keluar dari kantong pribadi agar tidak merusak keuangan di koperasi,” bebernya.
Memang selama lima tahun ini, Komanja masih berkutat pada pengembangan aset. Pembangunan infrastruktur dan peningkatan SDM di internal.
Perlahan tapi pasti, koperasi kian berkembang, asetnya bertambah saban tahun. Misalnya, saat ini Komanja baru saja menuntaskan pembangunan tempat penjemuran biji kopi. Mereka juga tengah membangun rumah produksi yang permanen.
“Kita penginnya ada rumah produksi, penjemuran dan kafe. Jadi itu nanti ada di satu hamparan. Sehingga, di sana orang bisa minum kopi sekaligus melihat langsung proses produksi,” imbuhnya.
Saat ini, sebagian besar keuntungan koperasi digeser untuk keperluan pembangunan. Meskipun, memang diakui belum banyak. Para pengurus harus tetap bersabar. Bahkan jika ada yang ingin membantu pengembangan koperasi, mereka tidak ingin diberikan dalam bentuk uang, lebih baik dibangunkan infrastruktur penunjang.
“Kalau untuk modal usaha kami bisa manfaakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI, karena di kabupaten terujung Sumut ini hanya ada BRI,” ungkap Andi.
Dalam lima tahun terakhir, Komanja terus mengembangkan pasarnya. Kopi dari Ulu Pungkut sudah terbang hampir ke seluruh provinsi di Indonesia. Meskipun pasarnya adalah coffee shop. Produk yang dikirim baik berupa green bean, roasted bean dan bubuk. Kopi dari Komanja juga sering dijadikan oleh-oleh khas dari Madina.
Di kawasan Madina, Kopi Banamon sudah punya nama. Sudah dipasarkan ke sebagian besar toko kelontong.
Peningkatan perekonomian dari bertani kopi sangat dirasakan oleh Muslihuddin, warga Desa Alahan Kae, Ulu Pungkut, Mandailing Natal.
Ia mengaku sudah bertani kopi kurang lebih enam tahun, memiliki 300 batang pohon kopi. Sebelum Koperasi Serba Usaha Kopi Mandailing Jaya (KSU Komanja) berdiri, tauke atau penampung menjadi penentu tunggal harga gabah kopi. Kala itu harga gabah hanya dipatok Rp8 ribu-Rp12 ribu per kilogram.
Pelan-pelan keberadaan Komanja dirasakan masyarakat. Harga gabah dipatok Rp15 ribu-18 ribu. Makin tahun, harga makin tinggi, bahkan awal tahun 2020 saat popularitas Kopi Mandailing sedang menanjak, harga gabah mencapai Rp35 ribu per kilogram.
"Mau gak mau tauke terpaksa ikut naikkan harga agar bisa bersaing dengan koperasi. Ini kan menguntungkan masyarakat. Sekarang harga koperasi selalu lebih tinggi Rp2.000-Rp3.000 dengan Tauke," kata lajang 33 tahun ini.
Kesejahteraan petani kopi meningkat tajam. Kesadaran masyarakat yang lain untuk bertani kopi juga tumbuh. Banyak yang beralih dari kebun karet menjadi kebun kopi kala itu.
Namun pasca pandemik, harga kopi anjlok. Karena kafe-kafe terpaksa tutup, permintaan Kopi Mandailing menurun drastis. Saat ini, setelah pandemik setahun lebih melanda Indonesia, harga kopi merangkak naik, berkisar Rp22 ribu-Rp25 ribu.
Selain soal harga, tambah Musli, banyak manfaat lain yang dirasakan para petani kopi di Ulu Pungkut, seperti penyuluhan merawat pohon kopi, memupuk pohon, hingga memanen kopi. Selain itu petani juga lebih senang bertransaksi dengan koperasi karena sistem pembayaran dilakukan secara transfer, sehingga lebih aman.
Regional CEO BRI Medan Aris Hartanto mengatakan aplikasi BRImo memang sudah mengalami beberapa pembaruan dan versi terbaru ini adalah yang terbaik. Bahkan lebih baik dibanding aplikasi perbankan lainnya.
“Tampilannya simple dan mudah sekali digunakan. Kita mau transaksi apa aja sudah bisa dari aplikasi ini.
Menurutnya BRImo makin mempermudah memenuhi kebutuhan finansial dan transaksi dimanapun dan kapanpun, sehingga waktu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan hal lain yang lebih bermanfaat bagi kualitas hidup.
Aplikasi BRImo, tambah Aris, memiliki fitur-fitur yang mudah digunakan. Di antaranya Fast Menu yang merupakan salah satu fitur yang mengutamakan kecepatan dan tentunya keamanan dalam bertransaksi secara harian tanpa harus login.
Selain itu cukup lewat BRImo bisa melakukan Transfer Internasional dan bisa melakukan pembayaran menggunakan QRIS. Gak Cuma transaksi, di BRImo juga memiliki fitur investasi dan asuransi, serta bisa bayar tagihan TV Kabel dan Internet.
“BRImo menawarkan kemudahan melakukan investasi melalui BRImo. Selain itu juga nasabah dapat melakukan pembelian dan bayar premi asuransi di BRImo. Selain itu dengan fitur TV Kabel dan Internet, bisa bayar tagihan berlangganan TV Kabel dan internet praktis, dan makin mudah di BRImo. Walaupun berbeda-beda kebutuhan transaksi, BRImo satu solusinya, dari Sabang sampai Merauke sekarang bisa pakai BRImo,” ungkapnya.
