Tokoh Tionghoa Sumut Indra Wahidin (IDN Times/Eko Agus Herianto)
IDN Times berkesempatan berjumpa dengan dr. Indra Wahidin di kantornya yang berada di Pusat Kota Medan. Nama Indra Wahidin sangat masyhur di Sumut sebagai tokoh Tionghoa sekaligus Ketua organisasi INTI (Perhimpunan Indonesia Tionghoa).
Ia tak urung bercerita pengalaman pahit sebelum reformasi terjadi. Sama seperti kebanyakan etnis Tionghoa lainnya, Pria kelahiran tahun 1951 ini juga terpaksa mengganti namanya dengan nama Nusantara.
"Semua berawal sejak adanya Instruksi Presiden (Inpres) nomor 14 tahun 1967. Jadi yang dilarang itu bukan hanya memakai nama Tionghoa, tapi semua budaya, aksara, pendidikan yang bernuansa Tionghoa itu, semua dilarang. Alasan pemerintah Orde Baru itu ialah dengan memakai istilah asimilasi," kata Indra Wahidin kepada IDN Times, Sabtu (14/2/2026).
Ia sendiri memutuskan mengganti namanya dari In Hoa Huang menjadi Indra Wahidin pada tahun 1970 kala ingin melanjutkan pendidikan ke bangku Universitas. Meski pun begitu, di rumahnya Indra kecil tetap dipanggil In Hoa Huang. Terutama bagi sistem kekerabatan atau tutur masyarakat Tionghoa, nama depan "In" dan marga "Huang" punya kedudukannya tersendiri.
"Jadi, kalau buat pengusaha, (mengganti nama) mungkin agar bisa meng-apply izin. Kalau tidak, pasti bisa mengalami kesulitan, jadi terpaksa harus diganti. Kalau yang tidak perlu izin administratif, ada yang tetap pakai nama Tionghoa. Karena dulu Pak Harto ingin orang Tionghoa itu semua ikut budaya Jawa-nya. Sebenarnya, negara kita itu Bineka Tunggal Ika. Namun bertentangan dengan geopolitik saat itu (Orba). Jika Bung Karno lebih dekat ke Beijing, maka Pak Harto itu lebih dekat ke Washington, USA. Artinya ada pengaruh politik internasional pada saat itu. Kalau saya lihat, sih, nuansanya geopolitik," lanjutnya.