Memang kayu gelondongan sudah mulai bersih
Tapi tidak dengan pemukiman
Kondisi masih luluh lantak
Menjelang lebaran,
Para penyintas hidup dalam ketidakpastian
Lebaran kali ini lebih sunyi
Seperti tidak ada,
Sekumur, Aceh Tamiang 16 Maret 2026
Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari. Di kota – kota lain, pasar – pasar dipenuhi warga. Mencari pakaian baru, membeli kue kering, memilih cat, gorden, hingga perabot baru. Aroma – aroma khas kue kering dari pemanggang di permukiman pun terasa begitu harum. Namun sayang, kondisi ini jauh berbeda di daerah terdampak bencana banjir bandang dan longsor di Aceh.
Sudah 100 hari lebih pascabencana itu, suasana di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, kondisinya seolah tidak lebih baik. Meski gelondongan kayu sudah dibersihkan, masyarakat kini sudah punya listrik kembali, namun mereka masih hidup di dalam ketidakpastian.
Sebanyak 273 kepala keluarga dengan 1.300-an jiwa masih tinggal di tenda-tenda pengungsian ataupun membangun kembali hunian sementara di atas tapak-tapak rumah yang hilang diterjang banjir. Dalam satu malam, banjir menyapu permukiman di sana pada 26 November 2025 lalu.
Kali ini, Lebaran di Sekumur jauh dari kemeriahan seperti tahun-tahun sebelum bahala. Pakaian lebaran, sirop dan kue kering yang biasa tersaji, seperti tinggal cerita. Bagaimana mau memenuhi itu semua, jika untuk menyambung hidup saja para penyintas masih tertatih.
Kebun-kebun yang dulu menjadi mata pencaharian, mayoritas habis diterjang banjir. Pun tersisa, luasnya tinggal sedikit. Jamak dari penyintas di Sekumur, menyambung hidup dari solidaritas para relawan.
“Ini relawan sudah berkurang. Sudah pada pulang. Habis Lebaran, kami tidak tahu lagi,” ujar Nursiah, seorang penyintas di Sekumur, Senin (16/3/2026).
Nursiah tahu betul, siapa saja relawan yang selama ini bersolidaritas di kampungnya. Lantaran, sebagian besar relawan meminta bantuannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi mereka.
Perempuan paruh baya ini tidak memungkiri, selama ini para relawan begitu membantu mereka. Mulai dari membantu kebutuhan logistik sehari-hari, hingga membangun sejumlah fasilitas umum. Bahkan beberapa penyintas bilang, pasca bencana, mereka bergantung hidup dari logistik yang didistribusikan para relawan.
