ilustrasi susu mete (freepik.com/jcomp)
Rizky juga mengkritik asumsi bahwa stunting bisa diselesaikan hanya dengan membagikan susu. Menurutnya, tubuh anak membutuhkan protein hewani utuh yang lebih mudah diserap, seperti telur, ikan, dan daging.
“Telur dan ikan lebih mudah diserap tubuh anak dan kaya omega-3. Daging ayam dan sapi menggerakkan ekonomi peternak kecil di daerah. Kacang-kacangan merupakan sumber protein nabati yang melimpah dan murah,” ujarnya.
Intervensi gizi, lanjutnya, tidak boleh disamakan dengan pembagian sembako. Badan Gizi Nasional (BGN) didesak berani mengambil keputusan tegas dengan mengeluarkan susu formula dari menu wajib MBG.
Penutup pernyataannya menegaskan bahwa esensi program MBG harus dikembalikan pada pangan lokal yang ramah anak dan sesuai kebutuhan gizi.
“Mengembalikan esensi program pada pangan lokal yang ramah anak adalah jalan mewujudkan generasi sehat, bukan generasi yang sekadar kenyang. Tabik.”
Perdebatan ini menambah daftar evaluasi publik terhadap pelaksanaan MBG, yang diharapkan tidak hanya kenyang secara kuantitas, tetapi juga tepat secara nutrisi dan konteks lokal.